“Namun, seringkali, proses menulis itu begitu menyakitkan.”
Oleh Herman Attaqi
Pikiran sumuk dan hidup tanpa daya kreativitas selama masa karantina ini, menyebabkan saya membaca lebih banyak dibandingkan pada masa-masa sebelum karantina. Setelah dengan susah payah menyelesaikan absurditas Kurt Vonnegut’s dalam buku “Cat’s Cradle,” saya mencoba mencari buku yang lebih santai, yang bisa menginspirasi sembari menentramkan pikiran.
Buku “What I Talk About When I Talk About Running” karya Haruki Murakami adalah buku pertama dari novelis terkenal Jepang itu yang saya baca. Meskipun sebagian besar pembaca Murakami, barangkali, lebih suka memulai membaca dari novel-novel terkenalnya, seperti “Norwegian Wood” atau “After Dark”, saya, sebagai seorang yang hobi berlari, berpikir bahwa membaca buku setebal 175 halaman ini adalah cara paling praktis untuk mengenal dunia sang Penulis.
Saya kira, saya keliru — dan ini sungguh mengejutkan. Dengan gaya menulisnya yang sederhana dan tidak rumit, serta dikombinasikan dengan gaya bertutur yang bersahaja tentang kisah “berlari”-nya, berhasil memaksa saya untuk mengintrospeksi kembali motivasi personal saya dalam melakoni aktivitas berlari. Cara Murakami memparalelkan antara aktivitas menulis dengan rutinitas berlarinya, mengajarkan saya tentang betapa pentingnya melakukan kebiasaan–dengan berbagai jenis–olahraga, yang bermanfaat sebagai sumber kreativitas menulis. Kejujurannya dalam menulis, dan pandangan filosofis Murakami terasa menyegarkan dan menginspirasi. Membaca kisah dan pengalaman hidupnya itu, membawa saya merenung tentang pentingnya menanam kebiasaan hidup sehat di dalam menumbuhkan kreativitas.
Pada pekan-pekan pertama masa karantina, saya lebih banyak santai sembari bermalas-malasan, menikmati kekosongan waktu tanpa kesibukan rutin kuliah. Saya mencoba untuk tidak terlalu ambil pusing dengan situasi pandemi yang mengkhawatirkan ini dan, pada sisi yang lain, hal ini terasa menguntungkan, seperti menemukan sebuah kebebasan baru. Saya, pada saat itu, merasa tanpa arah, merasa bersalah juga, karena banyak melakukan hal-hal yang tak penting, sementara orang-orang banyak yang sekarat (ditimpa pandemi). Berjam-jam waktu saya habiskan sekadar menonton Netflix, sebagai bentuk pelarian semata, tapi setelah itu perasaan saya tak jua lebih baik.
Seminggu kemudian, saya putuskan untuk kembali berlari. Saya berlari di jalanan di komplek SMA, tapi bekas kaki saya yang pernah patah dulu, menyebabkan waktu tempuh lari saya menjadi amat lambat. Saya berlari di Taman Kota beberapa kali dalam seminggu seperti masa sekolah dulu, tapi tak pernah lagi mencapai level terbaik. Saya, sekarang, menargetkan berlari sejauh 15 mil dalam sepekan, yang apabila dibandingkan dengan Murakami yang 36 mil, tentu saja sangat tidak sebanding, tapi hal itu justru memaksa saya untuk keluar berlari selama 5 hari dalam sepekan sembari menjaga kesehatan fisik dan mental.
Cara Murakami menjalin hubungan antara aktivitas berlari dan menulis, telah membentuk kepribadian dan filosofisnya. Dari gaya menulisnya, kita bisa menilai bahwa Murakami adalah seorang yang tenang, berpikiran dalam dan independen. Satu akumulasi yang sempurna yang dibentuk melalui aktivitas berlari dan menulis, yang keduanya itu seringkali membutuhkan kesunyian.
Bagi Murakami, kedua aktivitas tersebut akan memaksanya untuk mencapai batasan-batasannya; dengan berlari, ia akan mencapai batasan fisiknya, dan melalui menulis, ia menemukan batasan-batasan bagi aspek mental dan intelektualnya. Setelah menutup cafe jazz-nya yang tengah sukses itu demi mengejar karir kepenulisannya, ia pun menjadikan kegiatan menulis dan berlari sebagai jadwal harian secara rutin. Dengan kebiasaan yang menantang pikiran sekaligus fisik setiap hari itu pula, ia akhirnya mampu mencapai posisi di mana ia berada saat ini: seorang novelis terkenal dan seorang pelari yang–tidak terlalu hebat–tapi kuat.
Sebagaimana Murakami, berlari dan menulis adalah passion saya. Namun, kalau boleh jujur, passion saya terhadap dua hal tersebut juga kadang hilang kadang timbul. Seringkali semangat itu datang menggebu, tapi kadang juga bikin frustasi. Hanya pada saat kedua hal tersebut berada pada level tertinggilah, ia baru bisa betul-betul terasa bermanfaat. Saat di mana saya akhirnya menemukan kata-kata yang tepat untuk mendeskripsikan perasaan, tempat atau suasana. Saat kaki saya berhenti menjerit kelelahan dan badan saya mulai bergerak mulus di trek berlari bagai gerakan mesin yang baru diberi oli. Itulah saat-saat, yang sayangnya amat langka, tapi ketika momen itu terjadi, itu semua seperti menegaskan kembali mengapa saya melakukan hal-hal yang sedang saya lakukan itu.
Namun, seringkali, proses menulis itu begitu menyakitkan. Ada hari di mana saya hanya duduk di depan laptop, membongkar pasang ide dari awal hingga akhir, begitu saja. Membuat semangat lemah muncul sembari melihat berbagai draf ide-ide tulisan yang harus disortir lagi untuk menemukan bagian-bagian yang potensial dijadikan ide tulisan.
Sama halnya dengan berlari–kadang juga tak sama, sih–saya memerlukan itu untuk tetap menjaga kebugaran dan kewarasan. Pada satu pekan, ketika saya berlari di sepanjang jalur Raritan, kaki saya terasa berat bagai batu. Pada pekan yang lain, semangat berlari saya meninggi, atau atas desakan dopamin dalam tubuh, lalu membangkitkan gairah dan saya merasa hal itu memulihkan kembali semangat saya dan, kadangkala, bahkan mentransformasikannya ke dalam diri saya. Berlari, membawa pikiran saya bebas berkelana, terlepas dari berbagai distraksi sembari menikmati alam sekitar. Jika saya bisa melampaui kelelahan dan ketidaknyamanan fisik itu, maka saya akan mampu mencapai satu kondisi yang menenangkan, yang tidak bisa saya capai dengan cara yang lain.
Untuk mencapai momentum yang bagus dari aktivitas menulis dan berlari, menata kebiasaan hingga terbentuknya satu sistem di mana secara konstan saya mampu menguasai segala ketidaknyamanan itu, adalah perkara yang mutlak dilakukan. Ide atau gagasan yang baik dan, tentu, lari yang baik, tidak akan datang secara acak; itu semua memerlukan praktik dan juga perencanaan.
Murakami membandingkan antara kegiatan duduk dan menulis di meja kerjanya setiap pagi dengan kegiatan mengikat tali sepatu. Kebiasaan sederhana ini penting di dalam proses menguji batasan-batasannya sebagai seorang penulis dan pelari. Semakin sering kita mendorong diri menuju batasannya, maka peluang untuk menjadi seorang penulis dan pelari yang lebih baik akan terbuka. Itulah yang disebut dengan “power of intentional”, suatu tindakan yang dilakukan berulang-ulang.
Murakami menolak anggapan bahwa berlari itu berat, orang tak akan kuat. Justru yang dibutuhkan dan sekaligus yang dilatih adalah kemauan yang kuat untuk bisa berolahraga secara rutin setiap hari. Secara sederhana, ia melakukan itu, karena hal itu bermanfaat baginya. Prosa yang ditulis oleh Murakami selalu menampar saya, karena penataan alur dan ketenangan yang ditimbulkannya. Ia mendeskripsikan setiap ihwal kejadian sebagai sebuah kejadian yang biasa saja, tidak jelek tapi juga tidak terlalu bagus. Ia menerima apapun yang terjadi dalam hidupnya dan menuliskannya sebagai hasil dari olahan perenungannya.
Contohnya, keinginan menulisnya pertama kali muncul ketika suatu hari sedang menonton pertandingan baseball di Jepang, tiba-tiba saja muncul keinginan itu, dan ia mulai menulis. Ketika tulisannya telah selesai, ia lalu mengirimkan naskah tersebut ke sebuah lomba penulisan, tanpa ada copy-an sama sekali sebagai pertinggal untuknya. Dan, setelah itu, ia melupakan begitu saja kalau ia tengah mengikuti kompetisi menulis. Ia memenangkan lomba, melanjutkan aktivitas menulisnya, hingga sampai sekarang dikenal sebagai seorang novelis. Sikap cueknya, bisa jadi, adalah bagian dari show, tapi juga mengajarkan kepada kita tentang satu sikap hidup yang biasa saja, maksudnya, apapun yang terjadi dalam hidup ini, tetaplah terima sebagai sesuatu yang sudah seharusnya terjadi.
Kekuatan yang sebenarnya dari tulisan Murakami tentang kebiasaan berlarinya adalah bagaimana ia bercerita tentang sesuatu yang bukan untuk dibangga-banggakan, atau sesuatu yang direkomendasikannya ke orang-orang. Ia hanya berkisah tentang cara hidupnya, dan tentang pasang surut hidup yang tak terelakkan. Usai ultramaraton sejauh 62 mil, ia mengalami apa yang disebutnya sebagai “Runner’s Blues”, yakni ketika “jarak antara mental berkembang di dalam [dirinya] dengan daya larinya.” Usianya, pada waktu itu, berada di pertengahan 40-an dan telah melewati puncak kematangan fisik. Gerakannya tak lagi seluwes biasanya. Waktu tempuhnya telah semakin menurun. Itu terjadi setelah ia mencapai prestasi tertingginya dalam berlari, yakni melakukan ultramaraton, saat ia berlari menaklukkan jalanan.
Semua itu juga terjadi pada semua hal yang kita cintai, bukan? Kita tak pernah tahu seberapa lama waktu yang dibutuhkan untuk menghasilkan kreativitas dan menghancurkan hambatan dalam menulis. Perkara ini bahkan bisa terjadi pada hubungan yang romantis, ketika perasaan-perasaan yang damai tumbuh setelah melewati fase bulan madu. Saya pun pernah mencapai jarak tempuh terbaik dalam berlari, tapi setelah menepi karena cidera, saya tak pernah lagi mampu mencapai waktu terbaik saya kembali.
Meskipun Murakami telah mengalami titik terendah dalam karir berlarinya, ia tetap melakoni aktivitas tersebut. Di usia pertengahan 50-an, ia mulai merasakan perasaan “Runner’s Blues”-nya semakin tinggi. Sepanjang tahun, ia tetap setia dengan kebiasaan berlarinya. Ia belajar menerima konsekwensi dari usia bagi tubuhnya ketika berlari. Ia menulis: “Sejujurnya, saya tidak begitu mengerti apa penyebab dari ‘runner’s blues’ ini. Atau mengapa sekarang semuanya mulai melemah. Agaknya terlalu terburu-buru untuk membuat penjelasan dengan jelas. Namun, satu hal yang barangkali dapat saya defenisikan secara pasti tentang semua ini adalah: Inilah hidup.”
Dalam hidup, kita menemukan apa yang kita cintai, dan itu bisa membuat kita frustasi dan juga menguji kita, bahkan, untuk sementara waktu, bisa menghilang dari diri kita. Namun, menjaga passion itu tetap hidup dan menjadi bagian dari diri kita, membutuhkan latihan yang intensif, serta dedikasi. Keyakinan Murakami yang tidak pernah berputus asa dalam urusan berlari dan menulis ini, telah menunjukkan kepada kita tentang mengapa ia bisa sesukses sekarang. Dari kisah Murakami, kita dapati sebuah kesimpulan: “Kerahkan sepenuh-penuhnya kekuatanmu menuju batasan individual yang paling bisa kau capai: itulah esensi dari berlari, dan sebagai metafora untuk kehidupan–dan bagi saya, untuk menulis dengan baik.”
*Dialihbahasakan oleh Herman Attaqi dari esai karya Cathleen Luo yang berjudul Haruki Murakami Sees a Common Thread Between Running and Writing. Sumber asli bisa dibaca di sini.
**Catatan: Pengalihbahasaan ini murni untuk kepentingan pendidikan dan bukan untuk tujuan komersil.
***Sumber foto: facebook page Haruki Murakami
