kopi travel blog

jauh berjalan banyak dilihat

Basa Basi

“Sebuah kata yang tidak bertendensi buruk, namun juga tidak melulu baik.”


Oleh A. S. Kartik Salokatama

Seperti biasanya, selama masa Adaptasi Kebiasaan Baru yang sedang digalakkan pemerintah ini saya biasa bermain bulu tangkis bersama teman-teman tiap malamnya.

Jujur saja, biasanya saya jarang sekali bergaul dengan teman-teman lingkungan rumah, lantaran kebiasaan pulang larut malam setelah beraktifitas baik di kampus maupun dengan teman-teman lainnya yang jauh dari rumah.

Selesai bermain, sembari membakar sebatang rokok, maka hangat pula perbincangan dan canda tawa malam itu. Sembari menonton teman-teman yang masih bermain, kami yang di pinggir lapangan membincangkan mulai dari sepak bola, politik (tak serius-serius amat), tingkah konyol teman kami di lapangan, sampai guyonan-guyonan santai sebagaimana biasanya.

Kehangatan malam itu baru terasa ketika salah seorang teman yang lebih senior mengatakan sesuatu yang sepertinya memanglah merupakan murni keresahan yang ada di hatinya. Saya tangkap betul rasa itu.

Ia berkata, “anak sekarang ini cemen, nggak kayak dulu kita-kita. Mau main ke rumah teman aja mereka malah chat lewat WhatsApp, bukannya mengetuk pintu sambil mengucap salam”. Begitu kurang lebih ia berkata sambil memainkan perban yang melilit kakinya. (Silahkan didoakan dengan kepercayaan masing-masing, agar kakinya cepat sembuh).

Jujur, awalnya saya masih berpikir soal apa urusannya memanggil lewat WhatsApp saat ingin bermain merupakan suatu kecemenan? Saya malah berpikir bahwa ini bisa-bisaan angkatan atas saja untuk menegaskan bahwa generasi berikutnya tidak lebih baik dari mereka, dan memang itu biasa terjadi.

Lebih lanjut ia menerangkan, “mereka chat lewat WhatsApp itu sebenarnya kan karena mereka malas untuk mengetuk pintu dan berurusan dengan orang rumah temannya itu”. Saya berpikir sejenak dan lama kelamaan saya sadar bahwa asumsi saya sebelumnya, kali ini, tidak tepat. Ini tentu bukan kebiasaan senioritas, ini kenyataan yang–ternyata–memuakkan.

Betul juga. Apa ini yang dinamakan dengan kemajuan mental, jika berbasa-basi dengan keluarga teman saja kita malas sebegitunya? Padahal apa salahnya, dan di mana pula kita harus meletakkan rasa malu?

Nampaknya memang ada sesuatu yang salah dengan generasi kami yang kian hari kian terdampak laku lampahnya imbas teknologi. Bagaimana tidak, malam ini saya baru saja menyadari bahwa sekali lagi teknologi mempengaruhi mental dan kebudayaan generasi kami.

Seperti kata Yuval Noah Harari tentang kecerdasan manusia dalam Sapiens-nya. Manusia makin cerdas secara komunal, namun secara individual pengetahuan manusia menyempit hanya pada keahlian-keahlian tertentu. Sayang, Yuval tidak menyinggung soal perbandingan kecerdasan manusia modern dengan akal budinya.

Pasalnya, setelah menyempitnya cakupan pengetahuan kita, kini, teknologi juga merenggut akal budi dan kebiasaan-kebiasaan kecil (dan manis) bahkan dari bangsa kita, yang notabenenya merupakan sebuah bangsa yang ramah (dan manis, lagi).

Jika kita menarik suatu pandangan dengan skala yang lebih besar, Indonesia merupakan negara yang terkenal dengan keramah-tamahannya. Bangsa kita juga mengenal sebuah frasa yang nampaknya akan sangat sulit diterjemahkan ke bahasa manapun, yakni: “basa-basi”.

Sebuah kata yang tidak bertendensi buruk, namun juga tidak melulu baik. Tergantung kondisinya. Sebuah tindakan yang dapat memperbaiki hubungan lama yang mulai usang, atau membuka sebuah circle pertemanan baru.

Kini segalanya jauh lebih mudah. Basa-basi atau bahkan sopan santun kian tidak dibutuhkan lagi. Dari mulai pesan makanan yang kini tinggal pencat-pencet, hingga cari jodoh yang tinggal swipe kiri dan kanan semaunya. Dengan adanya teknologi, tanpa sadar kita telah kehilangan banyak identitas kita. Kehilangan sebuah ciri moral bangsa yang luhur dan luar biasa bernilai.

Bukan bermaksud melebih-lebihkan, namun ada baiknya di tengah berbagai kemudahan dan simplifikasi yang mempermudah aktifitas, kita perhatikan pula hal-hal kecil yang sebetulnya merupakan ciri kebesaran kita.

Mari kita berhenti mempertanyakan kelakuan supir ojek daring yang selalu saja bertanya, “sesuai pesanan, Kak?” Kalau bisa jangan juga lah terlalu risih dengan tetangga yang selalu bertanya, “mau ke mana, Mas?”, sembari tersenyum manis tiap kita hendak pergi keluar rumah.

Toh, kebiasaan-kebiasaan inilah yang nampaknya akan segera tergerus oleh individu-individu yang termanjakan oleh kemajuan zaman. Tak rugi pula bila kita jawab si Abang supir ojek daring dengan, “iya, Mas, ditunggu, ya.” Tak rugi-rugi amat juga bila kita menjawab pertanyaan tetangga kita sekenanya dengan ramah tamah (dan jangan lupa, dengan manis).

Atau yang lebih mudah, mari kita mulai dari mengetuk pintu rumah teman alih-alih kirim pesan WhatsApp, “gua udah di depan. Buru!”


*Credit foto: Kopi Rakjat

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai