kopi travel blog

jauh berjalan banyak dilihat

Siapakah Saya?

Sebagaimana manusia, kerapkali kita dihadapkan oleh pilihan-pilihan yang meragukan.


Oleh Muhammad Iqbal

Beberapa hari lalu, saya kembali membaca buku Soe Hok Gie yang berjudul “Sekali Lagi”. Buku pemberian seorang senior ini acapkali membuat semangat dalam diri saya membara, semangat untuk terus membuka mata terhadap keadaan-keadaan di sekitar, turut mendorong saya untuk bergerak, peka terhadap situasi sosial tidak hanya berdasarkan kepentingan golongan semata, akan tetapi bergerak atas dasar dorongan hati. Kepentingan bersama.

Saya membaca ulang salah satu tulisan Gie yang berjudul “Siapakah Saya?” Dalam tulisan tersebut, saya seperti diajak untuk melihat keadaan masa lalu, serta melihat realita yang terjadi saat ini. Gie menceritakan dalam tulisannya tentang sebuah film dari Cekoslovakia yang berjudul “And The Fifth Rider is Fear”, film yang berkisah tentang manusia dan ketakutannya, lalu bagaimana akhirnya ia menemukan dirinya hingga dapat mengalahkan ketakutannya itu.

Film ini mengisahkan tentang seorang dokter Yahudi yang dilarang berpraktik oleh Nazi di kota pendudukan Praha pada waktu Perang Dunia II. Sang dokter yang dilarang praktik itu diberi tugas oleh orang-orang Nazi untuk menjadi penjaga barang-barang sitaan. Suatu hari, ia diminta untuk menolong seorang partisan yang tertembak dan disembunyikan di dekat kamarnya. Ia menolak karena ia tahu konsekwensi apabila ketahuan oleh pihak polisi rahasia, pastinya akan sangat berbahaya.

“Saya bukan seorang dokter, saya hanyalah seorang penjaga gudang dan oleh karena itu bukan kewajiban saya untuk menolongnya,” katanya. Namun, ia tidak dapat membohongi kata hatinya, bahwa ia adalah seorang dokter dan harus menolong siapapun juga. Akhirnya setelah melawan kecamuk dari dalam dirinya sendiri, ia memutuskan untuk menolong partisan yang terluka tersebut.

Pada waktu itu, seseorang dapat dihukum jika ia tidak melaporkan sesuatu yang mencurigakan. Seorang tetangganya yang curiga dengan tingkah laku sang dokter melaporkan ia kepada polisi. Saat sang dokter ditangkap, ia ditanyai mengapa melakukan hal itu. Jawabannya sederhana saja bahwa “Seorang manusia adalah seperti yang dipikirkannya, kau tak dapat mengubahnya.” (A man is as he think, you can’t change it).

Melalui tulisan “Siapakah Saya?” ini, Gie seakan-akan mengajak saya kembali berpikir tentang siapakah saya? Di manakah saya berdiri saat keadaan negeri ini sedang tidak baik-baik saja? Siapakah saya? Ini menjadi sebuah pertanyaan besar yang dilontarkan “saya” kepada diri saya sendiri.

Gie berhasil mengoyak selubung-selubung egoisme dalam diri saya, yang merupakan inti terdalam dari diri seorang manusia. Sebagaimana manusia, kerapkali kita dihadapkan oleh pilihan-pilihan yang meragukan, bahkan membuat ngilu. Sebelum melakukan sesuatu dan memutuskan sikap, kita harus menanyakan kepada diri sendiri, “siapa saya?” Dan jawaban kita atas pertanyaan itu, mutlak menentukan pilihan-pilihan kita. Begitulah kira-kira hal yang dimaksudkan oleh Gie.

Jika berkaca dari situ, jika sebelum melakukan sesuatu kita harus mempertanyakan kepada diri sendiri tentang “siapa saya?”, maka itu akan menjadi tafsiran dan sekaligus refleksi sederhana dari gambaran diri kita yang kemudian turut menentukan keberpihakan kita, atas pilihan-pilihan yang kita ambil.

Seorang wakil rakyat, umpamanya, jika sebelum mengambil keputusan besar atas nama rakyat, tentu saja ia harus menanyakan kepada diri mereka sendiri, “siapakah saya?” Apakah saya seorang petugas partai sehingga saya harus mengikuti instruksi pak/ibu ketua umum partai? Apakah saya hanya seorang kacung dari oligarki? Atau ketika mereka bertanya kepada diri mereka, siapakah saya? dan di dalam hati kecilnya mengatakan bahwa “saya adalah seorang wakil rakyat, yang dipilih oleh rakyat, makan dan tidur enak, serta menikmati berbagai fasilitas mewah yang berasal dari uang pajak yang dipungut dari keringat rakyat, dari retribusi sampah, pajak parkir, setoran lapak emak-emak penjual sayur, retribusi para pekerja seks komersil dari prostitusi yang dilegalkan, sehingga saya wajib berpihak pada rakyat”.

Jika memang yang terucap dalam hati kecilnya adalah jawaban yang sedemikian itu, tentu saja akan muncul keberpihakan yang jelas dan tegas pada masyarakat kecil, rakyat tertindas, dan kaum yang termarjinalkan, atau minimal mau mendengarkan suara-suara rakyat, tidak terburu-buru mengesahkan undang-undang di tengah gejolak penolakan, situasi pandemi yang semakin akut, dan juga tanpa mempertimbangkan pendapat rakyat, para ahli dan sebagainya.

Pada tanggal 8 Oktober yang lalu, di lintas dunia maya, berkecamuk pro-kontra mengenai gelombang aksi #mositidakpercaya yang dilakukan oleh pelajar, mahasiswa, buruh, aktivis HAM dan lingkungan, petani, akademisi, hingga berbagai lapisan rakyat tentang #tolakomnibuslaw. Ada yang berpendapat bahwa apa yang dilakukan mahasiswa dan rakyat yang turun adalah tindakan benar dan patut diperjuangkan. Ada juga yang berpendapat apa yang dilakukan mahasiswa dan demonstran adalah hal yang tidak perlu, ditunggangi, anarkis, tidak bermoral, hingga tidak mencerminkan intelektualitas, dan lain sebagainya.

Baik setuju ataupun tidak, saya rasa itu hal yang biasa, di mana dunia ini seringkali terdiri dari pendapat dan “pendapatan” yang berbeda-beda, dan pendapat-pendapat itu lahir dari pengalaman subyektif seseorang yang nantinya akan menumbuhkan kesadaran, hingga melahirkan keberpihakan pada persoalan-persoalan yang ada.

Dan ketika aksi unjuk rasa itu, saya kembali menanyakan sebuah hal kepada diri saya sendiri, “SIAPAKAH SAYA?” Saya mengatakan kepada diri saya sendiri dengan sebuah jawaban bahwa saya adalah seorang mahasiswa dan manusia. Seorang mahasiswa menandakan bahwa saya adalah seorang pelajar, dan seorang terpelajar adalah mereka yang selalu bertanya-tanya akan keadaan yang ada, bertanya-tanya terhadap sesuatu yang dianggap janggal oleh dirinya, dan kemarin, saya memutuskan bertanya secara keras kepada wakil rakyat tentang keputusan-keputusan yang ditetapkan oleh mereka, yang janggal, aneh, bahkan tidak masuk akal.

Sebagai seorang manusia, menandakan bahwa saya adalah bagian tidak terpisahkan dari masyarakat, bukankah sebelum adanya peraturan yang disahkan kemarin pun keadaan sudah sulit? Bukankah tanpa peraturan kemarin pun lingkungan kita telah banyak mengalami kerusakan? Bukankah dengan UU Ketenagakerjaan yang lama saja, para buruh tetap saja seringkali dikalahkan? Bukankah begitu? Maka dari itu, sebagai seorang manusia, tentu saja saya akan mengatakan kepada diri sendiri, “Bahwa apapun cita-citamu ke depan, semua itu bergantung pada keadaan negeri ini, negeri di mana kau bernaung, di mana kau akan menyambung hidup, hingga menutup mata.”

Maka sering-seringlah kita kembali bertanya tentang “Siapakah Saya?” kepada diri sendiri, siapa tahu, pertanyaan itu menjadi pertanyaan yang membuat hidupmu lebih seimbang dan penuh pertimbangan, bisa membantu dalam mengambil sikap dari sekian banyak persoalan yang ada, lebih kokoh untuk berdiri di pihak yang mana.


Foto Soe Hok Gie oleh Muhammad Harir.

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai