kopi travel blog

jauh berjalan banyak dilihat

Sisupala, Sang Pencemar Nama Baik

“Putaran Cakra Sudarsana diibaratkan sebagai perputaran alam semesta.”


Oleh A. S. Kartik Salokatama

Semuanya bermula saat Pandawa dan Kresna merasa perlu untuk mengukuhkan Puntadewa sebagai Maharaja Diraja. Tentunya untuk kepentingan perang.

Indraprasta (kerajaan baru para Pandawa) dipimpin oleh seorang raja yang berdaulat, bukan raja kecil suruhan para Kurawa di Astinapura. Singkatnya, mereka harus merdeka.

Raja kecil yang berperang melawan induknya, hanya akan dianggap sebagai pemberontakan. Bagaimana bisa Bharatayuda menjadi perang yang dijadikan ajaran hingga ribuan tahun berikutnya seandainya itu semua hanya pemberontakan?

Bayangkan jika Pandawa kalah dalam Bharatayuda. Tentu putra semata wayang Abimanyu, Parikesit, yang akan membalaskan dendam keluarganya. Sederhananya, kebaikan akan selalu menang melawan keburukan (walau belakangan).

Namun apa jadinya jika Pandawa kalah saat mereka hanya memberontak? Duryudana malah bisa saja dianggap sebagai seorang raja yang berhasil mempertahankan kesatuan negaranya, alih-alih manusia bejat, yang haus akan kekuasaan.

Dan hari yang ditunggu tiba juga. Segala persiapan telah dilaksanakan sematang-matangnya. Para tamu undangan (Raja-Raja) berdatangan dari seluruh pelosok dunia dan Indraprasta didandani sedemikian megahnya. Bagaimana tidak. Upacara ini bisa saja dilakukan belasan tahun sebelumnya, jika saja Haryo Sengkuni tidak sempat bekerja sama dengan Raja Ular, Takshaka, untuk menyembunyikan sapi-sapi yang akan dijadikan persembahan. Arjuna naik pitam dan mengambil panah Gandiwa yang–sayangnya–berada di dalam kamar abangnya, Puntadewa dan Drupadi.

Arjuna terpaksa masuk ke kamar mereka tanpa izin dan langsung mengalahkan Takshaka dengan mudah. Namun, Pandawa Lima terlanjur berjanji untuk tidak memasuki kamar satu sama lain jika orang itu sedang bersama Drupadi. Arjuna terpaksa melakukan pengasingan selama sebelas tahun, dan upacara, tentu saja tidak dapat dilaksanakan tanpa sang ksatria utama.

Hari ini mereka tak mau kecolongan lagi, dan beruntungnya Haryo Sengkuni pun kehabisan akal untuk menahan terjadinya upacara ini. Ia malah diundang datang sebagai Raja Gandara bersama kemenakannya, Duryudana dan Dursasana.

Tamu-tamu sudah duduk di tempatnya masing-masing dan upacara akan segera dimulai. Terjadi diskusi sepihak yang–secara formalitas–merundingkan tentang siapa yang berhak memimpin berjalannya upacara dan siapa yang berhak memasangkan mahkota di kepala Puntadewa alias Yudistira. Hasil akhirnya tentu saja Kresna secara tidak langsung menobatkan dirinya sebagai pemimpin. Tentu tak ada yang membantah keputusan itu, ditambah lagi memang Kresnalah yang paling unggul secara keilmuan, kesaktian dan umur. Belum lagi jika mengingat ia adalah titisan dewa, tentu para raja serempak setuju dengan keputusan itu.

Upacara hampir dimulai, tapi satu lagi, batu kerikil yang menjegat hadir di dalam ruang sidang, yaitu Raja Chedi, Sisupala. Kemenakan Jarasanda, yang baru saja dibunuh oleh Bima Wrikudara beberapa saat lalu. Ia memang salah satu dari sekelompok kecil raja yang anti Kresna. Mulutnya yang tak memiliki ukuran benar-salah memang selalu saja membuat siapapun yang berbicara dengannya merasa dilecehkan.

Ia menginterupsi berjalannya upacara dan berdiri tegak di tengah ruang singgasana Indraprasta. Ia mengkritik tentang keputusan pengangkatan Kresna sebagai pemimpin upacara. Terang-terangan menganggap hasutan Kresna pada Bima untuk membunuh Jarasanda sebagai suatu kebejatan tak termaafkan. Menghina para Pandawa yang dinilainya hanya berdiri di ketiak Kresna dan penghinaan-penghinaan lain yang tiada hentinya.

Awalnya Kresna dan Pandawa hanya saling tatap sambil tersenyum-senyum tipis dan menganggap celotehan Sisupala sebagai hiburan sebelum dimulainya acara. Belum lagi pelawak kali ini gemar menggunakan kata-kata kotor, membuat hiburan semakin menarik dan seru.

Namun, omongan-omongan yang kian lama kian menyudutkan dan pandangan-pandangan para raja yang mengisyaratkan keraguan membuat Kresna kesal. Ia merasa perlu membuktikan kedigdayaannya dan kepantasannya di hadapan seluruh raja-raja.

Dari singgasananya ia mengisyaratkan Sisupala untuk berhenti dan kembali ke tempatnya. Namun keengganan Sisupala membuat Kresna betul-betul tak tahan lagi. Ia memejamkan matanya dan mengacungkan telunjuknya. Semua raja-raja terloncat kengerian. Siapa yang tak takut dengan senjata pamungkas Sri Kresna, Cakra Sudarsana. Seketika putaran Cakra itu memenggal kepala Sisupala dan semuanya terdiam.

Setelah itu upacara yang ditunggu-tunggu akhirnya dimulai juga. Walaupun harus terjadi di atas bercak darah Sisupala.

Begitulah hikayat pengangkatan Puntadewa sebagai Maharaja Diraja. Penuh keagungan dan arogansi. Terlihat seperti kebangkitan kebenaran walau terkesan penuh adegan unjuk kekuatan.

Bagaimanapun, begitulah dunia berjalan. Bahkan dewa-dewa pun tak luput dari kesalahan, kesombongan, rasa ingin lebih dari yang lain, dan keinginan untuk membuktikan. Bahkan tak jarang, mereka yang menyuarakan pendapatnyapun harus dimatikan. Mau tidak mau, demi kekuasaan dan nama baik.

Putaran Cakra Sudarsana diibaratkan sebagai perputaran alam semesta. Senjata ini hanya digunakan sesekali untuk orang yang sudah kelewat bejat. Sisupala dengan segala kritik dan penghinaannya dan Aswatama dengan pembantaian keji yang dilakukannya terhadap janin Parikesit.

Sampai di sini tunggu sebentar, apakah kritik adalah sebuah kejahatan?

Tidak juga, Sisupala kan menghina titisan dewa di hadapan umum. Sebenarnya bisa jadi Kresna urung menghajarnya bila kritiknya tak mengandung unsur SARA, hate speech, dan penghinaan lainnya, yang bisa dikenai pasal pidana UU ITE dan pasal-pasal karet lainnya. Begitulah hukum bekerja untuk melindungi segala yang suci dan segenap titisan para dewa.

Ya, sepertinya begitu.


Foto Sisupala berasal dari facebook/Informasi Tentang Wayang Kulit Purwa

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai