kopi travel blog

jauh berjalan banyak dilihat

[Bedah Buku] Membaca Tendensi Bunuh Diri di Novel “Norwegian Wood” Karya Haruki Murakami

“Ia nyata telah merongrong psikis saya usai membacanya.”


Oleh Herman Attaqi

Saya mulai mengenal Haruki Murakami lewat esai-esai yang ditulisnya dan esai-esai yang ditulis oleh orang lain tentangnya. Mulai dari esai Cathleen Luo tentang kebiasaan berlari yang membentuk spirit kepenulisan Murakami, hingga esai Arlian Buana yang mengidentifikasi para “Harukis Garis Lurus” sebagai orang-orang kelas menengah yang layak dicemooh. Arlian mengatakan dengan satire bahwa Haruki Murakami pantas dinobatkan sebagai Pak Nabi Kelas Menengah Sekalian Alam. Sebuah olok-olok khas kaum pembaca buku Karl Marx, tapi saya menduga Arlian lebih mirip Karl Marx muda sebelum hidup melarat.

Jika bahan bacaan itu dikategorisasikan dari bagaimana ia didapatkan, saya kira ada dua kategori utama; Pertama, bahan bacaan yang didapatkan dari apa yang tersedia. Kedua, bahan bacaan yang sengaja didapatkan.

Sebagian besar bahan bacaan saya (buku cetak, buku online, esai, dll), diperoleh lewat kategori pertama. Artinya, lebih banyak karena memang hanya itu yang tersedia. Diberikan oleh kawan sebagai hadiah, traktiran atau pinjaman. Namun, untuk novel Norwegian Wood ini, sengaja saya pesan lewat seorang kawan baik. Tentu, saya tak berpikiran sejauh Arlian, saya dalam hal ini barangkali bagaikan seorang Karl Marx tua, peot dan melarat. Artinya lagi, amat jauh dari kesan ke-ngehe-an khas kelas menengah yang dicirikan oleh Arlian tentang para kelas menengah pembaca buku-buku Haruki Murakami.

Apa yang menarik dari “Norwegian Wood”?

Cathleen Luo mengatakan, “through his writing, you can tell that Murakami is quiet, thoughtful and independent.” Demikian juga secara keseluruhan pandangan tersebut terrefleksi di dalam isi novel tersebut. Membaca “Norwegian Wood”, membawa saya seperti sedang duduk-duduk di tengah hari yang terik di bawah sebatang pohon rindang di tepian sungai yang mengalir tenang dan dalam.

Murakami membangun alur cerita yang bertumpu pada karakter utama Toru Watanabe yang juga bertindak selaku narator. Dari Watanabe, karakter-karakter yang lain dibangun jalin-menjalin dalam pola hubungan yang pelik dan emosional. Kizuki, Naoko, Midori Kobayashi, Reiko Ishida, Nagasawa, dan Hatsumi merupakan karakter yang memiliki problematikanya masing-masing dan secara langsung atau tak langsung berkaitan dengan Toru Watanabe.

Sejatinya “Norwegian Wood” bisa dikulik dari berbagai sudut; secara mimetik dari setting sosial politik tahun 1960-an yang penuh konflik dan aksi demonstrasi mahasiswa seperti digambarkan di dalam kisahnya, atau dari sisi gaya bahasa Murakami yang realistis dan hal itu keluar dari kebiasaan sebelumnya yang menulis novel secara surealistis, hingga analisis dengan pendekatan psikologis melalui karakter utama dari novel tersebut. Namun, pada review ini, saya hendak fokus pada aspek psikologis dari beberapa tokohnya. Mengapa? Alasan saya sederhana, yakni ada empat orang di dalam novel ini mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri, dan hal itulah yang memancing keinginan saya untuk mereview lebih jauh.

Sigmund Freud mengatakan bahwa hidup psikis pada hakikatnya tidak lain daripada konflik antara daya-daya psikis. Konflik dari daya-daya psikis itu memunculkan berbagai tendensi naluriah di dalam diri masing-masing individu. Lalu, bagaimana kita melihat proses daya-daya psikis itu berinteraksi dan beroposisi di dalam diri karakter di novel “Norwegian Wood”?

Konflik diawali dari Kizuki yang melakukan bunuh diri. Kizuki adalah sahabat dekat Watanabe yang juga merupakan kekasih Naoko. Watanabe kerap menemani sepasang kekasih itu bersama-sama. Kematian Kizuki yang mendadak dan tanpa meninggalkan pesan itulah yang membuat semacam lubang di dada Watanabe dan juga Naoko. Naoko, yang juga pernah mengalami guncangan yang sama karena menjadi orang pertama yang menemukan kakaknya tergantung tak bernyawa setelah bunuh diri di kamarnya, tentu menjadi pihak yang teramat terpukul. Memori itu mempengaruhi psikisnya, hingga ia harus direhabilitasi, dan apa yang terjadi kemudian? Naoko mengikuti jejak kekasih dan kakaknya, yakni bunuh diri. Ada satu lagi karakter yang juga mati bunuh diri, yakni Hatsumi, kekasih Nagasawa (kawan akrab Watanabe di asrama mahasiswa di Tokyo) yang memilih menikah dengan orang lain untuk kemudian bunuh diri.

Saya kira, ini adalah novel paling gelap yang pernah saya baca. Bisa jadi karena kemampuan menulis Murakami yang membuat seolah-olah kisah ini nyata. Ia nyata telah merongrong psikis saya usai membacanya. Dan, memaksa saya untuk membaca kembali buku “Psikoanalisis Sigmund Freud” terbitan Gramedia yang diterjemahkan oleh K. Bertens.

Konflik daya-daya psikis yang terjadi pada Kizuki, Naoko dan kakaknya, serta Hatsumi yang memutuskan untuk melakukan aksi bunuh diri dapat ditelaah dengan pendekatan psikoanalisis Sigmund Freud, khususnya bagaimana tendensi-tendensi naluriah yang terjadi di dalam diri setiap orang mengalami perubahan yang berbeda-beda. Terutama ada tiga kemungkinan yang terjadi;

Pertama, suatu tendensi naluriah dapat dipuaskan, misalnya tendensi itu disalurkan keluar melalui perbuatan-perbuatan. Ini yang tidak terjadi pada keempat karakter di atas. Justru, secara demonstratif malah diperlihatkan oleh sosok Midori Kabayoshi, yang di tengah memori gelapnya, terutama dalam hubungan yang tidak wajar dengan kedua orang tuanya, ia masih dapat mencari jalan keluar bagi tekanan psikisnya itu. Bisa jadi hal tersebut dikarenakan wataknya yang blak-blakan, empatik, dan suka berterus terang. Kelak, Midori, adalah perempuan yang membuat Watanabe dilematis, apakah memilih Midori yang periang itu ataukah masih tetap menunggu Naoko yang masih terperangkap oleh depresi atas memori masa lalu, dan masih melihat sosok Watanabe dalam bayang-bayang kekasihnya yang telah bunuh diri, yakni Kizuki.

Kedua, dengan sengaja suatu tendensi dapat ditahan dan — kalau itu memang berhasil — sedikit demi sedikit dilepaskan dari energinya. Hal itu terjadi dalam represi yang normal. Kizuki, kakak Naoko dan Hatsumi jelas tidak mampu menahan, itu sebabnya mereka memutuskan untuk bunuh diri. Sedangkan Naoko masih berupaya melepaskan energinya dengan mengikuti program rehabilitasi, meski akhirnya ia pun menyerah. Hanya Reiko Ishida yang mampu keluar dari zona tersebut, meskipun butuh waktu yang lama, tapi akhirnya mampu melewati fase depresi akibat kegagalannya menjadi seorang pianis, serta kegagalannya dalam berumah tangga.

Ketiga, Akhirnya suatu tendensi naluriah dapat direpresi, dalam arti dilupakan, tetapi energinya tetap utuh. Neurosis akan timbul pada kemungkinan ketiga ini. Tetapi itu tidak berarti bahwa suatu tendensi yang direpresi mutlak perlu harus mengakibatkan neurosis. Bisa saja represi tidak menyebabkan gangguan apa pun. Kalau memang terjadi neurosis, banyak energi dari Ego diperlukan, supaya efek yang direpresi itu tetap tinggal tak sadar. Perasaan-perasaan yang direpresi membentuk ketidaksadaran, yang sewaktu-waktu bisa muncul tiba-tiba karena rangsangan tertentu. Dan, kondisi inilah yang dialami oleh Toru Watanabe, ketika dikisahkan diawal cerita yang menggunakan alur mundur, Watanabe merasakan kesedihan yang dalam saat mendengar lagu “Norwegian Wood” oleh The Beatles di dalam pesawat terbang yang mengantarkannya ke Hamburg, Jerman. Kenapa? Karena Norwegian Wood adalah lagu yang disukai oleh Naoko, dan itu membangkitkan kenangannya pada Naoko, kekasih Kizuki sahabatnya, yang kelak juga perempuan yang amat dicintainya, hingga bertahun-tahun kemudian mengungkung ingatannya.

“Manusia,” kata filsuf Arthur Schopenhauer dalam buku The World as Will and Representation, “akan terus-menerus mengikat dirinya pada keduniawian yang menurut mereka adalah kebahagiaan, padahal apa yang mereka kira sebagai kebahagiaan tersebut tak lebih dari sekadar ilusi semata.”

Atas dasar pemikirannya itu, Schopenhauer menawarkan dua pilihan, yakni mengafirmasi kehendak atau menegasikannya. Bila memilih afirmasi (memaksa) kehendak, maka kita akan (semakin) menderita. Lalu apakah kalau memilih menegasikan (menyangkal) kehendak kita tidak akan menderita? Setidaknya, jika kita memilih menegasikan kehendak, kita bisa meminimalisir penderitaan—meminimalisir di sini bukan berarti meniadakan penderitaan. Menerima kenyataan sebagai sebuah kenyataan yang memang sudah seharusnya berlaku, akan jauh membuat kita lebih legawa, daripada memaksakan sesuatu yang kita harapkan terjadi, padahal faktanya tidak mungkin lagi terjadi, dan itu menyakitkan.

Menurut Schopenhauer, kematian, memang satu-satunya jalan untuk mengakhiri penderitaan, akan tetapi tidak lewat jalan bunuh diri. Sebab, bunuh diri adalah suatu bentuk pengafirmasian kehendak, bukan menegasikannya. Pasalnya, ketika seseorang melakukan bunuh diri, ia sebenarnya mendapat bisikan dari kehendak, sampai akhirnya ia merasa penasaran dengan apa yang terjadi sesudah mati, lalu akhirnya ia melakukan apa yang dibisikkan oleh ‘kehendak’. Pada titik itulah mengapa ia mengatakan bahwa hanya orang cerobohlah yang melakukan bunuh diri, karena ia dihantui rasa penasaran sampai akhirnya ditundukkan oleh kehendak, bukan malah menundukkannya.

Ada satu kutipan menarik dari buku Mark Manson yang berjudul “Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat”pada Sub-bab “Salah Kaprah Tanggung Jawab/Rasa Salah”, di halaman 116-117 Mark Manson menulis, “…. Tidak ada seorang pun yang bertanggung jawab atas keadaan Anda kecuali diri Anda sendiri. Banyak yang mungkin disalahkan atas ketidakbahagiaan Anda, namun tidak seorang pun yang bertanggung jawab atas ketidakbahagiaan selain Anda. Ini karena Anda selalu harus memilih bagaimana Anda memandang sekitar Anda, bagaimana Anda bereaksi terhadapnya, bagaimana Anda menilai sesuatu.”

Sigmund Freud menjelaskan tentang bagaimana melepaskan energi dari Ego atau menyalurkan tendensi naluriah lewat perbuatan-perbuatan. Sedangkan Arthur Schopenhauer mengajarkan bagaimana menegasikan kehendak untuk meminimalisir penderitaan, sembari mencoba menerima kenyataan sebagaimana adanya. Dan, terakhir, Mark Manson menerangkan makna dari tanggung jawab atau rasa bersalah dalam diri. Manusia, sebagai individu, adalah yang paling bertanggung jawab atas dirinya untuk memilih jalan kebahagiaan dan menolak kehendak yang justru mendatangkan penderitaan, apalagi membawa keputusasaan dengan memilih jalan bunuh diri.

Demikianlah Murakami membangun karakter novelnya dengan bermain-main di dalam ranah psikologis. Sebab itu pula ia berhasil mengoyak-ngoyak kesepian pembaca hingga (hampir) mampus. Saya, terus terang, banyak belajar dari cara Murakami menulis, dan terutama dalam menghidupkan karakter tokoh-tokohnya. Menjadikan mereka bernyawa.

Dari sebagian besar review yang saya baca tentang Norwegian Wood, titik lemah novel ini ada pada bagian ending-nya. Banyak yang kecewa dengan ending yang taksa, menggantung dan tidak masuk akal. Namun, bagi saya, jika melihat dari sudut pandang psikologis, tentu tak akan ada yang selesai, kecuali seluruh tokohnya mati. Perkembangan psikis manusia akan tetap tumbuh dan berubah. Apa yang pada akhirnya diterima sebagai perkembangan baru bagi psikis Toru Watanabe, bisa saja berubah oleh waktu, ruang dan dialektikanya dengan lingkungan, manusia dan problem-problem baru. Pun, begitu juga kita, bukan?


Novel “Norwegian Wood” (terjemahan bahasa Indonesia)

Penulis : Haruki Murakami

Penerjemah : Jonjon Johana

Penerbit : KPG (Kepustakaan Populer Gramedia), cetakan ketigabelas, Januari 2020

Jumlah Halaman : iv + 426 halaman; 13,5 cm x 20 cm

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai