kopi travel blog

jauh berjalan banyak dilihat

Mengenal Diri lewat Seni Menggambar

“Semua garis yang kita gambar adalah produk naluri alami dalam diri.”


Oleh Najmi Laila Elbasyarah

“The key to improving your line art drawing abilities is to just go for it — make no apology for a mis-stroke and put all creative doubts on mute.”

– Jen Dixon

Selama seminggu ini aku merasa, jiwa seniku kembali menggelora. Mungkin memang saatnya aku perlu memulai menikmati hari-hari sunyi yang tersisa sebelum bulan depan kembali sibuk dengan tumpukan makalah di kampusku yang baru.

Mungkin juga sebetulnya ia muncul karena rangsangan kuat dari tulisan-tulisan Senandika Bung A. S. Kartik Salokatama di KTB 7.15. Tulisannya yang terkesan santai namun memiliki makna yang begitu dalam. Seakan membawaku kepada dimensi lain yang lebih abstrak. Menciptakan pola-pola tersendiri di atas kepalaku. Perlahan aku dibawa masuk ke dalam sketsa-sketsa menawan yang semakin ke sini semakin masuk ke alam bawah sadarku.

Semakin kuberusaha berhenti memahami maknanya, semakin kuat rangkaian katanya menarik tanganku agar bereksplorasi dengan pena-pena usang di ujung meja belajarku. Sudah lama sekali aku hiatus menggambar dan melukis. Hingga akhirnya kuputuskan menuruti gejolak-gejolak rindu itu.

Pada saat yang sama, aku dibuat penasaran oleh salah satu metode menggambar yang menurutku sangat unik dan natural. Sepertinya ini adalah saat yang tepat untuk mempelajarinya.

Mari kuperkenalkan terlebih dahulu kawan baruku: Line Art.

Dari namanya saja mungkin kalian sudah bisa menebak bagaimana seni yang satu ini bekerja. Ya, Line Art adalah seni menggambar dengan padanan garis. Line Art atau Seni garis ini sebenarnya sudah ada sejak 75.000 tahun lalu. Gambar garis pertama yang diketahui dibuat oleh manusia yang ditemukan di atas serpihan batu di Afrika Selatan dan diperkirakan berusia 73.000 tahun lebih. Yang kemudian seni garis ini terus berevolusi secara signifikan dengan eksistensi maha karya Henri Matisse, Pablo Picasso, dan Leonardo da Vinci.

Selain itu, ada Keith Haring yang merupakan salah satu seniman garis tersohor di dunia modern pada tahun 80-an dengan mural-mural kapurnya yang khas menghiasi dinding kereta bawah tanah New York City dan ruang publik lainnya.

Dari beberapa situs seni menggambar yang kutelusuri, ada banyak sekali metode yang dipelajari dalam Line Art. Dua di antaranya–yang paling banyak mencuri perhatianku, yaitu: Continuous Contour Drawing dan Blind Contour Drawing. Metode kontur ini dipopulerkan oleh Kimon Nicolaïdes dalam buku pengantar mengajar seninya The Natural Way to Draw (1941).

Keduanya sama-sama merupakan cabang teknik menggambar kontur, di mana seniman membuat sketsa dengan menciptakan garis-garis besar pembentuk dasar sebuah obyek. Perbedaannya, dalam Continuous Contour kita diperbolehkan melihat kertas atau media gambar yang digunakan, tetapi tidak boleh sekali pun mengangkat mata pena dan tetap membuat sketsa dengan satu garis tanpa putus. Demikian teknik ini kemudian hari dikenal dengan sebutan: One Line Art.

Sedangkan Blind Contour adalah kebalikan dari Continuous Contour. Kita tidak boleh melihat media gambar, tetapi boleh mengangkat mata pena dan membuat garis kontur baru. Memang awalnya terlihat seperti banyak aturan dalam metode Line Art ini. But trust me, you’ll find the new joy of art there.

Nantinya kita akan disuguhkan dengan hasil akhir gambar yang artsy dan spontan. Semua garis yang kita gambar adalah produk naluri alami dalam diri. Membuat siapapun yang mempraktikkannya mampu mengekspresikan seni dengan mudah. Alih-alih terlalu memikirkan hasil akhir yang sempurna, latihan menggambar kontur ini lebih kepada mengajak bahkan memaksa kita untuk percaya pada diri sendiri.

Kurasa dua praktik menggambar ini patut dicoba oleh semua orang, bahkan yang merasa bahwa dirinya tidak berbakat sekalipun. Karena teknik sama sekali tidak menitikberatkan pada keahlian menggambar, namun justru mengasah keserasian otak kanan terhadap dua panca indra kita: mata dan tangan. Metode ini juga bisa menjadi sebuah bentuk meditasi diri dan relaksasi. Melatih kita untuk menuangkan seluruh imajinasi dan menerima kemampuan terbaik yang telah lama terpendam di dalam diri kita.

Aku merasakan kepuasan tersendiri ketika berhasil mengakhiri garis-garis kontur yang kubuat. Ketika pertama kali mencobanya memang agak terasa rumit dan hasilnya terlihat berantakan. Tapi, jangan minder dan ragu dulu, ya. Namanya mencoba, pasti tidak selalu menuai hasil yang sempurna.

“Kok jelek banget ya gambar gue?”, “Aduh, kok gak kayak orang-orang ya gambar gue?”, “kok”, “kok”, kok”.

Jangan dulu menyerah. Tenang, mereka yang sudah bisa, atau mereka yang menurutmu memiliki hasil yang sempurna, juga adalah orang-orang yang pernah berada di posisimu. Teruslah mencoba, maka kau akan terbiasa. Dengan terbiasa, maka kau akan bisa.

Percayalah, jangan berhenti. Petualangan kita justru baru saja akan dimulai. Cobalah menggambar wajah idolamu dengan teknik Continuous Contour. Awali dengan membentuk alis dan kelopak mata, kemudian turun ke hidung, dan perlahan membentuk lekuk bibir. Berusahalah meyakini diri sendiri bahwa kau mampu menyelesaikan garisnya tanpa putus. Sesekali perhatikan lekuk rahang dan pipi. Hadirkan pola apa saja yang ada di dalam imajinasi. Setelahnya kau akan dapati idolamu tak seindah paras aslinya di foto studio yang pernah berseliweran di media sosialnya. Tapi kamu tetap mengaguminya, bagaimanapun bentuknya.

Kita juga bisa mencoba teknik Blind Contour dengan menatap pantulan wajah kita pada cermin. Berusahalah untuk tidak melirik ke arah kertas. Perkirakan garis kontur yang pas. Percayakan tanganmu bisa melakukan yang terbaik. Seusainya nanti, kamu akan melihat mata, hidung, dan mulutmu tidak proporsional dengan wajah serta rambutmu. Kemudian kamu akan tertawa melihat betapa buruknya rupamu di dalam sana. Tapi kamu menyadari, betapa hebat kemampuanmu yang bisa melakukannya sejauh ini. Kamu mulai menerima dirimu dengan besar hati dan percaya bahwa dirimu bisa melewati rintangan-rintangan rumit sekalipun.

Betapa menyenangkannya bisa mengenal baik diri sendiri lewat garis-garis konyol yang kita ciptakan. Perlahan tapi pasti, tiap hari hasil gambarku kian berkembang. Mulai dari kontur telapak tanganku yang terlihat lebih menyeramkan dari Hulk, sampai akhirnya menyelesaikan sketsa Diana, Princess of Wales dan Shawn Mendes.

Begitulah seni bekerja. Ia punya tempat tersendiri di dalam diri kita. Sesuai pengalaman subyektif dan sejauh mana kita dapat mempelajari dan mencintainya.

Sungguh kawan, kalau kau terlalu malas mengambil pena dan kertas, setidaknya sekali ini saja kau mencobanya dalam hidupmu. Aku janji kau tak akan menyesal telah melakukan hal menarik ini. Pinkie Promise!


Foto: Dok. Najmi Laila Elbasyarah

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai