“Sebuah catatan atas Aksi Donasi dan Penghargaan dari Album Sejarah Indonesia kepada Veteran Republik Indonesia.”
Oleh Rully Agassy Fatwa
Sabtu, 12 September 2020, kami mendatangi rumah sederhana di daerah Ponggok, Kab. Blitar, Jawa Timur. Terlihat suasana sepi di kediamannya, pintu tertutup rapat, lalu kami segera mengetuk untuk menemui pemiliknya. Beberapa saat kemudian seorang wanita sepuh berjalan tertatih, membukakan pintu dan menyambut kami.
“Silahkan masuk, rumahnya jelek seperti ini, seadanya saja, ya. Mari-mari silahkan duduk, kalau mau minum bikin sendiri ya di belakang, mbahnya sendirian soalnya,” ucapnya ramah dengan bahasa Jawa kental.
Beliau hidup sendirian di rumahnya, jika malam tiba, beliau tinggal bersama anaknya di Srengat, masih di dalam kawasan Kabupaten Blitar.
“Mau bagaimanapun kondisi rumah saya, saya lebih nyaman di sini,” kata mbah Saminem, ketika kami tanya kenapa tidak ikut tinggal bersama anak-cucunya.
Nama beliau Saminem, lahir di tahun 1929. Menurut penuturan cucunya, ketika kami konfirmasi melalui Video Call, Mbah Saminem sendiri sudah lupa berapa umurnya, yang beliau ingat, beliau adalah anak ketiga dari lima bersaudara. Sebuah foto usang di ruang tamu, memperlihatkan sosoknya menggunakan Seragam LVRI (Legiun Veteran Republik Indonesia), membuat kekaguman kami bertambah besar kepadanya.
Kami bersyukur bisa bertemu dengan Veteran Perempuan secara langsung di Blitar, bahkan beliau satu-satunya perempuan yang berjuang di daerahnya, meski beliau hanya mengenyam pendidikan Sekolah Rakyat sampai kelas tiga saja.

Ketika Indonesia merdeka pada tahun 1945, Belanda datang menjajah lagi, sekitar tahun 1947. Pada tahun itu mbah Saminem bergabung bersama TNI yang semula hanya sebagai juru masak di kesatuannya, kemudian dipercaya sebagai bendahara untuk memegang keuangan kompi. Beliau sudah lupa nama kesatuan dan kompinya.
“Saya perempuan sendiri, ikut bergerilya sama temen-temen yang semuanya pria. Keluar masuk hutan dan daerah untuk menghindari sergapan Belanda. Suatu ketika saya pernah lelah, ga kuat berjalan di daerah Siwalan. Secara saya wanita, kekuatan fisik berbeda dengan mereka, lantas saya digendong sama teman biar bisa tetap berjalan,” kenangnya.
Beliau juga pernah mempertahankan daerah Poluan, Srengat, Tugurante, Ponggok, bersama kesatuannya dari serangan Militer Belanda. Ketika melakukan serangan ke Poluan saat malam hari, mbah Saminem lolos dari maut.
“Kami melakukan serangan ke markas Belanda di Poluan pada malam hari. Seorang kawan bernama pak Min asal Jaguan tertembak dan gugur. Posisinya pas di depan saya. Kalau pak Min tidak di depan saya, saya yang kena. Lantas saya segera lari untuk menghindari berondongan senjata Belanda,” ucapnya pelan, sambil menahan sedih, matanya berkaca-kaca.
“Suatu kali ada tentara Belanda menyergap,” tutur mbah Saminem, “saya mencari kain, saya sobek, dan saya pakai. Senjata Sten Gun segera saya buang ke parit, terus tentara Belanda mengejek saya sebagai orang gila. Saya segera lari dan berhasil lolos dari sergapan Belanda. Kalau mereka saat itu tahu saya pejuang, saya bisa ditembak mati,” ujarnya tertawa.
Ia juga pernah kehilangan tiga temannya di tengah pertempuran, yang ditembak mati pasukan Belanda saat berjaga di depan Kantor KUA Ponggok. “Pak Tukiran, Pak Sibar, dan Pak Slamet diberondong Belanda, lantas ditinggalkan begitu saja. Saat itu saya tidak di lokasi kejadian,” kata mbah Saminem.
Mbah Saminem tidak disukai sama teman-teman perempuan sebaya dan tetangganya saat itu, karena sering berkumpul dengan banyak pria, bahkan di malam hari. Mereka tidak tahu kalau mbah Saminem seorang pejuang, sampai dikira “wanita nakal”. Lambat laun mereka akhirnya mengetahui mbah Saminem seorang Pejuang dan menghargai perannya bagi masyarakat, itupun setelah perang usai. Lalu mbah Saminem tidak melanjutkan karier di TNI, ia segera menikah dan dikaruniai empat anak.
Ketika tahun 1960-an, beliau juga hampir difitnah sebagai anggota Gerwani di Blitar, “Saya disuruh seseorang ke Polsek untuk membawa berkas, saya sendirian saat itu. Ketika menunggu orangnya menyusul ke Polsek, entah kenapa perasaan saya ga enak. Saya buka berkasnya, dan disurat-suratnya saya dikaitkan dengan anggota Gerwani. Segera saya robek-robek berkasnya dan saya pulang,” ujar beliau geram.
Ketika kami tanyakan apakah teman seperjuangan beliau masih hidup, beliau menjawab lirih, “Mereka semua sudah pergi, sudah meninggal. Termasuk suami saya sudah meninggal. Tinggal saya menunggu waktu untuk bertemu dan berkumpul bersama mereka,” kali ini air matanya menetes.
Mbah Saminem sudah tiga kali menjadi korban penjabretan di rumahnya sendiri. Dengan modus menanyakan alamat, seluruh perhiasan yang ada di badannya ditarik paksa dan dibawa lari seadanya. “Setelah mereka tanya alamat, tiba-tiba kalung dan gelang saya diambil paksa. Sekarang sudah tidak punya apa-apa ini, tapi ya sudahlah, tidak apa-apa,” ucapnya sambil menunjuk leher dan tangannya.
Kurang lebih selama satu jam kami berbincang-bincang, lalu kami segera berpamitan. Dan tidak lupa kami memberikan penghargaan tertinggi dan sedikit oleh-oleh untuknya.

“Terima Kasih banyak, saya belum pernah dapat seperti ini,” ujarnya senang sembari mengusap piagamnya. Kemudian kami pun memasang piagam tersebut di bawah fotonya yang terlihat gagah menggunakan seragam LVRI. Mbah Saminem lantas mengantarkan kami ke depan rumah, ketika kami larang untuk segera istirahat kembali, beliau menolak.
Lambaian tangan perpisahan kami terima darinya di depan pintu rumah. “Da.. Da… Hati-hati di jalan, terima kasih banyak,” ujarnya dengan wajah sumringah yang, seperti jasanya pada republik ini, tidak mungkin kami lupakan.
- Rully Agassy Fatwa, Dewan Penasehat Album Sejarah Indonesia
- Foto dokumentasi Album Sejarah Indonesia
