“Syair itu pasti dibuat dengan perasaan yang begitu kaya.”
Oleh Daffa Prangsi Rakisa
Pada tanggal 19 Juli 2020 kemarin, kita semua diterpa berita duka atas meninggalnya seorang pujangga legendaris, seorang penyihir kata yang ajaib. Beliau adalah Prof. Dr. Sapardi Djoko Damono atau kerap dipanggil dengan singkatan namanya, yaitu SDD.
Berita ini cukup menyayat hati banyak orang, khususnya para penikmat bait kata indahnya. Saya sendiri mengenal beliau dari beberapa puisinya yang begitu terkenal. Sebut saja puisi ciptaan beliau yang sangat masyhur dan tentu, yang menjadi favorit saya adalah, puisi “Aku Ingin”, “Yang Fana Adalah Waktu” dan “Hujan Bulan Juni”.
Saya memang tidak mengoleksi buku-buku beliau, saya mengetahui puisi-puisi tersebut dari berbagai blog, berbagai video musikalisasi dan pembacaan puisi beliau. Salah satunya seperti yang dibacakan bung Fiersa Besari, di tahun 2018 lalu.
Eyang Sapardi, sebagaimana ia dipanggil. Ibarat seorang penyihir. Menyihir berbagai kata sederhana menjadi susunan kalimat yang bermakna. Secara tidak langsung untaian kata yang beliau ciptakan menjadi sumber referensi oleh berbagai penulis untuk dibedah, anak muda galau untuk dipajang di instastory atau caption instagram, pelukis jalanan di sudut-sudut tembok kota, dan sebagainya.
Misal, dalam puisi “Aku Ingin”. Puisi yang banyak berseliweran di mana-mana. Dari puisi itu kita mendapat sebuah gambaran tentang kesederhanaan kata, yang setelah dibungkus menjadi syair utuh, membuatnya sudah tidak lagi sesederhana kata-kata yang terkandung di dalamnya.
Saya kagum. Ketika pertama kali membacanya, saya langsung membatin, “syair itu pasti dibuat dengan perasaan yang begitu kaya”. Sebab setelah beberapakali mengulang-ngulangnya, membawa imajinasi saya liar ke mana-mana.
Bukan cuma itu saja. Saya juga mendapat khazanah kata-kata yang baru dan segar. Itulah salah satu karya monumental yang patut kita ingat dan kenang selalu.
Demi mengenang beliau, barangkali para pembaca ada yang belum mengenal siapa beliau. Saya akan mencoba mengutip puisi favorit saya tersebut dan semoga para pembaca sekalian suka. Kemudian mencari lagi, puisi-puisi beliau yang lain. Agar beliau tetap abadi dalam karya dan ingatan kita semua.
Aku Ingin
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana.
Dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu.
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana.
Dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada.
/1989
Saya bersyukur pernah membaca karya beliau, saya bersyukur dalam hidup yang singkat ini, pernah mengenal meski tidak pernah bertatap muka. Seperti seorang sastrawan legendaris yang lain, yaitu Pramoedya Ananta Toer. Saya hanya dapat mengenal melalui karyanya. Tidak dapat mengetahui jejaknya ketika dia masih hidup.
Dan, sekarang setidaknya saya sangat bersyukur pernah mengenal sosok Sapardi Djoko Damono. Maka izinkanlah saya membagikan sebuah bait yang dulu pernah saya buat, yang mungkin secara tidak langsung terinspirasi dari karya-karya beliau yang terolah di dalam ruang ingatan yang kecil ini. Sebagai sebuah tanda, meski saya tidak dibaiat secara langsung sebagai murid, tapi saya sudah menganggapnya selayaknya guru, mentor, sahabat dan idola.
Mimpi
Aku terbangun dari mimpi ini
Kembali pada kenyataan yang begitu pahit
Tapi aku buka mataku dan ilusi mulai memudar
Menyelinap pergi, menjauh, dan menghilang
Pergi dari jangkauan mata
Namun sejauh ini
Aku hanya berbaring di sini sendirian–sekali lagi.
Aku bermimpi kau ada di sampingku
kau berada di sini sekali lagi
Seolah kau belum pernah pergi, dan
Aku ingat ingin mengatakan, memintamu untuk tidak pergi
Tapi aku tahu itu tidak mungkin.
Kau mengatakan “aku tidak bisa tinggal di sini” ketika mataku yang basah mulai terbuka.
Matahari bersinar di ujung cakrawala luas
Sebagai wujud potongan hari
Aku melihat keluar, ke gedung-gedung yang masih buram di pagi buta
Dan pikiranku selalu tertuju tentang dirimu
Apakah aku membayangkan kau di sini,
Tepat di sampingku?
Matamu jelas meraih binar mataku yang begitu sarat akan kenyamanan, kerinduan
Dengan sekilas aku melihat
Sebelum aku sadari kau benar-benar ada di sana
Aku bermimpi kau akan berada di sampingku
Bahwa kita akan bertemu lagi
Matamu berkilau, air matamu jatuh
Aku tahu, kau tidak melupakan masa itu
Kita berbagi saat-saat di mana aku diam-diam melihatmu menghapus air mata
Meskipun aku telah menemukanmu
Aku tahu pertemuan ini tidak akan bertahan lama
Aku harus membiarkanmu terus pergi
Menemukan jalanmu sendiri
Meskipun aku akan merindukanmu
Sudah waktunya bangun dari mimpi ini
/2020
Selamat beristirahat untuk selamanya, Sapardi Djoko Damono. Seorang pujangga magis dan akan selalu dikenang sebagai seorang legenda. Seperti katamu: “Yang Fana adalah waktu, Kita Abadi”.
Semoga semua amal kebaikanmu diterima di sisi Tuhan dan diberikan tempat yang selayak-layaknya.
Foto Sapardi Djoko Damono bersumber dari Kompas
