“Makin ke sini, kita menjadi kesulitan melihat persetubuhan antara negara yang seharusnya menjaga dan memastikan rakyatnya sejahtera dengan kebijakan yang kapitalistik.”
Oleh Anta Permana
Jeff Bezos, founder dan CEO Amazon, ditahbiskan oleh Forbes sebagai orang paling kaya di dunia dengan total kekayaan sebesar 204,6 milyar USD, selisih lebih banyak 90 milyar USD dari Bill Gates sebagai orang kedua terkaya sejagad raya. Yang menarik dari laporan tersebut adalah lonjakan harta Jeff terjadi karena adanya perubahan perilaku belanja konsumen selama masa pandemi virus corona yang berimbas kepada naiknya nilai perdagangan Amazon.
Selang sehari dari rilis Forbes tersebut, seratusan karyawan dan mantan karyawannya, yang dipimpin oleh Chris Smalls, mantan karyawan yang dipecat karena mengkritik kebijakan jam kerja, upah murah dan orang-orang yang terinfeksi corona tetap ‘dipaksa’ bekerja, berdemonstrasi di depan rumah mewah Jeff Bezos. Chris Smalls merupakan co-founder dari The Congress of Essential Workers (TCOEW), sebuah organ gerakan buruh yang didirikan pasca konsolidasi para buruh sekaligus memperingati May Day (1 Mei 2020) yang menentang perusahaan-perusahaan, termasuk Amazon, atas perlakuan buruk mereka kepada para buruh selama masa pandemi ini.
Lonjakan kekayaan Jeff Bezos yang fantastis tersebut, ternyata meninggalkan jejak ketidakadilan bagi para buruh esensialnya, yakni mereka yang bekerja di sektor penting dalam menjalankan roda bisnis jual beli online seperti Amazon. Buruh esensial itu terutama yang bekerja di bagian pengepakan dan pengiriman barang, yang merupakan tenaga paling terdepan di dalam menggerakkan bisnis yang kemudian menjadikannya sebagai manusia terkaya di planet bumi ini.
Fathimah Fildzah Izzati dalam review atas buku Bullshit Jobs: A Theory karya David Graeber menjelaskan tentang istilah pekerja yang disebut “bullshit jobs” dan pekerja dengan “shit jobs”. Pekerja bullshit jobs mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang tidak berguna namun mendapatkan upah yang baik (biasanya adalah para pekerja kerah putih atau white collar), sedangkan para pekerja shit jobs melakukan kerja yang dibutuhkan untuk diselesaikan dan bermanfaat bagi masyarakat, tetapi bekerja di bawah kondisi kerja yang buruk (sebagian besar pekerja kerah biru atau blue collar).
“Adanya kebijakan kerja dari rumah (work from home) untuk mengantisipasi penyebaran virus ini,” tulis Fildzah, “menunjukkan bahwa sebetulnya banyak sekali bullshit jobs di sekeliling kita (mungkinkah kita sendiri yang melakoni salah satu pekerjaan ini?).”
Di bagian lain, Fildzah menjelaskan bahwa para tenaga medis, pekerja kebersihan, buruh media, buruh supermarket, buruh pabrik dan para kurir perusahaan berbasis aplikasi digital di bawah gig economy (ini tentu termasuk para buruh yang berdemonstrasi di depan rumah Jeff Bezos) dapat dengan tegas dikategorikan sebagai shit jobs, karena pekerjaannya esensial bagi kehidupan banyak orang, tapi seringkali bekerja dalam kondisi kerja yang buruk, bahkan hanya berstatus sebagai pekerja alih daya (outsourcing).
Bisakah kita membayangkan dunia yang tengah dikungkung pandemi sebegini hebat dengan tanpa orang-orang dengan pekerjaan shit jobs melayani kehidupan kita? Sedangkan apabila tanpa para pekerja bullshit jobs, roda kehidupan akan tetap berputar, tapi justru mereka malah mendapatkan gaji dan fasilitas yang lebih baik.
Daftar antrean pailit memang tengah diisi oleh perusahaan dari berbagai sektor, mulai dari restoran, ritel pakaian dan perlengkapan rumah, produsen minyak, hingga maskapai. Misalnya, NPC International selaku pemegang waralaba 1.200 gerai Pizza Hut dan sekitar 400 restoran cepat saji Wendy’s di AS mengajukan pailit karena terlilit utang 1 miliar USD (sekitar Rp. 14,56 triliun). Muji, perusahaan ritel asal Jepang dengan produk-produk dekorasi rumah tangga, alat tulis, hingga pakaian, juga mengajukan kebangkrutan karena terbeban utang sebesar 50 juta USD (sekitar Rp. 728,34 miliar) hingga 100 juta USD (sekitar Rp. 1,46 triliun).
Namun, di sisi yang lain, perusahaan yang bergerak di e-commerce seperti Amazon malah untung besar akibat pandemi global corona virus ini. Sampai-sampai Muji sendiri mengalihkan fokus bisnisnya ke wilayah e-commerce. “Muji telah merasakan efek dahsyat pandemi virus corona pada ritel yang berada di dalam gerai. Di AS, perusahaan akan fokus pada pasar regional dan e-commerce,” ujar CEO Muji, Satoshi Okazaki.
Artinya, pandemi ini hanya merontokkan beberapa pemilik modal, tapi mengakumulasi modal pada jenis usaha yang lain. Artinya lagi, ia tidak serta merta menghancurkan tatanan kapitalisme itu sendiri. Sebagai sebuah ideologi yang dipraktekkan, kapitalisme tetap eksis. Pun, begitu pula dengan corak produksi kapitalistik yang melanggengkan penindasan terhadap kelas pekerja. Fakta bahwa Jeff Bezos menjadi sangat kaya raya akibat pola konsumsi yang berubah, dan pada saat yang sama ia mengafirmasi bahwa ketidakadilan bagi kelas pekerja semakin nyata.
“Berilah alasan yang bagus kenapa kami tidak pantas mendapatkan gaji minimum 30 USD ketika pria ini menghasilkan 4.000 USD (Rp. 58 juta) per detik,” gugat Chris Smalls.
Bagaimana Ketidakadilan Itu Bekerja?
Jika kita merujuk pada awal mula perkembangan kapitalisme, sejatinya ia memiliki logika yang tak berubah sampai hari ini. Teori-teori yang membahas tentang kapitalisme selalu beranjak pada akumulasi primitif, seperti logika yang dibangun David Harvey. Dalam kerangka logika kekuasaan kapitalis, menurut Harvey, sang kapitalis akan terus-menerus berusaha mengakumulasi kapital di manapun dan kapanpun guna meraih profit yang semakin banyak tanpa terinterupsi. Sang kapitalis berorientasi untuk mengejar keuntungan individual dan hanya bertanggungjawab kepada lingkaran terdekat. Sang kapitalis beroperasi dalam ruang dan waktu yang kontinyu. Perusahaan atau korporasi kapitalis datang dan pergi, berpindah lokasi, merger, atau menutup usaha. Pada titik ini, saya setuju dengan filsuf Prancis, Henri Lefebvre yang mengatakan bahwa kapitalisme bisa bertahan hidup lewat penciptaan ruang-ruang produksi baru (production of space), itulah sebabnya mengapa kapitalisme bisa dengan cepat beradaptasi melewati berbagai krisis dengan kemampuannya mereorganisasi diri, meskipun pada beberapa hal David Harvey mengkritisi pikiran Lefebvre terutama dalam kegagalannya menjelaskan secara tepat bagaimana atau mengapa hal itu (production of space) bisa demikian.
Dari logika di atas, kita bisa melihat bahwa kapitalisme hanya fokus kepada usaha akumulasi untuk akumulasi itu sendiri. Apa yang menjadi tuntutan para buruh itu hanya akan dilihat sebagai sesuatu yang inefisiensi, sesuatu yang kontraproduktif terhadap logika akumulasi kapital. Ditambah lagi pada negara-negara neo-liberalis yang kemudian menjadi fasilitator sekaligus supporter yang loyal bagi kaum kapitalis dengan produk hukum semacam omnibus law, dan sebagainya. Watak negara yang borjuasi ini tentu amat diperlukan untuk menyemai “iklim investasi”, tempat di mana modal itu bisa terakumulasi dengan baik.
Dengan deskripsi yang demikian, sekiranya bisa dilihat bagaimana orang-orang seperti Jeff Bezos mendapatkan ekosistem yang nyaman untuk menjadi kaya raya, sebaliknya para buruh dengan shit jobs tetap diperas tenaganya dengan upah minimum yang ditekan serendah mungkin, ditambah lagi dengan status sebagai pekerja outsourcing.
Sebenarnya apa yang menjadi tuntutan para pekerja amat lah manusiawi seperti yang tergambar di dalam tuntutan Chris Smalls dan kawan-kawan TCOEW, yakni meminta perusahaan menyediakan APD dan sanitasi bagi pekerja, peningkatan insentif bagi kecelakaan kerja, peningkatan upah minimum 30 USD per jam kerja, dan tetap membayarkan gaji seratus persen kepada pekerja yang tidak bisa bekerja karena positif corona dan baru diperkenankan bekerja kembali setelah mendapatkan hasil tes negatif dari dokter.
Bagaimana Ketidakadilan Ini Dilanggengkan?
Makanya untuk memahami mengapa orang seperti Jeff Bezos bisa sebegitu kaya raya dengan ditopang oleh para pekerja shit jobs dengan upah rendah, jam kerja panjang, serta tingkat resiko kecelakaan kerja tinggi, tidak bisa dilihat sebagai sebuah faktor moralitas (baik-buruk) belaka, tapi lebih kepada hal ini merupakan cerminan dari konstruksi sosial dunia. Meskipun sebenarnya para pakar telah banyak menuliskan perkara ini secara lebih rinci dan dalam. Tapi, tak mengapa, saya kira selain berlatih mengurai persoalan dengan sebaik yang saya mungkin bisa lakukan, saya juga harus, setidaknya, lebih berani mengemukakan pikiran. Lenin dalam Revolusi Bolshevik tidak melihat pada aspek kebobrokan moral individual pada diri Tsar semata, tapi lebih karena penguasa itu tak memiliki pikiran di dalam mengelola kekuasaannya. Begitu juga dengan tawaran pikiran yang dikemukakan Karl Marx dalam teori-teorinya, tentu yang dilihat adalah soal pikiran tentang, umpamanya teori nilai kerja atau teori eksploitasi, bukan soal moralitas individual.
Saya berusaha tidak masuk ke dalam perdebatan teoritik dan biarkan saja itu menjadi domain para pakar. Namun, seperti para demonstran yang membawa guillotine di dalam aksi mereka di kediaman Jeff Bezos, saya melihat guillotine (yang awalnya dipakai sebagai alat pancung terhadap Raja Louis XVI dan isterinya Marie Antoneitte, beserta kroni-kroninya) adalah petanda sejarah keinginan untuk lepas dari belenggu rezim despotik.
Memang di awal saya katakan bahwa kapitalisme memiliki logikanya sendiri, yakni akumulasi. Sedangkan negara, logikanya adalah melindungi segenap tumpah darah serta mensejahterakan kehidupan bangsa. Pasca Revolusi Prancis, negara tidak bisa lagi berlindung di balik kuasa Tuhan yang didoktrinasi oleh kekuasaan monarki absolut, tapi ia berupaya mencari sesuatu yang lain, maka salah satu aksioma yang paling terkenal adalah “Vox Populi Vox Dei”, suara rakyat adalah suara Tuhan. Tapi, bagaimana caranya negara melayani rakyatnya, katakanlah, mensejahterakan peri-kehidupan rakyatnya? Maka ia membutuhkan “perantara” untuk sampai ke rakyatnya. Di situlah masuk berbagai teori dan dipraktekkan yang salah satunya adalah logika kapitalisme tadi. Negara yang baik terhadap rakyatnya, dalam logika kapitalisme, adalah negara yang mampu menyehatkan pasar atau iklim bisnis. Makin ke sini, kita menjadi kesulitan melihat persetubuhan antara negara yang seharusnya menjaga dan memastikan rakyatnya sejahtera dengan kebijakan yang kapitalistik, yang memberi akses terhadap kelas tertentu untuk menggenggam sarana-sarana produksi.
Terbaru, Center for Economic Performance di dalam paper yang dirilis pada awal September 2020 ini menyebutkan bahwa di banyak negara, tingkat pengangguran di masa pandemi meningkat secara dramatis, yakni sebesar 15,5 persen. Lantas, bagaimana kita bisa membaca kontradiksi-kontradiksi yang terjadi dengan lonjakan fantastis kekayaan Jeff Bezos dengan kondisi obyektif para pekerja ini? Dunia seperti apa sih sebenarnya yang sedang kita huni ini?
Pada kesempatan berikutnya, saya berupaya untuk tidak berhenti hanya pada ekspresi kemarahan atas ketimpangan yang ada, karena apalah gunanya berteriak dengan jargon apabila teriakan itu justru terlihat mengawang-awang dan tidak emansipatoris.
Bersambung.
Foto: Bloomberg / Mark Kauzlarich
