kopi travel blog

jauh berjalan banyak dilihat

Suharto, Agatochles, dan Sejarah Kelam daripada Orde Baru

“Sebab kekuasaan diraih dengan kekuatan, sementara kemuliaan diperoleh dari sikap hormat.”


Oleh A. S. Kartik Salokatama

Dalam rekam jejak perjalanan Indonesia sebagai sebuah republik yang merdeka, negara ini pernah berada di dalam sebuah kawah besar dan dalam, berpuluh tahun hingga menjelang kejatuhannya berada di dalam lorong panjang dan gelap, yang disebut sebagai Orde Baru. Sebuah bab besar dalam buku sejarah republik yang penuh kontroversi dan bias yang tak kunjung jelas meski dimakan zaman.

Semakin ke mari, masyarakat Indonesia bagai memiliki sebuah rumus singkat yang tak terbantahkan, yakni “Orde Baru = Suharto”. Mengapa tak bisa dikatakan hal ini sebuah rumus yang salah? Sebab nampaknya memang hanya ia-lah seorang yang memegang penuh tampuk kekuasaan negeri ini selama tiga puluh dua tahun lamanya. Sebuah waktu yang cukup untuk menancapkan bendera kekuasaan, kekayaan dan perubahan sedalam-dalamnya untuk negara yang hari itu baru berumur sekitar dua puluhan tahun.

Jika berbicara tentang Orde Baru, bisa dikatakan semuanya dimulai pada tahun 1965. Sebuah kejadian besar bagi bangsa ini terjadi pada awal bulan Oktober tahun itu. Kejadian yang biasa disebut Gestok oleh sebagian sejarawan, dan G30S/PKI dalam versi Orde Baru dan para pendukungnya.

Terlepas dari kekuasaan Suharto yang baru bisa dikatakan menguat lantaran terbitnya Supersemar pada satu tahun berikutnya, saya menilai Gestok sebagai titik mula peralihan kekuasaan Presiden Sukarno kepada Presiden daripada Suharto. Sebab peristiwa inilah yang terus menerus digaungkan demi menjatuhkan Presiden Sukarno, baik secara kekuasaan (pada tahun-tahun itu), maupun pada sosoknya (setelahnya).

Peristiwa ini dinilai (oleh Orde Baru) bisa terjadi, akibat kesalahan Presiden Sukarno yang memberikan keleluasaan terlalu besar kepada PKI. Namun hingga hari ini, kita masih belum bisa melihat jelas, siapa di balik kejadian memilukan itu. Banyak versi yang beredar, dan kesimpulan dari beberapa prespektif tersebut sepertinya dapat kita lihat dalam buku yang ditulis oleh Jusuf Wanandi yang berjudul Menyibak Tabir Orde Baru, setidaknya, menurut Wanandi, terdapat empat spekulasi terkait dalang daripada kejadian Gestok ini.

Pertama, bukan PKI, sebab memang pimpinan pergerakannya bukan merupakan anggota PKI. Namun, banyak bukti yang memang mengindikasikan terlibatnya sebagian anggota partai tersebut dalam pergolakan ini.

Kedua, spekulasi yang mengatakan bahwa semua kejadian tersebut ialah murni konflik internal Angkatan Darat (AD). Namun tidak jelas di sana, siapa dan apa motif yang mengorbankan para pimpinan tertinggi AD kala itu.

Ketiga, anggapan bahwa Presiden Sukarno, paling tidak, merestui kejadian ini dengan ragu-ragu. Walaupun, menurut saya, poin ini meninggalkan terlalu banyak pertanyaan yang menggantung. Semisal, bagaimana mungkin Presiden Sukarno merestui sebuah tindakan yang jelas-jelas dapat memperkeruh suasana politik Indonesia kala itu, dan bagaimana pula ia memberi lampu hijau bagi kehancurannya sendiri?

Sedangkan spekulasi terakhir atau keempat, ialah Suharto. Spekulasi ini menuding The Smiling General sebagai dalang di balik peristiwa ini. Suharto dituding melakukan sebuah pukulan telak kepada lawan-lawannya, yakni para Jenderal atasannya (Suharto saat itu ialah seorang Pangkostrad, kematian para Jenderal praktis membuatnya sebagai jenderal tertinggi selain A.H Nasution), dan menjadikan PKI yang memang sedang berada dalam situasi politik yang saling bertentangan dengan pihak militer maupun sebagian kelompok agama, sebagai sasaran pukul, hingga memukul Presiden Sukarno sendiri.

Di antara keempat spekulasi di atas, dapat kita lihat bahwa poin keempat memiliki alasan yang cukup masuk akal dibandingkan dengan yang lainnya. Hal ini tentu merupakan opini penulis, sekaligus pendapat yang mungkin saja unpopular opinion. Selain penjelasan pada poin keempat di atas, nampaknya satu-satunya pihak yang dapat diuntungkan bila ternyata kebenaran ada di poin ketiga ialah (lagi-lagi) Suharto.

Agatochles of Syracuse

Jika poin keempat dari analisis Jusuf Wanandi itu ditarik ke tengah, maka cara yang dipakai Suharto dalam mengambil alih kekuasaan dari Sukarno, persis seperti kisah Agatochles, seorang raja lalim dari Syracuse. Siapakah Agatochles?

Agatochles adalah anak seorang tukang priuk yang hidup dalam kemiskinan. Kecerdasan dan tubuh yang kuat pada akhirnya membawa nasibnya menjadi seorang komandan militer. Setelah memiliki pangkat yang cukup tinggi, Agatochles mengajak koleganya Hamilcar untuk bersama-sama mengambil alih kekuasaan Sicilia.

Setelah melakukan pembantaian terhadap para atasan dan lawan-lawan politiknya serta para penguasa dan kalangan elit semasa itu, akhirnya Agatochles mendeklarasikan dirinya sebagai Raja Sicilia pada tahun 304 SM.

Selama masa pemerintahannya, ia memerintah dengan kejam, namun Sicilia berhasil menjadi negara yang tenteram dan makmur. Sayangnya, akhir dari pemerintahannya diwarnai dengan perebutan kekuasaan dan huru-hara. Hal ini dijelaskan sedikit oleh Machiavelli dalam bukunya yang berjudul Il Principe.

Dalam Il Principe, sosok Agatochles disinggung pada Bab VIII (Mereka yang Menjadi Penguasa Melalui Perbuatan Jahat). Terdapat beberapa hal yang disinggung oleh Machiavelli dan nampaknya tepat untuk dijadikan sebagai korelasi sejarah tentang penyebab image buruk Suharto.

Pertama, Machievelli sudah memperingatkan bahwa cara yang ditempuh Agatochles mungkin dapat digunakan dalam memenangkan kekuasaan, tapi tidak kemuliaan. Dengan kata lain, dapat disimpulkan bahwa seseorang yang memiliki kekuasaan tidak lantas menjadikannya orang yang mulia. Sebab kekuasaan diraih dengan kekuatan, sementara kemuliaan diperoleh dari sikap hormat (respect).

Suharto memang memiliki kekuasaan berupa kekuatan untuk mengendalikan seluruh republik, dari Sabang sampai Merauke. Namun, kedigdayaan itu tak serta merta menjadikannya dapat dengan mudah merebut hati rakyatnya. Sebuah pertanyaan, apa hal yang menyebabkan pemimpin seperti ini (dalam hal ini Suharto) kehilangan kehormatan di hati publik?

Kedua, untuk menjawab pertanyaan di atas, Machievelli (lagi-lagi) sudah mengingatkan bahwa tindakan kejam dikatakan dilakukan dengan baik (jika kata baik bisa digunakan pada perbuatan jahat) jika dilakukan dalam satu pukulan.

Silahkan dihitung, kira-kira berapa kali rakyat Indonesia dilukai (baik jiwa maupun raganya) oleh rezim ini? Bukankah sebagaimana yang kita tahu bahwa rezim ini dimulai dengan sebuah pembantaian yang diperkirakan jumlah korban mencapai ratusan ribu hingga jutaan jiwa? Bukankah rezim ini pula yang menggunakan pendekatan represif terus menerus kepada rakyatnya yang mencoba bersuara? Bagaimana dengan peristiwa Malari, Tanjung Priok, ’98 dan masih banyak yang lainnya?

Suharto jelas-jelas tidak melakukan kekejamannya dengan satu pukulan. Terlalu banyak hantaman, tembakan dan tusukan yang harus dibayar oleh rakyat Indonesia demi ongkos kuasanya. Hal inilah yang membuat Suharto, baik selaku presiden, maupun sebagai personifikasi rezim Orde Baru, menjadi satu lubang yang kelam yang tetap akan membekas dalam sejarah bangsa Indonesia.


Referensi:

  1. Jusuf Wanandi, Menyibak Tabir Orde Baru.
  2. Machiavelli, Il Principe.
  3. Britannica.com/biography/Agatochles
Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai