kopi travel blog

jauh berjalan banyak dilihat

Tuhan Tersenyum di Parijs Van Java

“Kota yang disebut oleh M.A.W. Brouwer, “terlahir ketika Tuhan sedang tersenyum.”


Oleh Najmi Laila Elbasyarah

Hari ini Kota Bandung, Ibu Kota Jawa Barat, sudah memasuki usia ke-210 tahun, Gaes. Untuk memeriahkan hari ulang tahun itu, pemerintah mengusung tema perayaan, yakni “Dengan Inovasi dan Kolaborasi, Kota Bandung Bergerak Melawan Pandemi Covid-19” dan juga tagline serta tagar “Bersama Kita Tangguh”.

Berbeda dengan perayaan hari jadi di tahun-tahun sebelumnya yang dimeriahi dengan karnaval dan juga upacara bendera, kali ini Pemerintah Kota Bandung lebih mengedepankan keamanan dan penerapan protokol kesehatan demi bersama-sama melawan Covid-19.

Keputusan yang bijak. Sebab di hari perayaan yang seharusnya meriah serta diikuti khalayak masyarakat Kota Bandung dengan suka cita, dengan terpaksa, semua harus tetap fokus kepada penanganan Covid-19.

Oke. Tampaknya kurang afdhol apabila kita tidak mengulik sedikit sejarah bagaimana kota ini lahir. Untuk itu, sebagai kado hari jadi kali ini, yuk, ulik bareng-bareng kilas balik sejarah Kota Bandung dan asal mula mengapa Bandung dijuluki sebagai Parijs Van Java.

Jadi, pada tahun 1896, Bandung sendiri belum menjadi sebuah kota. Kota ini cuma berupa ‘kampung’ yang penuh penduduk dengan beberapa persen di antaranya merupakan penduduk berkebangsaan Eropa. Lalu, lambat laun, mulailah kota ini berubah sebagai kawasan pemukiman sejak pemerintahan kolonial Hindia-Belanda yang saat itu dipimpin oleh Herman Willem Daendels sebagai Gubernur Jendralnya.

Hari Jadi Kota Bandung atau yang sering disingkat HJKB ini diabadikan dengan dikeluarkannya Surat Keputusan tanggal 25 September 1810 tentang pembangunan sarana dan prasarana oleh Daendels. Yang kemudian, Kota Bandung pun resmi mendapat status gementee (kota) dari Gubernur Jenderal J.B. van Heutsz pada tanggal 1 April 1906.

Terus, bagimana asal muasal julukan Parijs Van Java sendiri?

Eits, tenang, Kawan. Aku benar menulisnya dengan tulisan Parijs. Karena memang itulah seharusnya kaidah bahasa Belanda yang benar. Jangan tulis Paris lagi yaa, yang benar itu Parijs. Parijs Van Java.

Ada banyak pendapat tentang munculnya julukan keren yang satu ini. Salah satunya menurut sejarawan Haryoto Kunto. Ia menceritakan kemungkinan munculnya julukan itu berasal dari seorang pedagang berdarah Yahudi Belanda bernama Roth. Seperti yang ditulis Kunto dalam buku Wajah Bandoeng Tempo Doeloe. Roth mempopulerkan kalimat Parijs Van Java sebagai bentuk promosi dagangannya di pasar malam tahunan Jaarbeurs pada 1920.

Roth yang merupakan seorang pemilik toko meubel dan interior, sewaktu itu sangat yakin dengan kalimat promosi ini, alasannya, bisa jadi, katanya, nama Parijs menjadi batu loncatan yang baik bagi kesuksesan dagangannya. Karena pada masa itu, Kota Paris (Perancis) sendiri sudah menjadi kiblat mode dunia. Sebab itulah Roth sangat berharap embel-embel Paris bisa mencuri minat dan perhatian banyak orang untuk datang ke sana.

Selain Haryoto Kunto, ada Ridwan Hutagalung dan Taufanny Nugraha yang mengamini dan menambahkan bahwa faktor lainnya ialah karena adanya perkembangan pesat mode yang berasal dari Paris yang dibarengi dengan minat tinggi terhadap seni di kalangan orang yang berpunya di Bandung (kalangan elit Bandung).

Belum lagi dalam dunia Fashion, selera masyarakat Bandung sewaktu, kalau disebut dengan bahasa gaulnya anak tempo doeloe itu dikatakan sebagai “Paris Banget”.

Selain itu, alasan tingginya minat dan selera terhadap fashion di Bandung ditandai dengan berkembangannya toko “Au Bon Marche Modemagazijn” atau yang sering disingkat “Bon Marche” yang didirikan oleh pebisnis A. Makkinga pada 1913.

Toko Bon Marche dikenal bergengsi pada masanya. Banyak busana trendy (terbaru) dari pusat mode di Paris yang dipajang di toko ini. Mereka kebanyakan menawarkan aneka mode dengan bahan sutera pilihan yang bermotif bunga elegan. Dan, sangat terkenal dengan slogan iklannya “wij brengen steeds de laatse” (kami selalu menyajikan mode terbaru). Gak tanggung-tanggung, toko ini bahkan membandrol harga setinggi langit. Padahal nama Bon Marche sendiri berarti “belanja murah meriah.” Ironis memang, tapi wajar, sih, apalagi pakaian yang dipajang di etalase memang pakaian-pakaian mode kelas satu. Jadi, jangan harap aku yang hanya rakyat biasa, ini bisa belanja sepuasnya. Nanti kalo kantongku menangis, memangnya ada yang mau tanggungjawab? Hehe..

Mode fashion yang trendy ini selalu berkembang turun-menurun hingga kini. Makanya, gak usah kaget lagi kalau lihat gaya pakaian anak-anak Bandung kece-kece dan “kekinian banget”.

Jadi gimana? Sudah tahu kan alasan kenapa kiblat fashion selalu tertuju ke Bandung? Sampai-sampai mereka yang bergerak di industri Fashion berbondong-bondong datang ke sana hanya untuk membeli value dari sebuah fashion ala Bandung.

Gimana? Bandung memang sudah keren dari dulu, bukan?

Sekali lagi, saya mau mengucapkan kepada kota keren yang akan terus saya singgahi ini, kota yang disebut oleh M.A.W. Brouwer, “terlahir ketika Tuhan sedang tersenyum” ini, dengan ucapan: Wilujeng Milangkala Kota Bandung ka-210. Selamat Ulang Tahun. Semoga kebaikan selalu menyertai di setiap sudut-sudut kota dan di hati orang-orang yang ada di dalamnya.


Foto: Pesona Indonesia

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai