kopi travel blog

jauh berjalan banyak dilihat

Sejurus Tangkisan atas Logika Nyeleneh Pak Vasco

Jangan jadikan film sebagai satu-satunya tempat untuk mencari kebenaran. Bacalah buku sejarah.


Oleh Nanda Nadya

“Gausah tanya sejarawan, sejarawan punya kepentingan sendiri-sendiri,” ujar lelaki yang kemudian saya kenali namanya Vasco Ruseimy, seorang politisi elit Partai Gerindra dalam sebuah acara di TV One, yang membahas tentang “Film G30S PKI: Perlu Versi Baru?”

Saya benar-benar tak habis pikir, kok masih ada ya orang yang berpikiran setidakterpelajar ini? Toh, mana beliau ngomongnya di hadapan publik pula, disaksikan jutaan masyarakat Indonesia yang mungkin sebagian dari mereka adalah sejarawan dan calon sejarawan, bahkan, pak Sri Margana, Sejarawan dari UGM juga hadir dalam acara tersebut. Apa pak Vasco ini tak melihat kalau salah satu narasumbernya di sana juga sejarawan? Emangnya bapak juga nggak sadar ya kalau omongan tersebut dapat melukai hati orang lain? Iya sih, freedom of speech, tapi etikanya jangan dilupakan juga dong pak! Eh, saya lupa, bapak Vasco kan politisi, politisi mah bebas kan pak. Piss..

Pak (buat pak Vasco), kalau selamanya anda berpikiran seperti tadi, lantas apa gunanya sejarawan pontang-panting meneliti, berusaha menyibak setiap peristiwa sana-sini? Seperti yang anda katakan, “mending langsung bertanya pada saksi.” Tapi kan, pak Vasco-ku tersayang, kalau semuanya diharuskan untuk bertanya langsung pada saksi tragedi 30 September 1965 di masa sekarang, apakah saksi-saksi itu masih lengkap keberadaannya? Dan jika pun beberapa masih ada, apakah selamanya akan valid? Lupa adalah penyakit manusia yang terkadang dapat membahayakan. Tidak semua saksi dapat mengingat kejadian secara mendetail, terlebih jikalau sudah dimakan umur. Dan lagi pula, apa bapak bersedia mencari seluruh saksi tragedi 65 dan bertanya satu-satu? Saya pikir sih, bapak nggak akan mau. Eh mungkin mau, sih, tapi narasumber andalannya ya ke babe Ridwan Saidi doang. Baru deh nanti klarifikasi minta maaf lagi, karena sejarah yang dipaparkan ujung-ujungnya jadi ngawur! Seperti yang sudah-sudah, bilang kerajaan Sriwijaya itu fiktif contohnya, hadeh. Saya ngingetin aja nih ya pak, beliau itu budayawan Betawi, bukan sejarawan. Secara kompetensi ya beda. Ngingetin aja, sih.

Ketika anda menyinggung soal sejarawan “berkepentingan”, toh, bukannya sudah banyak sekali buku-buku sejarah yang bagus, yang ditulis oleh sejarawan-sejarawan hebat dan terpercaya asal Indonesia, seperti Profesor Azyumardi Azra, contohnya. Yang bisa dibilang “nggak punya kepentingan sendiri” seperti apa yang telah bapak lontarkan. Dan lagi pula, buku sejarah yang baik adalah buku yang ditulis oleh sejarawan-nya langsung, Pak. Sebagai orang yang mumpuni dalam bidangnya, karena menulis buku sejarah itu tak semudah menulis buku-buku pada umumnya. Ada tanggung jawab besar yang sejarawan emban, terutama tanggung jawab akademik.

Dan setelah menyaksikan film G30SPKI itu, apakah bapak yakin telah melakukan studi pustaka dengan berbagai macam buku, dan tentunya tidak dari satu atau dua buku saja? Sebab, worldview itu dapat dibentuk salah satunya atas dasar dari berapa banyak buku yang telah kita baca toh, Pak. Tapi kok, pernyataan bapak di TV One kemarin seperti menggambarkan orang-orang yang nggak pernah baca buku, ya, apalagi buku sejarah. Eh, semoga dugaan saya ini nggak bener ya, pak. Hehehe. Semoga anda adalah politisi yang cerdas yang suka membaca. Meski dari ucapannya tidak menunjukkan demikian.

Asep Kambali, founder dari Komunitas Historia Indonesia, menulis di akun instagramnya, “Namanya film, ya, konsumsinya hanya untuk hiburan. Lebih jauh dari itu, ia mungkin bisa dianggap sebagai alat propaganda. Bagaimana soal kebenaran? Secara normatif, film mungkin mengandung nilai-nilai tertentu. Tapi, jangan jadikan film sebagai satu-satunya tempat untuk mencari kebenaran. Bacalah buku sejarah!”

Jadi pak Vasco yang (sepertinya nggak) baik, film memanglah salah satu media termudah untuk membuat masyarakat tertarik dalam mempelajari peristiwa sejarah. Karena sebagaimana yang kita tahu, masyarakat kita itu minat literasinya masih tergolong rendah. Tapi, yang perlu diingat kembali, bahwasanya film tentu telah dicampurtangani oleh peran banyak pihak. Script yang ditulis tentunya juga tidak murni sebagai “sejarah” seutuhnya, ada bumbu-bumbu yang harus ditambahkan atau dikurangi dalam sebuah film, agar semakin menarik minat masyarakat untuk menyaksikannya.

Lantas, memang sudah menjadi keharusan bagi para sejarawan untuk meluruskan apa yang salah dari sebuah film yang penuh adegan kekerasan dan menjadi kontroversi selama berpuluh-puluh tahun lamanya. Itu bisa menjadi “kesalahpahaman” abadi, yang selalu melekat pada pemikiran dari satu generasi ke generasi. Yah, seperti bapak ini lah salah satu contohnya. Contoh korban propaganda film maksudnya. Hehe. (Pak Vascooo, pak Vasco, ada-ada aja).

Toh juga, jangan terlalu berpacu pada kejadian 30 September 1965-nya aja, Pak. Genosida pasca tragedi 30 September itu gimana? Apa bapak lupakan, atau memang bapak tidak pernah tahu menahu soal sejarah kelam yang menewaskan hampir setengah juta masyarakat yang belum tentu mereka bersalah? Dan apa harus kita benarkan hal-hal yang demikian? Coba bapak baca dan telaah juga bukunya Ita F. Nadia, yang berjudul “Suara Perempuan Korban Tragedi 65”, dari buku itu kita sama-sama bisa mengetahui siapa yang “memainkan peran” dari seluruh kekejaman-kekejaman itu.

Pak Vasco yang (sepertinya tidak) terhormat. Sejarah itu sebagai sebuah rentang kisah, yang tentunya saling berkesinambungan dan belum bersifat final. Jadi, jangan berpikir hanya dari satu kejadian dan satu sisi saja, tapi harus secara komprehensif, menyeluruh pada setiap kejadian. Jika ada sebuah bagian yang hilang, maka akan mengaburkan sejarah itu sendiri. Jadi tolong, hargai usaha para pegiat sejarah yang terus belajar dan berusaha mengungkap apa-apa yang hilang dari sejarah di negara kita ya, Pak. Bukan malah meremehkan keberadaan mereka.

Oya, masih ada lagi. Sebelum bapak emosi, saya adalah mahasiswi calon sejarawan yang ga ada urusan sama komunas-komunis. Saya juga bukan seorang yang memahami apalagi mengikuti ajaran komunisme, dan saya juga tidak menyalahkan atau membenarkan keberadaan komunisme. Jangan gara-gara saya tidak menyetujui statement anda lalu anda menjustifikasi saya. Semoga anda tidak begitu (kalau anda benar-benar seorang pembaca buku dan politisi yang cerdas).

Tapi, saya diajarkan jika seorang sejarawan dituntut untuk jujur dalam berpikir, tidak berat sebelah dalam menyibak tabir kebenaran sesuai fakta dan data yang akuntabel. Kami tidak melulu seperti apa yang bapak pikirkan bahwa “sejarawan punya kepentingan sendiri-sendiri”. Lagi pula, kalau saya boleh tahu, sejarawan siapa dan yang mana, yang memiliki kepentingan seperti yang bapak maksudkan? Tuh, kan. Saya jadi kepo, deh. Bapaknya ambigu sih nggak nge-mention nama sejarawan yang “berkepentingan” itu. Jadinya yang kesindir sejarawan-sejarawan se-Indonesia, deh. Hehe. Kan jadi generalisir. Apa bapak memang sedang menantang seluruh sejarawan? Kalau iya, ya gapapa juga, sih. Yang penting berani bertanggungjawab aja. Jangan mencla-mencle (lagi-lagi, kalau anda politisi cerdas).

Semoga, melalui sedikit tulisan sederhana saya ini, dapat merubah sedikit-banyak pandangan bapak kepada para sejarawan. Saya juga berharap bapak bersedia untuk terus belajar sejarah, agar nggak lagi melontarkan kata-kata yang memperlihatkan siapa bapak sebenarnya. Oya, masih ada tambahan, semoga bapak juga mau patungan dalam pembuatan film G30SPKI yang baru yah, seperti yang bapak sarankan. Agar kita sama-sama mengoreksi dan memperbaiki narasi-narasi yang hilang, tapi bukan berarti narasinya ditambah-tambahin seenak jidat ya, pak! Hahahaha.

Salam dari saya, Nanda Nadya, mahasiwi Ilmu Sejarah. Semoga anda dalam keadaan sehat dan banyak uang. Jangan lupa makan. Nanti sakit.


Foto: AnimeNewsNetwork.com

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai