“Sebab dunia yang penuh kebencian itu fana, ngopi abadi.”
Oleh Muhammad Iqbal
Sekian lama mengeram di rumah, saya jadi memupuk kerinduan pada warung kopi. Secangkir kopi panas yang menghangatkan dan juga obrolan ngalor-ngidul dengan kawan hingga larut malam, adalah sebentuk kesyahduan yang sulit tergantikan. Maka setelah Normal Baru resmi dijalankan di daerah saya, ritual menziarahi warung kopi seperti hari-hari biasa, saya amalkan kembali.
Beberapa waktu lalu saya menyambangi warung kopi langganan di ujung jalan dekat kampus, setidaknya ada empat orang kawan yang juga turut hadir dalam persekutuan kami malam itu. Sehabis sholat Isya kami bersepakat untuk bertemu di sana, langsung tanpa perlu tunggu menunggu. Malam itu kami kembali duduk di bangku plastik yang mudah patah senderannya.
Warung kopi itu tak besar dan tidak juga kecil. Banyak meja yang ditumpuk karena harus menyesuaikan dengan protokol kesehatan untuk memberi jarak bagi masing-masing pelanggan. Di tengah warung terdapat layar tancap yang biasa menayangkan pertandingan bola, moto GP, breaking news dan drama korea. Intinya, layar itu adalah layar yang sibuk dan jarang sekali dimatikan.
Warung kopinya terbuka, sehingga memungkinkan semua orang yang melintas di jalan bisa melihat se-isi dalamannya. Tempat tertutup di sana hanyalah dapur, kasir dan juga kamar mandi, selebihnya telanjang, tak bertembok dan tak bersekat.
Berbicara mengenai warung kopi, tentunya tak akan pernah lepas dengan minuman andalan semua kawula, yaitu kopi tentu saja. Sebagian warung kopi yang ada di kota Katulistiwa ini menggunakan bubuk kopi dari warung kopi Asiang, warung kopi yang terkenal se-antero kota Pontianak. Mungkin kawan-kawan juga pernah mendengar tentang warung kopi Asiang, yang terkenal dengan Barista bernama Asiang, dengan ciri khas bertelanjang dada.
Dengan posisi duduk yang berjarak dan masker yang menghalangi senyuman masing-masing, kami kembali bersua setelah sekian lama hanya berkomunikasi lewat dunia maya. Kembali menikmati suasana warung kopi yang mengasyikkan. Saya rasa interaksi di warung kopi kerap kali jauh lebih kompleks, tidak hanya mengasyikkan, tapi juga memiliki sensasi yang berbeda, apa ya, pokoknya bedalah. Wqwq..
Hal-hal menyenangkan dari warung kopi hadir berkat orang-orang yang ada di dalamnya. Senda gurau yang mengocok perut, obrolan-obrolan, dari yang ringan hingga pembahasan yang berat-berat, apa saja akan dibahas di sini. Semua terlihat penuh semangat dan bergairah mengeluarkan pendapat-pendapat mereka. Bebas.
Walau tak selalu sependapat, tak sejalan pikiran dan pilihan, saya kira percakapan di warung kopi tak pernah berakhir dengan main bawa-bawa perasaan. Seperti saat saya suatu kali mengikuti musyawarah sebuah organisasi, yang hanya karena beda pendapat setitik, sampai-sampai main lempar kursi sebelanga, lempar meja, pukul-pukul alay, dan tingkah polah norak lainnya.
Kalau mengingat dinamika kericuhan sidang, yang menurut saya lebih cocok disebut dengan ruang adu fisik ketimbang ruang adu intelektualitas itu, arena kuat-kuatan otot bukan otak, saya jadi kasihan kepada Presidium Sidang, apalagi ia adalah kawan dekat saya. Tapi tenang, hal seperti itu jarang sekali terjadi di warung kopi. Meski sesengit apapun perdebatan, sepanas apapun pembahasan, senyaring apapun suara yang keluar, pada akhirnya pembahasan akan ditutup dengan saling tawa ataupun ejekan-ejekan antara kawan. Tak pernah sampai ada yang menyiram kopi ke muka lawan bicaranya ketika mereka tidak saling sependapat.
Dari warung kopi, baik suasana maupun orang-orang di dalamnya selalu istimewa di mata saya. Memang tak semewah warung kopi yang ber-AC ataupun tempat yang menyediakan pemandangan yang instagramable. Karena di warung kopi, mereka “menyediakan” kenyamanan dan ketenteraman supaya pelanggan-pelanggannya bisa saling bercengkrama.
Maka dari itu warung kopi bagi saya tak sekedar tempat bersantai, ataupun tempat menyeruput segelas kopi, akan tetapi, ia adalah tempat di mana saya bisa menertawakan hidup sembari sejenak melupakan hingar-bingar dunia. Tempat di mana saya dan kawan-kawan dapat saling berpendapat dengan rasa hormat. Sebab dunia yang penuh kebencian itu fana, ngopi abadi. Kapan-kapan bila kawan ber-anjangsana ke kota Pontianak, bolehlah kita ngopi dengan sederhana.
