kopi travel blog

jauh berjalan banyak dilihat

Melihat Bioluminescence di Gili Trawangan dan Padang Bai

“Cahaya yang dihasilkan fitoplankton mengikuti arus air pasang di malam hari.”


Oleh Najmi Laila Elbasyarah

Jumat, 17 Juli 2020. Tepat di hari ke-125 aku bersemayam di rumah terhitung sejak 14 Maret lalu. Kalau saja aku seekor ayam betina, seharusnya sudah empat kali lebih aku mengeram telur. Awalnya aku berniat membuka tulisan ini dengan protes-protes kecil pada situasi yang sudah lama tak kunjung pulih. Bahkan memang tak akan pulih.

Aku mulai gelisah, bertanya-tanya, kapan kampus bisa dimulai kembali? Kuliah tanpa menggunakan zoom, google meet, dan seluruh perangkat daring lainnya. Tapi, kurasa situasi akan menjawab: “Tunggu saja tanggal mainnya..” sembari tersenyum getir, sedang ia berusaha tertatih-tatih menjemput kesembuhannya sendiri.

Baiklah, hari ini aku ingin membahas salah satu keajaiban dunia yang baru saja kuketahui kemarin. Hitung-hitung menjadi obat bagi luka yang sudah lama kudiamkan. Mengingatkan kalau kau (dunia) di mataku tetaplah muda, indah dan berjaya, meski kau sebenarnya sudah tua renta, wahai duniaku sayang.

Mari masuk ke pembahasan. Pembahasan ini terkait keajaiban dunia yang jarang ditampilkan, sehingga masih banyak yang belum tahu. Mungkin ada yang sudah tahu, tapi cuma sekadar tahu. Belum sampai mencari asal-usulnya. Untuk itu, kali ini saya ingin mengulas.

Pernah kah kalian mendengar istilah “Bioluminescence”?

Yang jelas ini bukan merek minyak goreng atau skinker impor. Ya iya atuh, kan lagi ngobrolin semesta, bukan dagangan di supermarket.

Jadi, bagi yang belum tahu, bioluminescence adalah suatu reaksi kimia yang dialami oleh makhluk hidup sehingga mampu menghasilkan cahaya. Kata bioluminescence sendiri berasal dari bahasa Yunani, yaitu “bios” yang berarti hidup. Dan “lumen” yang berarti cahaya. Secara umum, reaksi ini merupakan hasil oksidasi substrat lluciferin yang dikatalisis oleh enzim luciferase sehingga menghasilkan emisi cahaya hijau-biru.

Selain organisme perairan seperti “Dinoflagellata”, bioluminesensi juga banyak ditemukan pada jamur, bakteri, dan serangga. Dalam sejarahnya, bioluminesensi ini sudah dibahas oleh Aristoteles sejak 2500 tahun lalu dalam bukunya yang berjudul “Tentang Warna”. Di dalam buku itu ia menyebutkan bahwa pada bagian kepala ikan dan tinta dari sotong ada sesuatu yang secara alami menghasilkan cahaya atau pendaran.

Kemudian penelitian ini diteruskan oleh Raphael Dubois pada tahun 1887, Robert Boyle pada tahun 1967, dan Osamu Shimamura pada tahun 1985. Hingga pada hari ini para ilmuwan memanfatkan bioluminesensi untuk berbagai hal. Seperti mendeteksi keberadaan sel kanker dalam tubuh pada bidang medis, juga digunakan bidang ekologi untuk pembuatan biosensor untuk mendeteksi keberadaan polutan atau kontaminan tertentu di lingkungan, dan pada bidang industri biasa dimanfaatkan untuk mendeteksi mikro patogen yang terkandung di dalam makanan.

Kira-kira begitulah penjelasan ilmiah singkat seputar bioluminescence.

Lalu, apa hubungannya dengan keajaiban semesta?

Ya, kemarin lusa tumben sekali timeline instagramku dipenuhi konten-konten bermutu. Sepertinya mereka sudah kehabisan bahan untuk dipamerkan. Entahlah. Husnuzon saja, siapa tahu memang lagi puasa. Menahan diri dari sifat pamer. Untunglah. Dengan begitu sifat insecureku sesekali bisa rebahan sejenak.

Fenomena ini kutemui secara tidak sengaja. Tiba-tiba muncul begitu saja di instagram pribadiku. Menurutku ini efek algoritma. Fenomena ini kudapat dari seorang fotografer National Geographic, Jordan Robins. Di postingan tersebut tertulis unggahan tersebut berada di Jervis Bay, salah satu teluk Australia, teluk yang terkenal paling putih dengan pasirnya yang indah. Di foto itu terlihat jelas bibir pantai yang terang berwarna biru neon. Benar-benar eye-catching. Awalnya kukira hanya editan. “Hey, Yang benar saja! Setingkat Nat-Geo pakai jurus edit photoshop? Kau benar-benar asal, Sar.” Kali aja kalian marah-marah begini. Ups. Sabar dulu.

Fenomena bioluminescence. Sumber foto @jordan_robins

Kucoba membaca caption di bawahnya. Ternyata ini adalah fenomena bioluminesensi yang terjadi pada bulan Mei lalu. Sebagai lulusan keagamaan yang belajarnya pakai alif-ba’-ta’, sudah pasti aku mesti tanya-tanya dulu ke Om Google mengenai apa itu bioluminesensi.

Semakin kutelusuri, semakin aku ingin sekali melihat secara langsung fenomena alam ini. Menarik sekali. Fenomena ini banyak terjadi di pesisir pantai dan teluk-teluk seperti Teluk Toyama di Jepang, Teluk Mosquito di Puerto Rico, dan yang paling terang, kalau teman-teman sekalian ingin tahu, ada di pulau Vaadhoo, Maladewa.

“Wah, jauh banget. Harus keliling dunia dulu. Males banget..”

Ups. Tenang dulu. Masa sih di Indonesia gak ada sama sekali? Tenang, kawan-kawan. Negara kita ini terlalu kaya untuk ditanya adakah ini atau adakah itu? Of course, the phenomenon of bioluminescence also exsist in Indonesia.

Kalau uang tabungan kita masih harus dipakai untuk bayar kuliah dan buat berangkatin orang tua naik haji, kita tetap bisa menyaksikan fenomena alam yang indah ini di beberapa pantai Indonesia. Di mana saja? Di Gili Trawangan dan Padang Bai, Bali.

Sekadar informasi, Padang Bai adalah sebuah pantai sekaligus pelabuhan yang melayani penyeberangan dari pulau Bali ke pulau Lombok. Keistimewaan dari tempat wisata ini adalah karena di dekatnya tersembunyi dua pantai yang menawarkan keindahan pasir putih. Kedua pantai tersebut adalah Blue Lagoon dan pantai Padang Kurungan. Saat petang, fenomena bioluminesensi di Padang Bai lebih-lebih menakjubkan.

Cahaya yang dihasilkan fitoplankton mengikuti arus air pasang di malam hari. Sangat memanjakan mata. Sayangnya, fenomena bioluminesensi di pantai ini tidak banyak terekspos. Oh ya, katanya sih fenomena ini muncul secara dadakan, guys. Selain itu, terjadinya hanya sepersekian jam. Jadi, fenomena ini seperti lotre. Hanya keberuntungan yang dapat melihatnya. Banyak-banyak berdoa, ya. Siapa sangka suatu saat nanti, kalianlah orang yang beruntung itu.

Semoga kita bisa menyaksikan bioluminesensi menakjubkan ini di seluruh pantai-pantai ajaib dunia, ya!

[It called, “when people realize that science can also be an entertainment”.]


Credit photo @jordan_robins

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai