“Pemanasan global atau perubahan iklim adalah persoalan yang membuat kontur abad ini tampak lebih dramatik ketimbang abad-abad sebelumnya.“
Oleh Daffa Prangsi Rakisa
Diskursus isu lingkungan saat ini bukan lagi sesuatu yang aneh. Mengingat begitu besar dampak atas perubahan lingkungan yang kita rasakan bersama. Mulai dari suhu yang kian panas memanggang kulit, banjir bandang setiap musim hujan, udara sejuk yang kian menipis, hingga naiknya permukaan air laut karena es di kutub kian mencair.
Gerakan hidup bersama dengan pola hidup yang ramah lingkungan mulai kian digalakkan. Bahkan hampir di seluruh penjuru dunia gerakan ini eksis dan terus berkembang. Sebut saja tokoh yang sangat fenomenal, yaitu Greta Thunberg, seorang gadis pegiat lingkungan asal swedia, yang masih berumur 17 tahun, yang kampanyenya telah membawa dampak secara global, terutama dalam narasi penyelamatan bumi.
Berbagai gerakan yang membawa narasi tentang hidup ramah lingkungan tak terhitung jumlahnya. Akan tetapi, di saat yang sama, ketidakpedulian masyarakat pun tetap ajeg di posisi yang lain. Pengaruh pemahaman yang sangat mendasar bahwa manusia ini pusat kehidupan (antroposentris) dan pemikiran bahwa sumber daya alam disediakan bagi umat manusia ini tak akan pernah habis, setidaknya sampai kita mati. Pemahaman tersebut memiliki pengaruh besar atas tersumbatnya pola pikir kita terhadap kondisi lingkungan hidup saat ini.
Tak melulu soal masyarakat kelas bawah yang tak mengerti soal apa itu global warming, efek rumah kaca atau pencemaran limbah berbahaya. Masyarakat kelas atas yang umumnya menjadi pimpinan besar atau penguasa pun tak luput atas ketidakpeduliannya terhadap lingkungan, bahkan efek dari kebijakan mereka justru jauh lebih merusak lagi.
Dalam pikiran saya, pola pikir semacam ini terus hidup karena kita tidak melihat permasalahan mendasar dalam problematika lingkungan hidup, yaitu usaha pemenuhan kebutuhan manusia dan kepentingan kelestarian lingkungan.
Kedua aspek tersebut rasanya terus saling tarik-menarik satu sama lain, antara manusia dan alam. Jelas kita semua tahu siapa lagi pemenangnya–kalau bukan–manusia. Manusialah yang memiliki akal dan mampu membuat beraneka ragam kebijakan hingga teknologi untuk mengeksploitasi habis-habisan alam ini. Alam tidak bisa melawan banyak, mau dihempaskan banjir bandang sekalipun. Sudah berapa tsunami yang kita hadapi? Sudah berapa letusan gunung merapi yang menggulung sebagian dari kita? Kurang apa banjir yang menghanyutkan rumah kita? Toh, kesadaran kita tetap tidak banyak berubah.
Perenungan atas permasalahan pokok isu lingkungan hidup tersebut mengingatkan saya terhadap suatu anime apik yang pernah saya tonton, yaitu Princess Mononoke (Mononoke Hime). Eits, jangan underestimate gara-gara ini anime dulu, ya. Saya ingin mengambil sudut pandang analisis sederhana dari sini dan akan membicarakan substansinya.
Anime ini dibuat oleh Studio Ghibli, studio anime yang sangat terkenal dengan ciri khas fantasi serta plot unik di dalamnya. Anime yang dibuat oleh Hayako Miyazaki ini berkisah tentang seorang pangeran bernama Ashitaka yang terkena kutukan menjadi seekor babi setan dan melakukan perjalanan untuk menyembuhkan kutukannya itu. Dalam perjalanannya, ia bertemu dengan Putri Momonoke, gadis manusia yang sejak kecil dirawat oleh seekor serigala raksasa. Singkat cerita, di dunia tersebut sedang terjadi konflik antara kubu Madam Eboshi sebagai pimpinan desa manusia dengan kerumunan makhluk hutan dan serigala yang dipimpin oleh Putri Mononoke.
Madam Eboshi memimpin desa yang mana para lelaki dan perempuannya memiliki kedudukan setara dalam peran sosialnya (sebuah plot yang menarik, mengingat Jepang pada masa lalu sangat kental dengan budaya Patriarki). Di desa tersebut, mereka mengeruk berbagai sumber daya alam dan sekaligus mempertahankan diri dari serangan para Samurai desa lain. Sebagai akibat yang ditimbulkan dari aktivitas tersebut, menjadikan ekosistem alam menjadi runtuh dan berbagai makhluk hutan menjadi ganas bahkan memberontak karena kehilangan tempat tinggalnya.
Putri Mononoke, sebagai representasi makhluk hutan, melakukan perlawanan kepada Madam Eboshi. Sehingga terjadilah pertikaian di sana. Yang unik di sini adalah karakter Ashitaka, yang berperan sebagai penengah. Tidak memihak di antara keduanya. Dan ia berusaha melihat dengan mata serta pikiran terbuka bahwa keduanya sedang dihadapkan dengan kepentingan yang sama, yaitu mempertahankan hidup.
Di sini kita bisa melihat isu lingkungan hidup yang sangat kental dan relevan dengan kondisi saat ini, yaitu pemenuhan kebutuhan hidup dan kelestarian lingkungan. Manusia mengeksploitasi sumber daya alam dan keberagaman hayati hingga di titik merusak dan mencemari. Ya, alasannya demi memenuhi kebutuhannya. Saat ini kitapun hidup dalam ketergantungan tersebut, bukan?
Anime ini sangat layak ditonton sebagai refleksi atas kondisi lingkungan dan konflik yang menyertainya. Tanpa memandang kelas sosial dan umur. Sangat menarik dijadikan sebagai bahan oto-kritik dalam menengok realitas lingkungan hidup kita saat ini.
Sebuah pesan penting yang saya petik dari film ini adalah: meski manusia hidup dalam ketergantungan yang sangat tinggi dan dihimpit masalah sistemik akan eksploitasi lingkungan hidup, kita bisa mengambil peran seperti Ashitaka, yang tidak memihak kepada Putri Mononoke sebagai representasi makhluk hutan dan kepada Madam Eboshi sebagai pemimpin manusia. Justru Ashitaka berusaha menjadi pembeda karena ia melihat bahwa baik itu dari kubu manusia dan alam, keduanya sama-sama memiliki kepentingan yang sama soal keberlangsungan kehidupan. Oleh karenanya, meskipun Ashitaka harus menempuh jalan yang sangat sulit, mematikan dan hampir mustahil, ia tidak pasrah dan goyah. Ia tak menyerah atas rasa sayangnya kepada Putri Mononoke sebagai perwakilan hutan dan atas rasa hormat terhadap Madam Eboshi sebagai perwakilan manusia.
Dalam sebuah pidato pada 2015, Presiden Prancis Francois Hollande, sebagaimana ditulis oleh Zulkifli Songyanan di Tirto.id, menyatakan bahwa umat manusia punya misi bersama untuk menjaga dan mewariskan planet ini kepada generasi mendatang. Itu memang bukan wacana baru, tetapi mengulang peringatan bahwa kondisi bumi terancam memburuk lantaran peningkatan emisi karbon dioksida jadi penting sebab tak sedikit yang menganggapnya sepele, bahkan nonsens.
Perjanjian Paris yang dilahirkan Conference of the Party (COP) ke-21 pada Desember 2015 merupakan puncak negosiasi perubahan iklim global yang telah berlangsung selama 20 tahun. Sebanyak 195 negara anggota United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC) menyepakatinya sebagai ganti Protokol Kyoto, yakni kesepakatan bersama untuk menangani perubahan iklim dan menjalankan pembangunan rendah karbon (low carbon development).
Semua usaha yang dilakukan oleh para pemimpin dunia dan seluruh aktivis lingkungan hidup, terasosiasi dalam karakter Ashitaka, dan dapat kita jadikan semangat dan tumpuan bahwa sesulit apapun kondisi saat ini, semengeri apapun kondisi lingkungan kita, selalu ada jalan yang bisa kita usahakan meski dirasa mustahil bahkan terlalu imajinatif bila dipandang sebelah mata.
Bahkan, seorang Donald Trump sebelum menjadi presiden Amerika sempat-sempatnya mengatakan bahwa “Omong kosong pemanasan global yang mahal ini!”. Namun, Barack Obama mengatakan bahwa pemanasan global atau perubahan iklim adalah persoalan yang membuat kontur abad ini tampak lebih dramatik ketimbang abad-abad sebelumnya. Para pengambil keputusan dunia, termasuk di Indonesia, mesti segera berbenah. “Ia bukan masalah yang jauh. Ia ada di sini dan terjadi hari ini,” kata Obama.
Mulai dari inovasi teknologi yang ramah lingkungan, penghematan dan pengelolaan sampah dan limbah, hingga political will yang berpihak kepada lingkungan dapat kita usahakan. Seperti yang tergambar dengan apik di dalam anime Princess Mononoke.
Sumber foto: studioghibli.com.au
