kopi travel blog

jauh berjalan banyak dilihat

Selimbau, Negeri di atas Air

“Selain dijuluki sebagai Negeri di atas Air, Selimbau juga dijuluki sebagai Negeri Anggrek.”


Oleh Nanda Nadya

“Sungguh indah kampung halamanku, di kaki gunung yang biru. Di mana sungai mengalir, airnya jernih berdesir-desir”

Begitu untaian lirik lagu anak-anak karya Bu Sud. Lagu yang melekat dan mendapat tempat di dalam kepala saya. Sebab ia kerapkali mengingatkan saya kepada “Negeri di atas Air”, yaitu negeri Selimbau, sebuah kecamatan yang terletak di kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat.

“Kenapa ya, kok bisa sih disebut Negeri di atas Air?”

Sebab kampung ini berdiri tegak di atas air. Ada daratan yang membentang, tetapi hanya sebatas di ujung desa saja, yang mana sejak zaman dahulu berfungsi sebagai kompleks pemakaman raja-raja Selimbau. Dari potret sejarah, kampung Selimbau ini merupakan salah satu kerajaan besar yang terdapat di Kalimantan Barat. Bahkan, menurut data yang saya dapatkan dari buku “Pasak Negeri Kapuas 1616-1822” yang ditulis oleh Tomi, SPd., bahwa pada tahun 1886, kerajaan Selimbau berhasil menaklukkan 20,33% wilayah Kalimantan Barat.

Raja pertamanya bernama Sri Paduka Maharaja Bindu Mahkota. Konon katanya, raja pertama Selimbau ini berwujud serupa raksasa dan berbekal senjata palu godam serta keris permata. Pada masa itu pula, kerajaan Selimbau menganut agama Hindu, sebelum akhirnya kerajaan ini dipimpin oleh raja yang menganut dan menyebarluaskan ajaran Islam.

Kini situs kerajaan itu sudah menjadi cagar budaya. Para pelancong dari luar maupun dalam negeri silih berganti hilir mudik mengunjungi negeri ini. Mereka biasanya berkunjung menggunakan speed boat atau sampan, yang kebanyakannya berziarah mengunjungi makam raja-raja.

Salah satu makam di Selimbau (foto: kemendikbud)

Selain itu, Selimbau kerapkali dipenuhi oleh para peneliti anggrek. Selain dijuluki sebagai Negeri di atas Air, Selimbau juga dijuluki sebagai Negeri Anggrek.

“Wah.. Pasti karena banyak sekali tanaman anggreknya, ya?”

Yap, tepat sekali. Beberapa tahun silam, para peneliti bekerja sama dengan pecinta anggrek dan mengajak para penduduk setempat untuk mendata anggrek yang terdapat di hutan Selimbau. Dan kalian tahu? Mereka menemukan kurang lebih 40 jenis tanaman anggrek yang berbeda!

Anggrek-anggrek dari berbagai jenis itu bergelantungan di atas air kampung Selimbau, dan bertengger cantik pada batang-batang pohon tua. Ketika bunga anggrek merekah, semerbak harum anggrek pun memancar, memanjakan indera penciuman para pelancong yang melewati barisan anggrek tersebut.

Sementara itu, untuk melindungi kekayaan pesona yang terdapat di hutan Selimbau ini, pada tanggal 28 April 2008, lokasi ini diresmikan sebagai “Taman Anggrek Alami Selimbau.”

“Jenis-jenis anggrek yang terdapat di hutan Selimbau ini apa aja, sih?”

Jenis anggrek yang ada di hutan Selimbau ini, di antaranya; Renanthera sp, Dendrobium Scundum, Anggrek Tebu (Gramatophyllum Speciosum), Anggrek Hitam (Coelogyne Pandurata), dan masih banyak yang lainnya.

Kalau teman-teman berkunjung, pasti pemandangan yang tak asing adalah pemandangan anggrek hitam. Akan tetapi, meski anggrek hitam mudah sekali ditemukan di hutan Selimbau, tetap saja ia merupakan anggrek yang langka dan dilindungi. Jadi, kalau kalian berkesempatan untuk mengunjungi Selimbau, jangan sekalipun iseng memetiknya, ya!

Selimbau memang terkenal dengan berbagai macam ragam tanaman anggrek, tetapi ada tanaman yang tak kalah eksis, yaitu Kantong Semar (Nephentes), tanaman yang turut menghiasi keindahan hutan Selimbau.

Jadi, apa yang terlintas di dalam pikirkan kalian setelah membaca sekilas tentang Selimbau dan kekhasan yang terkandung di dalamnya? Apa Selimbau sudah masuk ke dalam “next destination lists” kalian untuk traveling apabila COVID-19 ini usai?

Negeri di atas Air (foto: travelblog.org)

Kalau aku sih, yes!


Foto depan bersumber dari travelblog.org

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai