“Pendidikan itu sejatinya adalah proses humanisasi atau memanusiakan manusia.”
Oleh Muhammad Iqbal
Belum lama ini saya menonton film Dead Poets Society (1989). Awalnya saya kira film ini adalah film lawas yang membosankan, dengan alur berangkat ke sekolah, jatuh cinta, frustasi, lalu berakhir dengan adegan ala-ala yang membuat kita berkata dalam diri, “andaikan itu aku.” Kemudian hati berbunga-bunga sampai halu dan kebawa mimpi.
Ternyata tidak. Setelah selesai menontonnya, saya justru memasukkan film ini ke dalam daftar film favorit yang akan saya tonton ulang.
Awalnya saya menganggap enteng saja. Saya hanya menjadikanya sebagai teman untuk menemani saya di tengah malam agar (suasana) tidak terasa sepi. Di tengah keadaan itu, saya iseng melanjutkan kegiatan malam sebagaimana mestinya, mengerjakan setumpuk tugas yang tak kunjung selesai, bagai kasus pelanggaran HAM yang ada di negeri “tempat batu dan taik dilempar jadi tanaman” ini.
Sembari mengerjakan tugas kuliah yang menumpuk, sesekali saya melirik ke TV yang ada di hadapan saya, yang sedari tadi tetap dibiarkan menyala. Karena jenuh mengerjakan tugas, dilihat-lihat, film ini seru juga, seru saya dalam hati.
Film yang pada mulanya saya tonton secara sekilas ini memperlihatkan kepada saya tentang seorang guru Bahasa Inggris yang sedang mengajar murid-muridnya dengan cara yang berbeda. Kemudian, sebab kekaguman pada potongan adegan ini, membuat saya merasa harus menontonnya secara utuh, tidak setengah-setengah.
Saya pikir membagikan sedikit sudut pandang yang saya peroleh dari pengalaman menonton film ini akan bermanfaat, setidaknya buat saya pribadi, biar lebih paham. Untuk itu, jangan tinggalkan tulisan ini dan teruslah membacanya. Semoga saja kalian suka.
Baiklah. Saya teruskan.
Film lawas ini bercerita tentang sekelompok siswa yang bersekolah di salah satu sekolah elit di Amerika, yaitu Akademi Welton. Sekolah ini terkenal akan kedisiplinan yang tinggi serta memiliki semboyan: Tradisi, Kehormatan, Disiplin dan Prestasi.
Sekolah dengan semboyan yang begitu mantap ini membuat apa-apa yang ada di dalamnya harus teratur dan sejalan dengan apa yang telah ditetapkan. Akan tetapi, hal ini berseberangan dengan yang dirasakan oleh para tokoh utama dalam film ini, di mana terdapat 7 orang siswa yang merasa tidak nyaman dengan segala aturan yang ada di sekolah tersebut. Hingga tibalah John Keating, seorang guru Bahasa Inggris dan (kebetulan) juga alumni dari sekolah tersebut, yang diperankan oleh Robin Williams, seorang aktor watak legendaris.
Pada hari pertamanya mengajar, Keating melakukan kegiatan mengajar yang tidak kaku, dan lebih menyenangkan ketimbang guru-guru lain yang ada di sekolah itu. Dalam salah satu kegiatan belajar, Keating mengutip frasa penyair Horatius yang berbunyi, “Carpe Diem” yang berarti “Petiklah hari”. Dalam salah satu adegan, Keating menegaskan tentang pentingnya memanfaatkan kesempatan yang ada di hari ini. Tidak disangka, kata-kata tersebut dan dengan metode mengajar yang unik dari Keating, dijadikan sebagai kalimat motivasi hidup baru bagi para siswa, terutama oleh ke-7 tokoh dalam film ini. Para murid yang semula hidup dalam suasana yang tertib dan takut, dengan diajarkan seni dan sastra (seperti berpuisi) oleh Keat, mereka jadi tahu hal-hal yang lebih menyenangkan dan asyik ketimbang harus ikut dengan aturan yang kaku.
Mereka terbawa masuk ke dalam kekuatan kata-kata. Mereka tak takut lagi menjelajah, menemukan impian, cita-cita, dan keunikan dari pribadi mereka masing-masing.
Paulo Freire dalam buku Pendidikan Alat Perlawanan: Teori Pendidikan Radikal Paulo Freire yang diterbitkan oleh Resist Book, Yogyakarta (2004), mengatakan, “Tujuan utama manusia adalah humanisasi yang ditempuh melalui pembebasan. Proses untuk menjadi manusia secara penuh hanya mungkin apabila manusia berintegrasi dengan dunia. Dalam kedudukannya sebagai subyek, manusia senantiasa menghadapi berbagai ancaman dan tekanan, namun ia tetap mampu terus menapaki dan menciptakan sejarah berkat refleksi kritisnya.”
Artinya, pendidikan itu sejatinya adalah proses humanisasi atau “memanusiakan manusia”. Proses pendidikan menurut Paulo Freire berpijak pada penghargaan kepada manusia. Itu berarti menempatkan pendidik dan peserta didik sebagai subyek aktif yang kedudukannya setara untuk mengenali obyek dunia yang dapat dipelajari. Di situlah terjadi dialog yang setara dan demokratis antara pendidik dan peserta didik, dan tidak sekadar sebuah proses transfer ilmu pengetahuan semata, akan tetapi proses dialogis yang saling bertanggung jawab untuk memahami cakrawala semesta.
Persis sebagaimana persoalan yang dilontarkan dalam film ini yang kemudian menyadarkan saya bahwa sebagai manusia kita selalu dihadapkan oleh pilihan-pilihan yang meragukan, akan tetapi, di balik itu semua, ada banyak pilihan-pilihan hidup, yang pada akhirnya diri sendirilah yang harus menentukannya. Proses menentukan itulah yang disebut sebagai proses belajar.
Sayangnya, gambaran tentang sekolah yang ideal itu masih jauh dari kenyataan. Tidak jarang kita temui dan alami sendiri bagaimana sekolah dalam berbagai tingkatannya hanya mengukur peserta didik melalui ukuran kuantitatif; seperti kelulusan Ujian Nasional (UN) siswa hanya dari mata pelajaran tertentu dengan passing grade tertentu pula, mahasiswa dipaksa mengejar kelulusan dalam menyelesaikam SKS dengan persentase tugas, kehadiran, dan sebagainya. Pendidikan lebih berorientasi kepada mengejar angka-angka dan untuk kemudian diharapkan dapat mengisi pos-pos dunia kerja, dibandingkan mengajak peserta didik (melalui dialog) untuk memahami realitas dunia yang berubah, serta mengkritisi realitas sosial yang timpang. Pendidikan layaknya menjadi pabrik tempat manusia dibentuk bagai barang-barang yang seragam untuk dijual ke pasar. Pendidikan berubah menjadi penjara yang mengungkung.
Dari Dead Poets Society ini saya belajar, bahwa masa muda adalah kekuatan dan kesempatan. Kekuatan, karena pada masa muda kita masih memiliki mimpi-mimpi akan kehidupan yang luar biasa. Kesempatan, karena waktu kita masih panjang dalam menjelajahi kehidupan yang tidak satu orangpun tahu apa yang akan terjadi esok. Dan hal pertama yang harus dilakukan adalah memerdekakan diri kita sebagai manusia, yang dengan pikiran merdeka itu pula kita belajar mengenali dunia dengan lebih baik.
Tokoh Keating kembali mengingatkan saya, bahwa hari ini adalah hari yang berharga. “Carpe Diem,” katanya, “petiklah hari maka itu akan membuat hidupmu menjadi luar biasa.” Rebut hari ini. Karena, percaya atau tidak, masing-masing kita di manapun berada, suatu hari akan berhenti bernapas, lalu menjadi dingin dan mati. Gunakanlah kesempatan yang ada untuk menjadi manusia pembelajar, yang membebaskan.
Foto: telegraph.co.uk
