“Sebuah catatan atas Aksi Donasi dan Penghargaan dari Album Sejarah Indonesia kepada Veteran Republik Indonesia.”
Oleh Rully Agassy Fatwa
Senin, 31 Agustus 2020. Kami berlima mendatangi kediaman mbah Soetadji di Jl. Sultan Agung, Kota Blitar. Kami disambut ramah oleh Ibu Ita, putri dari mbah Soetadji. Beberapa saat kemudian, seorang lelaki sepuh dengan seragam Veteran menghampiri kami dari dalam rumah. Dengan seragam yang ia kenakan, beliau masih terlihat gagah.
“Saya kira tidak jadi datang, saya sudah menunggu dari tadi,” ucapnya dengan tertawa. Usianya sudah 90 tahun, tapi fisiknya masih terlihat sehat. Namanya Soetadji, memiliki nama asli Moh. Bakrun. Kelahiran Talun, Blitar pada tahun 1930. Beliau anak bungsu dari dua bersaudara, kakaknya bernama Moh. Bakrie. Ayahnya meninggal ketika beliau berumur 20 hari, dan beliau diangkat oleh keluarga lain. Nama “Soetadji” sendiri memiliki kisah yang unik, karena ayah asuhnya menyukai rokok merk “Soetadji”, jadilah ia dinamakan sesuai dengan merk rokok tersebut.
Tahun 1945, saat berusia 15 tahun beliau bergabung dengan BKR (Badan Keamanan Rakyat) di Blitar dengan mengaku berumur 17 tahun saat itu. Motivasi beliau masuk tentara adalah melucuti tentara Jepang di Garut, Jawa Barat. Tugas pertamanya, yakni memberitakan Proklamasi ke masyarakat Blitar.
“Kita sekarang sudah merdeka, kita sudah terbebas dari penjajah Jepang dan Belanda, kita sudah memiliki Presiden Sukarno dan Wakilnya Moh. Hatta, masyarakat harus memasang bendera Merah Putih,” ucapnya kepada kami.
Setelah itu ia ditugaskan di Kediri, untuk menjaga gudang senjata dan kendaraan tempur hasil rampasan dari tentara Jepang. Sempat juga mengawal logisitik beras dengan kereta api ke Cilacap, Jawa Tengah. Sedangkan tugas melucuti Jepang di Garut, tidak pernah terlaksana karena itu hanyalah propaganda kepada masyarakat agar ikut bergabung dengan BKR.
“Saya rencananya mau ditugaskan ke Yogya, sudah berangkat dengan kereta api. Tapi, di tengah perjalanan kami harus kembali ke Blitar karena Belanda melancarkan Agresinya tahun 1947,” ucapnya dengan nada tegas kepada kami.
Di Blitar beliau bergabung ke dalam Batalyon Branjangan, menjadi Wakil Komandan Brigade. “Saya usia muda, tetapi anak buah saya di atas saya. Hebat, kan?” katanya, dan membuat kami tertawa.
Ketika melakukan penyerangan terhadap Belanda di Wlingi, saat itu ada dua batalyon, di utara dari Batalyon Sikatan sedangkan selatan Batalyon Branjangan. “Seharusnya serangan dimulai jam 4 sore, namun keberadaan Sikatan diketahui Belanda dan terjadi pertempuran pada jam 11 siang,” kenang mbah Soetadji.
Pertempuran besar pun berkobar sampai jam 5 sore, stasiun Wlingi menjadi basis pertahanan TNI. Di Wlingi inilah beliau hampir gugur diterjang peluru sniper Belanda.

“Setelah pertempuran usai, saya dan rekan-rekan melihat kondisi di sekitar Stasiun Wlingi dengan membawa SMR Bren buatan Australia dengan laras di pundak. Tiba-tiba, sebuah tembakan mengenai laras senjata saya yang dekat dengan telinga kanan, mungkin kepala saya jadi incaran dia. Saya terhuyung dan berputar tiga kali lalu terjatuh,” kenangnya. Karena kejadian tersebut, telinga kanan beliau terganggu disebabkan efek hantaman peluru yang mengenai laras senjata. Beliau bersyukur telah berhasil lolos dari maut. Selama pertempuran melawan Belanda, 80 rekan seperjuangannya gugur.
Aksi heroik lainnya, ketika beliau mengawal Panglima Besar Jenderal Soedirman dari Kediri menuju Surabaya sekitar tahun 1945-1947. Konvoi iringan Panglima Besar Jenderal Soedirman diserang Belanda di sebuah jembatan di Jombang. “Saat itu Jenderal diamankan di bawah jembatan, saya dan rekan-rekan membalas serangan Belanda di atas jembatan,” ucap mbah Soetadji.
Setelah aman, Jenderal Soedirman segera ke atas dan menghampiri pasukan. “Beliau berkata, ‘bagus, bagus, bagus,’ sambil memegang pundak saya,” kenangnya dengan bangga. Lagi-lagi, mbah Soetadji lolos dari maut akibat sergapan musuh.
Saat kami melihat album foto lawas beliau. Beliau berkata, “jangan salah, Pejuang Indonesia ganteng-ganteng, lho. Tidak kalah ganteng sama artis sekarang,” kami semua tertawa.

Mbah Soetadji menikah di tahun 1958, dan dikaruniai dua anak. Pensiun dari TNI AD di tahun 1983 dengan pangkat terakhir Mayor. Sang Istri mendiang Winfrida Maria Supijah yang sudah setia menemani selama 60 tahun, sudah berpulang terlebih dahulu di bulan Maret 2018. Lalu, kami mengakhiri wawancara dengan memberikan piagam penghargaan dan sedikit oleh-oleh kepada mbah Soetadji, raut wajah senang kami terima darinya
“Walaupun saya terlihat sehat, sebenarnya saya sudah lelah,” ucapnya dengan tersenyum sambil mengantarkan kami ke pintu gerbang.
- Rully Agassy Fatwa, Dewan Penasehat Album Sejarah Indonesia
- Foto dokumentasi Album Sejarah Indonesia
