kopi travel blog

jauh berjalan banyak dilihat

Anxiety Disorder Itu Bukan Gila, Sekali Lagi, Anxiety Disorder Itu Bukan Gila

“Anginnya memang sedang sangat kencang menerpa sekarang, tapi berterimakasihlah, sebab kau masih berusaha berdiri.”


Oleh Taqiya Herman

Tulisan ini merupakan suara dari keresahan saya, yang meskipun awalnya saya tulis sebagai tugas sekolah, juga karena melihat dan merasa sedih dengan maraknya komentar negatif orang-orang yang seringkali abai terhadap isu kesehatan mental, bahkan menolak mempercayai adanya gangguan psikis semacam ini di kehidupan sehari-hari.

Mereka, orang-orang berpikiran negatif itu, seolah menganggap seseorang yang mengalami gangguan kesehatan mental atau dalam bahasa psikologi biasa disebut “mental illness” dan “anxiety disorder” itu sama halnya dengan gila, ya, mereka beranggapan jika pengidap gangguan kejiwaan itu sama dengan “orang gila” yang berpakaian lusuh sebagaimana banyak ditemui di kota-kota modern yang berperadaban.

Padahal, jika seseorang mengalami gangguan kesehatan mental, lalu bukankah itu akan berdampak besar pada kualitas hidupnya sebagai manusia dan mengganggu aktivitas sehari-harinya? Sebagaimana perkataan Robin Brodsky Curtins: “Depresi seperti jatuh begitu jauh ke dalam lubang kelinci sehingga kamu lupa seperti apa langit.”

Maka bagaimana mungkin orang yang mengidap gangguan kecemasan a.k.a anxiety disorder atau bahkan berpenyakit mental atau mental illness tersebut bisa beraktivitas layaknya orang-orang normal dan dapat diterima dengan baik di dalam kehidupan pada umumnya?

Sebelum memutuskan untuk menulis catatan ini, tentu saya atau mungkin beberapa dari para pembaca sekalian, sudah terlebih dahulu pernah merasakan bagaimana rasanya memaksakan tetap menjalankan aktivitas di bawah tekanan mental yang dahsyat. Harus tetap tersenyum dan tentunya tampil riang gembira di hadapan para guru dan teman-teman selayaknya anak remaja SMA seusia saya.

Dan, masa-masa yang paling melelahkan saat seseorang mengalami depresi adalah ketika kau harus berpura-pura tidak mengalaminya. Ditambah lagi hidup dilingkungan yang masih “tabu” dalam diskusi ilmiah tentang gangguan mental, membuat saya kelimpungan sendiri mencari pengetahuan dan mencoba untuk memahaminya.

Lalu, bagaimana cara saya melewatinya?

Sejauh ini, saya belum bisa memastikan apakah saya sudah benar-benar terlepas dari monster mengerikan tersebut atau belum. Karena, tak pelak, sembuh dari penyakit mental tentu sama sulitnya dengan berusaha sembuh dari penyakit fisik yang paling mengerikan. Bukankah sakit adalah sakit, dan ia tidak memiliki metafora bagai puisi-puisi pak Sapardi Djoko Damono?

Dan yang tak terelakkan lagi, hal yang paling ampuh mengobati ke-insecure-an tersebut, menurut saya, adalah adanya dukungan dari orang-orang sekitar. Namun tentu bagi banyak orang, sangat sulit mendapatkan orang yang dapat memahami kita dalam kondisi buruk seperti itu.

Maka hal pertama yang harus kau lakukan adalah meyakinkan diri sendiri bahwa tanpa orang lain pun kau tetap bisa berdiri tegak di atas kedua kakimu sendiri. Kau juga harus meyakinkan diri bahwa yang tahu persis dengan keadaanmu hanya dirimu seorang.

Jonathan Lockwood Huie pernah berkata: “Ketika kamu merasa khawatir dan tertekan, bentuklah senyum di wajahmu dengan sengaja, dan bertingkahlah seceria mungkin sampai perasaan bahagia itu menjadi tulus.” Karena sejatinya, manusia yang paling menakjubkan di muka bumi ini adalah ia yang dapat mencintai dirinya dengan apa adanya.

Anginnya memang sedang sangat kencang menerpa sekarang, tapi berterimakasihlah, sebab kau masih berusaha berdiri. Terima dan belajarlah untuk mencintai dirimu dengan segala kelebihan dan kekurangannya, maka dunia pun akan mencintaimu kembali dengan sendirinya.

Barangkali kalian akan berkata, “ah, ini cuma teori belaka.” Iya, ini memang teori, tapi teori itu tidak pernah jatuh dari langit begitu saja. Teori itu adalah hasil olah pikir manusia atas berbagai pengalaman hidup dan pada akhirnya manusia menemukan hikmah dari itu semua.

Seperti psikoanalis besar, Sigmund Freud, ia tidak sekonyong-konyong menemukan teori dan metode psikoanalisa yang menyembuhkan jutaan umat manusia yang mengidap gangguan kejiwaan hingga hari ini. Sigmund Freud mendapatkan teori itu dari observasi yang lama, dari pengembangan teori-teori sebelumnya, bahkan caci maki orang-orang yang menganggap ia seorang yang gila. Tapi, lihatlah, teorinya dan metode penyembuhannya berkembang dan dapat membantu banyak orang.

Jadi, sekali lagi, yang paling membantu dari upaya menyembuhkan anxiety disorder dan mental illness adalah positive vibes, yakni dukungan yang positif, baik dari diri sendiri maupun dari orang-orang sekitar, dan itu termasuk kita semua.


Taqiya Herman adalah Siswa Kelas V IPS Ponpes Darun Nahdha Tawalib Bangkinang, Riau.

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai