“Saya rasa, kita memiliki masalah serius dalam konsep ospek perploncoan yang justru malah melahirkan dendam-dendam tak berkesudahan.”
Oleh Daffa Prangsi Rakisa
Saat ini kita semua telah memasuki paruh kedua tahun 2020 yang umumnya ditandai dengan dimulainya masa penerimaan mahasiswa-mahasiswi baru (maba-miba) di berbagai kampus. Para panitia ramai-ramai mempersiapkan konsep acara penerimaan mahasiswa baru (ospek) sebagai ajang menyambut para maba-miba yang akan memasuki dunia perkuliahan nanti.
Acara ospek yang saya ketahui, terkadang menjadi ajang perlombaan gengsi antar universitas untuk menunjukkan konsep terbaik mereka ke publik. Sekaligus membuat para maba-miba sampai berpikir, “anjay keren banget!” Meski tahun ini pandemi menjadi halangan yang sangat berat, nampaknya hal tersebut justru menjadi tantangan tersendiri. Ospek yang kita kenal sangat meriah karena terdapat ribuan mahasiswa baru yang memenuhi kampus, di tahun ini jadi berbeda nuansa, karena berbagai kegiatan diselenggarakan secara virtual atau daring.
Di tengah tantangan yang nggak sederhana untuk membuat konsep ospek yang tetap seru, meski diselenggarakan secara daring, sayangnya masih ada saja yang menyelenggarakan ospek dengan “konsep lama nan usang bin nggak mutu.” Sebuah konsep yang kalau dilacak secara historis mungkin telah menjadi bagian dari ospek itu sendiri di berbagai tingkatan. Ya, konsep itu merupakan ospek yang penuh akan senioritas, perpeloncoan seperti sedang hidup di zaman kolonial, di mana manusia menjadi serigala bagi manusia lainnya (homo homini lupus).
Baru minggu kemarin saya melihat beberapa cuplikan video trending di Twitter tentang acara ospek di salah satu perguruan tinggi. Dalam cuplikan video tersebut, terlihat ada mahasiswa yang sedang dimarahi oleh panitia karena melanggar tata displin. Kemudian, di video yang lain terjadi sebuah pertengkaran ala reality show antar panitia, sampai dilerai via daring oleh para maba-miba. Jujur, reaksi pertama saya melihat video itu adalah nggak nyangka konsep ospek macam ini masih ada dan parahnya lagi, panitianya mampu menyelenggarakannya via daring. Salut, sih.
Saya sendiri berpendapat sejak SMA dulu, konsep ospek semacam ini sama sekali nggak relevan. Makanya pas SMA dulu saya sering ndongkol kalo diperlakukan semacam itu. Nah, berhubung yang sudah berlalu, ya, biarkan berlalu. Saya sebagai orang yang pernah menjadi korban sekaligus panitia ospek (bukan yang rasa kolonial) punya sedikit pendapat untuk para panitia di masa mendatang yang mungkin bisa dijadikan bahan renungan.
Apasih Manfaatnya?
Mari pertanyakan bersama, apasih manfaat bikin ospek begituan? Sebagai ajang untuk menunjukkan kekuasaan? Sebagai ajang cari penghormatan? Atau malah sebagai ajang menyalurkan emosi? Sebuah pertanyaan mendasar mengenai manfaat ini menjadi penting. Karena tugas panitia ospek itu sejatinya untuk menghantarkan maba-miba ke arena baru, yaitu perkuliahan.
Ya, kalau masih isinya plonco-plonco gitu, tagline mahasiswa sebagai agen perubahan hanya jadi slogan pemanis belaka. Saya rasa, kita memiliki masalah serius dalam konsep ospek perploncoan yang justru malah melahirkan dendam-dendam tak berkesudahan. Acara unjuk dimarah-marahi dan dipermalukan atas alasan “untuk mendisplinkan” rasanya nggak bisa jadi pembenaran semata untuk melakukan ospek yang nggak mencerahkan begini.
Mari pertanyakan pula apa manfaatnya bagi panitia yang ngadain ospek rasa kolonial begitu. Jujur, dulu pas SMA, saya pernah juga mikir asik juga kalau bisa ngerjain anak baru nanti. Nah, apakah pemikiran semacam itu juga masih ada di benak panitia-panitia yang umumnya sudah dewasa? Apa iya, ospek yang isinya marah-marah kayak gitu memang dijadiin ajang buat meluapkan emosi, latihan casting atau reality show?
Percayalah Senior, Rasa Hormat itu Datang Sendiri
Teruntuk para senior yang merasa bahwa ospek sebagai ajang untuk melahirkan respect dari maba-miba ke senior. Saya jawab dengan tegas dan lugas bahwa hal itu salah besar. Kecenderungan untuk memaksakan orang lain menaruh hormat ke diri sendiri, tanpa memerhatikan bagaimana cara diri menghormati orang lain adalah sebuah kebodohan. Perlu saya tekankan, sebuah kebodohan. Mau lagi? Nih saya tambah: sebuah kebodohan.
Mengapa? Ya sederhana saja, bagaimana bisa memaksa orang lain untuk menghormati diri kita kalau kitanya saja nggak bisa menghormati orang lain. Dalam konteks opsek, perploncoan itu adalah bentuk ketidakhormatan para senior yang sok merasa terhormat. Makanya daripada maksain maba-miba hormat ke senior panitia semua, mending rangkul mereka dengan baik, ajak diskusi ringan, ngobrol santai dan tunjukkan ke mereka kalau senior yang patut dihormati itu yang menghormati pula.
Butuh berapa generasi lagi negeri ini baru merdeka dari mental menjajah para senior mahasiswa?
Foto: freepik.com/syarifahbrit
