“Ada ketenangan di situ, bagai penawar bagi barangsiapa yang kelesah hatinya, atau semacam pelarian atas tuntutan modernitas yang semakin banal.”
Oleh Ziyad Ahfi
Ada satu potensi wisata yang menakjubkan terdapat di sudut lain dari sebuah negeri nan elok bernama Kabupaten Kampar, Provinsi Riau, tepatnya di Desa Kebun Tinggi, Kecamatan Kampar Kiri Hulu.
Belasan, bahkan puluhan air terjun, beserta keunikan dan mitos yang terbangun terdapat di sana, sebagai swarga yang dijatuhkan dari langit.
Salah satu yang tertinggi adalah Air Terjun Batu Tilam, yang dikelilingi tebing batu, dan berada di tengah keheningan hutan perawan. Banyak satwa yang sudah amat jarang kita temui di hutan-hutan lain, namun di sini masih terpelihara bersama kearifan lokal masyarakatnya.
Tidak ada sinyal handphone, serta listrik desa hanya memakai tenaga mesin diesel dari jam 6 sore sampai jam 11 malam, membawa kita seakan berada di zaman di mana teknologi belum diciptakan. Ada ketenangan di situ, bagai penawar bagi barangsiapa yang kelesah hatinya, atau semacam pelarian atas tuntutan modernitas yang semakin banal.

Di Air Terjun Batu Tilam, terdapat sebuah goa, yang oleh masyarakat setempat dinamakan Goa Kelelawar. Saat hendak masuk ke dalam goa, Anda akan disambut oleh air terjun yang berjatuhan di mulut goa, dan indahnya, seperti membentuk sebuah tirai.
Belum ada yang bisa mengukur secara pasti panjang goa tersebut. Dari penuturan warga yang pernah selama dua hari dua malam menelusuri ke dalam, bahkan mereka tidak menemukan di mana ujung dari lobang perut bumi ini.
Di dalam goa itu, tutur warga, ada sungai yang airnya jernih dan dingin. Menariknya lagi, di dalam goa tersebut, ditemukan lagi air terjun, yang semakin menambah daya pikat Goa Kelelawar itu.
Namun itu belumlah lengkap, bila Anda belum melihat sekumpulan awan di kaki goa pada waktu pagi hari. Dan ketika matahari merangkak naik, akan ada spektrum berwarna pelangi berpantulan di kejernihan air terjun.

Uki, atau yang lebih dikenal dengan UQ Tuah Mawlana Rumi, Penggagas dan Pegiat Wisata dari Kampar Promotion Community (KPC), menjelaskan bahwa ada dua akses jalan masuk ke Desa Tebing Tinggi, yakni kita bisa masuk dari Lipat Kain ke Batu Sasak dan bisa juga masuk dari Taram, Payakumbuh, Sumatera Barat. Semua kendaraan, khususnya mobil yang bisa masuk ke desa tersebut harus menggunakan double gardan, karena kondisi jalan yang masih berupa pengerasan dengan kontur berbukitan.
Dari kondisi obyektif di lapangan, kata Uki, tidak diragukan lagi jika Air Terjun Batu Tilam sangat menjanjikan untuk menjadi destinasi wisata yang mempesona. Tapi, apalah arti semua itu bila akses masuk ke Desa Tebing Tinggi itu sendiri masih sangat memprihatinkan.
“Kita berhadapan dengan minimnya infrastruktur penunjang, terutama jalan. Sedang untuk akomodasi dan lain-lainnya, kawan-kawan dari KPC bersama warga sedang menggarap area sekitar air terjun untuk menjadikannya sebagaimana layaknya sebuah destinasi wisata,” tutur Uki.
“Makanya untuk saat ini, kita belum memungut biaya apapun kepada wisatawan yang mau datang. Setelah nanti launching secara resmi, kita berharap akan ada rembug dengan aparat desa, bumdes dan masyarakat adat tentang teknis pengelolaan obyek wisata ini, termasuk tentang kebijakan tarif masuk,” tambahnya.

Uki juga berharap agar pemerintah daerah senantiasa memberi dukungan, baik pembangunan fisik maupun nonfisik kepada masyarakat Desa Kebun Tinggi dalam mengelola obyek wisata Air Terjun Batu Tilam secara lebih profesional.
“Kami, beserta masyarakat Desa Kebun Tinggi berharap bisa menyumbang bagi Pendapatan Asli Daerah (PAD). Sokonglah desa kami sesuai dengan khasanah alam semula jadi yang dengan teguh kami pertahankan ini. Kami akan jaga desa dan alam ini sebagai icon bagi Kabupaten Kampar, Tanah Peradaban, yang ramah terhadap alam,” tutup Uki.
Foto-foto bersumber dari dokumentasi KPC
