“Kebiasaanku untuk menerima jawaban-jawaban pahit memang perlu dilatih.”
Oleh Ziyad Ahfi
Saat petang mulai beranjak, aku dan bang Darman melamun di bawah pohon bertumpuk guguran daun cokelat-hijau. Kami menunggu sebuah peristiwa alam yang entah kapan berakhir dan berujung. Barangkali, inilah kegiatan mingguan kami. Melakukan kesia-siaan yang paling sia-sia. Sebentar-sebentar tertawa, sedikit-sedikit mengundang keributan. Kadang hening bagai angin, kadang menggonggong bagai anjing.
Tapi, kali ini keadaan tak sebegitu sulit. Bisa dikatakan “rumit-rumit gampang”. Sebab, sebelum tiba di halaman depan rumahku yang beratapkan pohon angker itu, bang Darman membawa dua gelas kopi tanpa gula yang ia beli di Kedai Kopi Rakjat.
“Agar perenungan kita tidak terlalu sia-sia seperti sebelum-sebelumnya,” ucapnya.
Kemudian kami tertawa, supaya suasana sedikit melunak.
Bang Darman adalah guru bagiku. Kusematkan gelar guru sebagai penghormatan untuknya. Sedang beliau masih mengikuti pepatah “duduk sama rendah, berdiri sama tinggi”, sehingga ia kerap melarangku untuk memanggilnya dengan gelar tersebut.
Ia pernah bilang, “belajarlah pada siapa pun, di mana pun. Alam terkembang, sungai membentang; semesta adalah fasilitas untuk kau berburu dan berenang mencari pengetahuan sebanyak-banyaknya. Sampai suatu saat kau sadar, sejauh-jauhnya manusia mencari dan belajar, ia akan tetap merasa bodoh.”
Kalimat ini kedengarannya tak begitu asing. Seperti ada yang pernah berucap demikian. Seingatku, Socrates juga bilang dengan maksud yang sama. “Aku ingin mengetahui sebanyak-banyaknya, supaya aku tahu betapa sedikit yang aku ketahui,” tulisnya. Sebuah nasehat yang bersanad. Dan nasihat itu melampaui zaman. Hingga sekarang.
Kini, suasana hening, langit menguning, angin bertiup pelan, menggoyang hingga ke sela-sela rerumputan. Kamipun menikmati dengan saling menghirup udara bersih yang suatu hari kelak entah masih akan ada atau tertimbun gedung-gedung pemerintah.
Setiap yang ditangkap oleh lensa mataku, pergi dan berganti begitu saja. Seperti aliran sungai tenang yang mengalir tanpa aba-aba, ke tempat rendah atau bermuara ke pantai. Yang jelas, peristiwa itu kubiarkan terjadi, semuanya berjalan sesuai tuntutan alam. Hidup bukanlah menunggu waktu yang “akan indah pada waktunya”, karena kitalah yang harus mengusahakan keindahan-keindahan itu. Entahlah, barangkali benar. Salahpun aku tak peduli. Bukankah manusia memang tempatnya salah dan dosa? Dan kemahabenaran hanya milik Tuhan semata? Jika seperti itu, lalu untuk apa semua ini terjadi?
Untuk apa semua ini terjadi?
Waktu berjalan, hari berganti, musim bertukar. Kepada siapa mereka bertugas dan bertanggung jawab? Untuk apa burung-burung terbang dan berkicau? Pepohonan bergoyang dan tumbuh? Senja saus tomat tanpa arti? Siang malam? Kesedihan kebahagiaan? Sakit sehat? Hidup mati? Untuk apa itu semua?
“Apakah setiap peristiwa harus berulang?” tanyaku pada bang Darman yang duduk melamun di sebelahku.
“Tidak. Ada kalanya benar-benar hilang.”
“Lalu, untuk apa semua ini terjadi? Kita tak pernah mengemis dan meminta, tak mengerti mengapa dan untuk apa semua ini terjadi. Tiba-tiba kita terlempar begitu saja di tengah hiruk-pikuk dunia ini, dan secara tiba-tiba pula kita akan mati dan meninggalkan segalanya. Apakah ini yang kau sebut dengan peristiwa yang benar-benar hilang? Jika benar, untuk apa?” tanyaku serius.
“Entahlah. Nikmati saja. Misal kujawab, kuyakin kau takkan puas dengan jawabanku. Sejak dulu kau selalu hidup dalam keraguan dan ketidakpercayaan pada orang lain. Coba saja kau tanya pada dirimu sendiri bila kau benar-benar ragu pada setiap yang bernyawa,” ujar bang Darman.
Jawaban bang Darman sudah bisa kutebak. Bukan karena indigo, tukang sihir, atau peramal yang berperilaku seperti Tuhan. Cuma dugaan yang timbul karena sudah lama berguru dengan beliau
Bang Darman meyakini bahwa hidup hanya sekadar rumah singgah. Ia punya keyakinan, “kebenaran yang kupunya tak perlu kubenturkan. Masing-masing orang punya keyakinan estetis. Dan kebenaran semacam itu bukan untuk diperdebatkan. Sebab ia hidup pada tiap-tiap sanubari makhluk.”
Baginya, manusia dengan segala makhluk lainnya adalah perantau yang sedang mencari jati diri dari kampung ke kampung. Seorang pejalan yang kelelahan lalu singgah sebentar. Kemudian berjalan kembali. Walau tidak benar-benar tahu terletak di mana tujuan yang pasti. Dan kematian, adalah sebenar-benarnya rumah tempat berpulang. Sebagaimana orang tua yang merindukan anaknya. Memintanya pulang, untuk memastikan bahwa kerinduan mesti terbalaskan.
Aku memang suka menghayal yang tidak-tidak. Apalagi di suatu sore yang pudar, bang Darman lah sebagai kandang penghambat keliaran khayalanku. Tapi, di lubuk hati yang terdalam, aku selalu bertanya-tanya meski sedikit harap-harap cemas dengan pertanyaanku sendiri.
“Jika pikiranku liar ke mana-mana, seperti menjauh dari kebiasaan pikiran orang-orang pada umumnya, apakah itu sebuah kesalahan? Jika salah, kenapa aku bisa sampai kepada pikiran itu?”
“Kau tidak salah, Bung. Sejauh apapun kau berpikir, kau takkan bisa mengelak dari perasaan bodohmu sendiri,” tegas bang Darman sambil menggulung rokok lintingannya.
Mendengar jawaban itu aku sedikit menunduk. Merasa malu. Lagi-lagi, mentalku melemah. Kebiasaanku untuk menerima jawaban-jawaban pahit memang perlu dilatih. Seumpama Timnas Indonesia yang terus berlatih, tapi menerima kekalahan saja sulit rasanya.
Dunia tak pernah bersatu
Perlahan kucoba mengalihkan pembicaraan dengan memikirkan hal-hal lain. Terbesit di kantong kepalaku kisah-kisah yang tak pernah selesai. Seperti kesedihan dan kebahagiaan. Pertemuan dan perpisahan. Pulang dan pergi. Cinta dan benci. Persatuan dan perceraian. Semua itu tumbuh dalam benakku. Bukan sekadar singgah, bahkan tertanam.
“Kenapa dunia tak pernah bersatu, Bang?” tanyaku lagi.
“Sebab dunia hanya bersatu jika kita semua sama-sama memiliki kepentingan yang sama. Dan, berpisah ketika kepentingan sudah tak lagi sejalan. Sebagaimana kita yang lahir dari rahim ibu yang berbeda. Bentuk dan isi yang berbeda, berikut kepentingan-kepentingan yang terkandung di dalamnya.”
“Berarti persatuan itu hanya ilusi?”
“Entahlah. Persatuan itu bukan untuk dipaksakan, kata bung Rocky. Hakikatnya kita berbeda. Seharusnya yang dilakukan orang-orang NKRI harga mati itu adalah mengolah perbedaan, bukan memaksa persatuan. Coba mereka sesekali menaruh harga diskon, bukan harga mati, pasti kita semua merdeka di atas kaki masing-masing, tanpa pernah merasa paling benar sendiri. Hehehehe…” jawab bang Darman.
Ia berhasil mengundang tawa. Kami saling menatap. Kemudian menyeruput kopi yang hampir habis. Eh, ternyata kopiku tinggal ampas. Gigiku menghitam. Bang Darman menyadari dan ia tertawa geli. Akupun ikut menertawai diriku sendiri. Suasana cair dan kamipun bersiap-siap pulang setelah mendengar azan magrib mulai bersahut-sahutan dari masjid ke masjid.
Di perjalanan pulang, aku tidak membawa apa-apa. Termasuk jawaban dari seluruh pertanyaan, “untuk apa semua ini terjadi? Dan, kenapa dunia tak pernah bersatu?” yang cuma dijawab, “entahlah”.
Mungkin, begitulah kehidupan. Hidup lebih banyak memberi pertanyaan ketimbang jawaban.
