kopi travel blog

jauh berjalan banyak dilihat

Pesan dari Mahasiswa Sejarah untuk Mendikbud Nadiem

“Jika wacana ini benar-benar sampai disahkan, ada yang akan hilang, yaitu nilai.”


Oleh Helmi Rifkyansyah

Saya tidak tahu harus memulai dari mana, semoga catatan singkat ini sampai ke tangan anda dan anda bisa membaca ini dan berkontemplasi secara holistik.

Sedih sebetulnya ketika berita ini tersebar (berita tentang wacana pelajaran sejarah tidak lagi menjadi mata pelajaran wajib SMA/SMK seperti tertuang dalam Draf Sosialisasi Penyederhanaan Kurikulum dan Asesmen Nasional tertanggal 25 Agustus 2020), tetapi kenyatannya berita itu telah menyebar dan saya mengetahuinya.

Sebagai seorang mahasiswa yang menggeluti Ilmu Sejarah, saya merasa perlu dan berkewajiban menyampaikannya kepada anak-anak bangsa terkait masa silam, apa yang telah terjadi, kenapa masa depan bisa seperti ini, bagaimana semua ini bisa seperti sekarang, ada peristiwa apa di balik itu, siapa saja orang-orang yang terlibat di dalamnya, dan lain sebagainya. Sebab, ilmu ini juga adalah pertanggungjawaban atas apa yang saya ketahui. Karena berkat sejarah, kita bersatu. Berkat sejarah, kita belajar. Berkat sejarah, kita dapat berjalan ke masa depan. Sebab itulah sejarah mengandung moralitas yang sangat tinggi dan di situlah ruh tertinggi bangsa Indonesia seharusnya diletakkan. Sebagaimana amanat bung Karno kepada kita: Jangan sesekali melupakan sejarah! Karena sekali kita lupakan sejarah, kita akan mudah tercerai berai.

Ketika saya mengetahui pihak Kemendikbud berencana ingin menghapus atau membatasi mata pelajaran Sejarah di sekolah, wacana itu sangat menyakiti hati kami para pembelajar sejarah. Sama misalnya seperti anda mendirikan Gojek, tapi di sisi lain anda mencabut driving licence para driver, maka mau tidak mau, para driver akan kehilangan sistem keselamatan mereka, seperti itulah gambaran sedikit bangsa Indonesia jika sejarah dihapuskan dari mata pelajaran di sekolah-sekolah.

Apakah anda tahu berapa banyak para pejuang kita berguguran di medan perang? Apakah anda tahu seperti apa tokoh-tokoh bangsa kita pernah tinggal di pengasingan? Dengan membuka itu, mempelajari itu, di tengah dunia yang serba modern ini, di abad 21 ini, bangsa kita tetap pandai menghargai jasa-jasa para pejuang, para pemikir yang telah mendirikan bangsa ini. Karena dengan mempelajari sejarahlah, kita tahu, bawah ada, orang-orang di zaman terdahulu, yang pernah mengabadikan diri (pikiran, tenaga, bahkan nyawa) mereka untuk keberlangsungan hidup kita sekarang. Lihat foto-foto yang ada di bawah ini:

Saminem, Veteran pejuang dari Blitar. Dok: @albumsejarah
Soekarman, mantan PETA yang melawan Jepang bersama Sudancho Supriyadi. Dok: @albumsejarah
Tasrip, Veteran mantan HEIHO. Dok: @albumsejarah

Lihat. Itu hanya mewakili banyak lagi veteran pejuang revolusi lainnya. Apakah ada yang mengenal mereka? Apakah pemerintah dan pejabat sekarang menengok kepada mereka? Apakah anak-anak sekarang tahu kalau mereka pernah bertumpah darah demi kehidupan kita sekarang? Demi tegaknya republik bernama Indonesia ini? (Baca juga: Soetadji, Sang Pengawal Panglima Besar)

Lihat betapa kurang ajarnya kita para cucu-cucu yang hanya menikmati hasil jerih payah para veteran, tapi sama sekali tidak mau melirik kepada mereka. Ingin tahu tentang mereka. Jasa mereka. Mirisnya, malah ingin memunggungi mereka dengan menganggap pelajaran sejarah menjadi pelajaran yang tidak penting lagi.

Sekarang, dengan mata pelajaran Sejarah yang sudah diwajibkan saja, masih banyak yang melupakannya, apalagi nanti betul-betul disahkan. Penerus bangsa ini bisa-bisa menggadai negara ini kalau sudah besar nanti. Sebab ketidaktahuannya akan sejarah bangsanya sendiri dan sejarah dunia. Bahkan hingga kini mereka (para veteran) seperti terbuang oleh bangsanya sendiri. Mau sampai kapan Indonesia terus seperti ini?

Tugas Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan adalah mendidik anak-anak bangsa agar cakrawala mereka terbuka. Namun jika begini terus, perlahan Indonesia akan kehilangan arah dan perlahan anak-anak bangsa akan kehilangan harga dirinya terkait sejarah kebangsaan. Sebab jika wacana ini benar-benar sampai disahkan, ada yang akan hilang, yaitu nilai. Kita kehilangan apa-apa yang telah mempersatukan kita: berbagai peristiwa.

Tidak banyak yang bisa saya sampaikan dan semoga ini sampai kepada anda.


Foto Nadiem Makarim berasal dari twitter @gojekindonesia

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai