“Selebihnya, orang-orang di luar kualifikasi itu bagaimana?”
Oleh Anta Permana
Ada yang menarik dari perdebatan di twitter dalam minggu ini, yang dimulai dari sebuah kritik atas kritik tentang pernyataan, “Problem utama para aktivis itu cuma satu, yakni bahasanya ndakik-ndakik alias susah dipahami.” Sebetulnya apa yang disebut sebagai problem utama di kalimat tersebut juga merupakan sebuah ungkapan problematik juga, sebab ada banyak sisi yang bisa dijenguk dari berbagai sudut pandang dan bantahan serta dukungannya masing-masing. Betul bahwa bahasa yang ndakik-ndakik dengan berbagai istilah akademik dan filosofis itu terkesan ekslusif dan hanya bisa dimengerti oleh kalangan tertentu saja. Namun, dari sisi yang berbeda justru ketika ada ungkapan atau bahasan yang tidak dimengerti, di situ dituntut keseriusan pembaca untuk mencari tahu tentang makna kata, frasa atau kalimat tersebut, di situ juga dituntut kesungguhan ingin tahu atau sekadar ikut meramaikan saja tanpa paham tentang pokok bahasan yang didiskusikan.
Saya sungguh amat menikmati perdebatan itu, baik dalam muatan pokok perdebatannya, sekaligus juga orang-orang hebat yang berdebat di dalamnya (dan tentu saya dengan amat terpaksa tidak mengikutsertakan para netizen yang jari-jemarinya lancung dan lancang, tanpa membawa perspektif apa-apa kecuali, ya, bacot). Bahwa perdebatan itu baru dikatakan berdebat adalah ketika satu pokok perkara bisa didukung atau ditolak berdasarkan sudut pandang yang kuat, baik logika maupun dalil. Orang bebas saja memilih untuk mendukung sambil menguatkan satu pernyataan, asalkan memiliki sudut pandang, logika dan dalil yang baik. Apalagi jika disampaikan dengan teknis kalimat yang rapi, struktur yang kuat, serta ditambahi bahasa yang mudah dan jelas, tentu saya dan anda yang terlibat sebagai pembaca akan mendapatkan banyak pengetahuan (baru) di situ.
Dari fenomena tersebut, saya sebenarnya membawa satu kegelisahan lain, yakni sebagai pembaca atau, katakanlah, peserta diskusi yang pasif, sempat tebersit di pikiran saya, “Apakah orang-orang hebat (dalam makna yang sebenarnya) yang berdiskusi ini adalah orang-orang yang menentukan sebuah standar sesuatu itu berkualitas sebagai sebuah perbincangan ilmiah? Ukurannya apa?”
Tentu saja, saya tak menampik bahwa para penulis dan aktivis terkenal itu adalah orang-orang yang punya pengetahuan dan pengalaman mumpuni di bidangnya, mereka juga berprestasi, serta memiliki jejaring yang luas, baik itu pribadi maupun institusi, secara nasional dan internasional. Tapi, sekali lagi, apakah jika ukurannya pengetahuan dan pengalaman yang mumpuni saja yang layak untuk didengar atau terterima sebagai sebuah kebenaran yang diakui? Apakah orang-orang yang kesulitan menembus akses atas pengetahuan sekaligus pengalaman berjejaring tidak pantas didengar dan diverifikasi sebagai sumber pembentuk opini? (Saya tentunya dalam hal ini mengecualikan para pemalas membaca dan belajar).
Contoh sederhana saja, ketika dengan amat terpaksa institusi pendidikan kita harus melakukan metode belajar daring, terlihat sekali ada jurang yang jauh antara kota dan desa, antara pusat dan daerah di dalam menjalankan proses belajar mengajar, terutama terkait akses internet dan biaya yang dibutuhkan. Ada faktor kesenjangan teknologi dan ekonomi yang menjadi faktor pembeda. Dalam sektor pendidikan saja, sudah terlihat ketimpangan itu. Lalu, bagaimana dengan ketimpangan antara orang berpendidikan dengan yang tak berpendidikan, apakah hanya yang berpendidikan saja yang layak dikutip sebagai narasumber di dalam pencarian apa yang benar, atau minimal apa yang seharusnya?
Secara metodologis, bisa jadi kita tak boleh melabrak begitu saja adab (standarisasi) pengetahuan, tapi yang saya maksud adalah siapa sumber penjelasan dan siapa saja yang layak untuk didengarkan? Di situlah seharusnya dibawa konteks yang ndakik-ndakik tadi, artinya: Apakah hanya yang ndakik-ndakik (dalam arti ilmiah, filosofis, akademik, you named it, lah) yang layak didengar? Tentu tidak, bukan?
Di dunia ini, kata Eka Kurniawan, meskipun kesetaraan merupakan jargon yang diucapkan nyaris setiap hari, banyak orang atau kelompok yang tetap tersingkir dari gelanggang. Meskipun jargon semua manusia memiliki hak dasar yang sama, tetap saja muncul sekelompok orang merasa bisa mengatur sekelompok yang lain.
Dalam dunia kepenulisan, umpamanya, tidak semua orang bisa menembus media besar dan bebas (memiliki privilege) mencurahkan opininya. Dalam dunia penerbitan apalagi, hanya sebagian kecil orang yang punya basis pengetahuan, riwayat pengalaman, serta keahlian dalam menulis belaka yang bisa mengakses dunia tersebut dan menerbitkan buku. Selebihnya, orang-orang di luar kualifikasi itu bagaimana? Apakah selamanya suara mereka hanya menjadi kumpulan suara-suara yang terwakili di dalam opini, persis seperti keterwakilan mereka di dalam ranah politik?
Saya kira, sudah saatnya orang-orang di luar gelanggang itu didengar suaranya, tulisan-tulisan mereka dibaca. Kita tidak perlu mendikotomikan suara mereka sebagai opini yang dangkal dan tulisan mereka sebagai tulisan yang buruk. Bisa jadi dalam kerangka ndakik-ndakik (akademik), suara dan tulisan mereka berada di luar keadaban ilmiah. Tapi, bukankah sebagai manusia, suara dan tulisan mereka adalah sesuatu yang lain, yang bisa jadi lebih berkualitas–atau minimal lebih ‘seharusnya’–dari apa yang tengah kita perdebatkan dengan ndakik-ndakik itu?
Foto Kaleng Kerupuk dari turbosquid.com
