“Ia malah iba dan tak tega untuk melukainya.”
Oleh Nanda Nadya
Teddy Bear, barangkali, adalah sesuatu yang melekat pada diri kita di masa kecil dulu — bahkan mungkin hingga sekarang. Tapi, rasanya ada yang kurang jika kita hanya memainkan dan mengoleksinya tanpa tahu asal muasal kehadiran si lucu “Teddy Bear” tersebut.
Pada tulisan kali ini, saya berharap — kita khususnya, sebagai orang yang sudah “berumur”, tak hanya sekadar membeli atau memberikan boneka ini pada adik, anak, ponakan atau kepada siapapun itu, tanpa menukil kisah-kisah tentangnya.
“Kok Boneka beginian doang ada kisahnya?”
Tentu, boneka ini bukan karakter yang sembarangan, itulah kenapa sampai ada Museum Teddy Bear segala di Jeju Island, Korea Selatan.
Mungkin ada yang sudah tahu, dan ada juga yang belum. Untuk yang tahu, yuk berbagi kepada yang belum tahu. Bagi yang belum, mari sini saya ceritakan sedikit tentang boneka “Teddy” yang saya tahu. Duduk yang rapi, siapkan minuman kalian, dan teruslah membaca sampai tuntas.
Baik, mari kita mulai hari yang cerah ini dengan sebuah pertanyaan: Kenapa ia diberi nama Teddy Bear? Kenapa bukan Kim Jong Unch?
Jadi begini, ternyata, nama Teddy Bear ini diadopsi dari nama Presiden Amerika Serikat yang ke-26. Yak! Benar! Namanya adalah Theodore Roosevelt. Belio memiliki nama pangggilan yang akrab disapa Teddy.
“Lah? Kan gak ada nyambung-nyambungnya?”
Ceritanya, dulu Mbah Teddy ini menyukai kegiatan “berburu”. Namun sayangnya, kecintaannya tersebut jarang membuahkan hasil. Sehingga pada suatu ketika, pengawalnya merencakan sesuatu, secara diam-diam, mereka meletakkan anak beruang di sebatang dahan. Agar Mbah Teddy tidak bersedih dan putus harapan. Supaya ia merasa bahwa usahanya selama ini bisa dibayar tuntas oleh seekor beruang kecil itu.
Benar. Mbah Teddy langsung senang bukan kepalang ketika melihat seekor beruang dengan posturnya yang khas beruang mungil, lucu dan imut bertengger di pokok kayu. Yang terjadi justru di luar dugaan, Mbah Teddy sama sekali tidak menggunakan senapannya. Ia malah iba dan tak tega untuk melukainya. Baginya, memburu anak beruang bukanlah sesuatu yang terhormat, apalagi mengingat ia adalah seorang pemburu sejati.
Pada akhirnya, berita tentang kelembutan hati Mbah Teddy kepada si beruang kecil ini masyhur ke seluruh penjuru Amerika, bahkan dunia. Sehingga orang-orang pun mulai menyukai sampai berlomba-lomba mengoleksi dan membuat boneka anak beruang dan menamakannya Teddy Bear.
Moris Michtom, pria asal Amerika, beserta Margarette Steiff yang berasal dari Jerman, adalah 2 orang yang memiliki inisiatif untuk pertama kalinya membuat boneka Teddy Bear untuk tujuan komersil. Dengan memanfaatkan momen dan cerita kesohor tersebut.
Nah, setelah kita mengetahui sejarah singkat dari penamaan Teddy Bear, ada baiknya juga kita mengenal destinasi apa saja yang banyak menyimpan koleksi boneka Teddy Bear. Dan kebetulan pula, senada dengan nama blog kita ini, yaitu “Travel”. Jadi, merupakan sebuah keniscayaan juga, kan, kalau tulisannya memuat segala sesuatu yang berbau perjalanan, hehe. Barangkali juga, ketika pandemi ini musnah, kita berkesempatan berkunjung ke Museum Teddy Bear, di Jeju Island, Korea Selatan.

“Memangnya apa sih yang akan kita temukan di sana?”
Kita akan menemukan berbagai macam boneka Teddy yang mengenakan atribut-atribut lucu, khas dari berbagai macam negara, beserta para selebriti, tokoh-tokoh politik, grup band terkenal, dan apa saja dari seluruh penjuru dunia.
Seperti selebriti Marylyn Monroe (anak sekarang ada yang kenal?), sosok wanita di lukisan Monalisa, group band The Beatles, bahkan Presiden Barrack Obama pun, dapat kita temui di sana. Dan masih banyak lagi tokoh-tokoh dunia lainnya yang terdapat di Museum ini. Coba saja search kalau mau melihat detilnya.
Ruangan di Jeju Teddy Bear Museum ini terbagi menjadi 3 bagian, pertama, yakni ruang sejarah yang berisi boneka Teddy Bear langka dan cukup tua — bahkan ada yang umurnya mendekati 100 tahun. Kemudian, terdapat ruang seni yang menyimpan hasil cipta para desainer boneka pada masa sekarang. Dan di ruang seni ini pula, terdapat boneka Teddy terkecil di dunia, yang konon katanya hanya berukuran 4,5 mm dan boneka itu baru dapat dilihat secara jelas dengan menggunakan kaca pembesar. Dan yang terakhir adalah ruang pameran, di mana di ruangan ini setiap Teddy Bear dipajang sesuai dengan tema yang ada. Misalnya, Teddy Bear yang mengenakan baju tradisional Korea (hanbook) dalam sebuah pesta pernikahan. Boneka ini sekaligus bertujuan untuk memperkenalkan kebudayaan di sana.
Lagi pula, rasanya terlalu hambar jikalau bepergian tanpa membawa buah tangan. Bukan begitu, kawan-kawanku yang baik dan lucu?
Di Jeju Teddy Bear Museum ini, kita juga akan menemukan toko suvenir yang menjual berbagai macam pernak-pernik berbau Teddy Bear; seperti handuk, gantungan kunci, tas, hingga boneka Teddy yang dapat dibeli dan dibawa pulang.
Selain itu, untuk orang-orang yang memiliki hobi selfie dan eksis di dunia maya, di Jeju Teddy Bear Museum, juga menyediakan tempat yang instagramable banget! Salah satunya adalah taman yang diberi nama “Teddy’s Forest”. Di sini, kita akan menjumpai banyak Teddy Bear berukuran besar, Teddy Bear sekeluarga yang sedang piknik di taman, Teddy Bear yang sedang memancing ikan, dan lain-lain. Yang pastinya, haqqul yakin, kalau yang motoin jago, ya, pasti bakal mempercantik feed dan konten anda. Ingat, ya, kalo yang motoin jago. Kalo nggak, yauda. Belajar-belajar potret dulu sebelum berangkat. Hehehe.
Sejauh ini bagaimana, Gengs? Tertarik untuk mengajak keluarga, sahabat, atau pujaan hati ke Jeju Teddy Bear Museum? Kalau aku sih, yes! Tapi kumpulin duit dulu, ya.
Selamat menabung.
Foto-foto bersumber dari littledayout.com
