Kedewasaan politik semacam ini yang tidak lagi kita temukan pada pemerintahan selanjutnya.
Sebelumnya, biar saya terangkan dulu soal posisi saya berbicara. Pertama, saya bukan komunis, anak komunis, atau simpatisan komunis. Jangankan semua itu, pengasyik marxisme (seperti istilah yang dipakai oleh Bapak Ilham Aidit di ILC 29/9) juga saya tidak, saya tidak kuat baca buku setebal dan serumit itu.
Kenapa saya merasa perlu menerangkan soal posisi pijakan saya terlebih dahulu? Sebab, sudah tentu yang saya kritik dalam tulisan ini adalah orang yang anti-PKI dan terang-terangan bicara “seinginnya” (sebenarnya saya pengen memilih diksi “segenitnya”, tapi alhamdulillah tak jadi) tentang apa yang dia pikirkan di hadapan umum, beliaulah al-Mukarram al-Ustadz Tengku Zulkarnain.
Hal ini yang membuat saya sejujurnya khawatir. Takut-takut, beliau membaca tulisan ini, lalu menuding saya PKI, atau mungkin sekadar melaporkan dengan pasal (maha karet) pencemaran nama baik atau UU ITE. Belum lagi, saya belum bekerja, jika masuk penjara, nanti apa bedanya saya dengan Sukarno yang (kata Ustad Tengkuzul) ngga bisa cari duit.
Jika bukan membela PKI, siapa yang saya bela? Tidak lain tidak bukan, saya membela harkat martabatnya bangsa Indonesia, melalui sosok Presiden Sukarno, Proklamator Kemerdekaan Republik Indonesia.
Pertama: Pemerintah Sekarang Mirip Pemerintahan Sukarno
Jujur, saya salut luar biasa kepada Ustadz Tengkuzul yang selama ini melawan apa yang diyakininya sebagai kezaliman rezim, namun kini telah berbesar hati pula menyamakan pemerintahan kini dengan zaman itu. Menyeret-nyeret konfliknya dengan rezim hari ini hingga jauh ke rezim presiden pertama. Bukankah itu menjadi sebuah pujian yang luar biasa bagi rezim ini, Stadz?
Ya, saya tahu, maksud Ustadz adalah kesamaan dalam hal memberikan angin kepada PKI (yang nyatanya tidak sama juga). Namun, jika kita melihat secara kontekstual, bukankah sikap Presiden Sukarno hari itu yang betul-betul berkeringat untuk menjaga persatuan bangsa amat berbeda dengan politisi-politisi masa kini yang memanfaatkan pergesekan bahkan polarisasi demi memungut suara?
Sebut saja satu contoh kondisi yang bersumber dari pernyataan Bapak Mochammad Achadi, Menteri Transmigrasi dan Koperasi Kabinet Dwikora dalam video dari kanal VIDEONESIA berjudul Menteri Presiden Soekarno Buka Suara. Dalam video tersebut, beliau menyampaikan bagaimana Sukarno memanggil semua mantan pemberontak ke istana pada tahun 1962 dengan mengamanatkan pesannya yang amat menyentuh bahwa, “Barang siapa sadar, kembalilah ke pangkuan ibu pertiwi, akan kita terima dengan baik.” Menurut Pak Achadi, kata-kata ini membuat mereka yang pernah memberontak seperti DI/TII dan PRRI Permesta bersedia kembali merapatkan barisan.
Adakah rezim-rezim berikutnya memiliki kesadaran dan usaha yang lebih besar demi persatuan Indonesia daripada kata-kata Presiden Sukarno di atas? Lalu bagaimana bisa upaya Sukarno untuk merangkul barisan-barisan besar dan progresif yang ada di negaranya sebagai gerakan yang mendukung pemberontak?
Kedua: Sukarno Bela PKI Mati-Matian
Sudah terang pernah saya tulis pada tulisan sebelumnya yang berjudul Membela Bung Besar bahwa Nasakom ialah upaya Presiden Sukarno untuk menyatupadukan barisan-barisan ideologi yang besar di Indonesia kala itu. Hal ini tentunya demi menyongsong revolusi yang nyatanya belum juga kelar hingga hari ini.
Bahkan jelas sekali bahwa dalam buku autobiografinya, Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia, Presiden Sukarno mengatakan bahwa, “Aku memulai Nasakom dengan Nas, bukan Kom, untuk menunjukkan bagaimana aku lebih mengutamakan nasionalisme daripada komunisme.”
Kedewasaan-kedewasaan politik semacam ini yang tidak lagi kita temukan pada pemerintah-pemerintah selanjutnya. Tanpa mendiskreditkan presiden yang lain, bukankah presiden-presiden selanjutmya malah terbukti lebih otoriter dan kekanak-kanakan dalam sikap politiknya?
Seperti Presiden yang membantai dan memenjarakan ribuan orang demi menutup sikap paranoianya akan kebangkitan kekuasaan yang diambilnya sebelumnya? Atau yang memanfaatkan perpecahan rakyat soal stempel pancasilais, demi melanggengkan kekuasaan?
Jika dilihat dari kacamata ini, bukankah sikap Sukarno yang bersabar dan mencari jalan tengah, jauh lebih baik untuk menjaga persatuan bangsanya? Mengajak oposisi berbicara, dan oposisi pun berbesar hati duduk berhimpun dalam rumah besar Indonesia.
Tidak bisa dipungkiri bahwa Sukarno juga manusia yang memiliki kesalahan. Seperti memenjarakan orang-orang yang berbeda haluan politik. Namun setidaknya beliau telah berbuat banyak demi tetap terwujudnya persatuan Bangsa Indonesia sepanjang hidupnya. Ya, sepanjang hidup, bukan sepanjang karier politiknya belaka.
Hal ini terbukti dari sikap patriotnya yang menolak kabur dari tahanan rumah, padahal sudah dijemput oleh KKO Angkatan Laut yang siap berkorban demi dirinya (Baca: The Master Book of Soekarno. The Syaeful Cahyadi). Bandingkan dengan sosok yang dielu-elukan sebagai pemimpin, namun memilih kabur ke luar negeri sementara jejaknya di dalam negeri sudah meninggalkan polarisasi yang tak ada cairnya.
Akhirnya: Sebuah Ajakan
Sebetulnya masih banyak lagi tudingan-tudingan Ustadz Tengkuzul pada Bung Karno, malam tadi. Dari mulai Sukarno yang dianggap menangkap lawan-lawan politiknya tanpa persidangan (yang memang betul), lalu dibandingkan dengan Pak Harto yang katanya melibatkan pengadilan (yang jelas tidak tepat). Hingga urusan Bung Karno yang katanya tidak bisa cari makan karena melulu keluar masuk penjara.
Padahal dia lupa, bahwa siapa lagi yang bisa memimpin pergerakan bangsa ini menuju kemerdekaan selain Sukarno? Menjadi simbol persatuan kala menyongsong bayi besar bernama Indonesia? Jika ada, nyatanya tetap Bung Besar-lah yang menjadi pemimpinnya. Bagaimana cara meraih kemerdekaan itu bila ia tidak dahulu berjuang dan keluar-masuk penjara dan tetap sibuk cari makan?
Baiklah, terlepas dari semua tudingan yang disampaikan Ustadz Tengkuzul dengan nada yang tidak sopan dan terkesan menghina. Saya mengajak semua teman-teman yang membaca untuk lebih menghargai jasa pahlawannya, termasuk Presiden Sukarno. Apa sulitnya untuk menghormati seorang proklamator bangsa, tanpa perlu menghinanya.
Bila memang birahi politik ini menuntut penghinaan pada orang lain, apa tidak ada sosok lain yang bisa dihinakan? Atau bibir ini kelu jika tidak bergerak-gerak dengan melontarkan kritik, kenapa tidak memfokuskan kritik kepada rezim ini saja, apalagi posisinya sebagai salah satu tokoh oposisi? Mengapa kita tidak mencoba untuk mengambil pelajaran daripada Bapak Bangsa kita alih-alih menghinanya dengan kata-kata murahan yang tidak perlu macam “tidak bisa cari duit”.
Akhir kalam, saya bukan anak Sukarno, saya bukan cucunya, saya kalah pengetahuan soal beliau dibanding para simpatisan dan sejarawan yang sudah mempelajari beliau dari ujung ke ujungnya. Saya hanya rakyat biasa, yang terlanjur cinta pada Bung Besar, yang merasa perlu menyebarkan cinta ini kepada teman-teman satu bangsa. Cinta yang menghidupkan, alih-alih menikam dengan kata-kata yang tidak pantas.
Mari bersama-sama belajar mencintai, menghormati dan membanggakan bapak-bapak bangsa kita. Utamanya kepada Paduka Jang Mulia, Ir. Soekarno, Sang Penyambung Lidah Rakyat Indonesia.
Foto Ustadz Tengku Zulkarnain oleh Sri Sugiarti berasal dari akun twitter @/Soehartoisme
