Tak semua hal-hal baik selalu ada di dalam sesuatu yang kita anggap kebaikan.
Oleh Taqiya Herman
“Aku ingin mengatakan sesuatu, tapi kuharap kau jangan merasa tersindir,” ucap pria itu melalui video call pada suatu hari. Aku mengangguk dan membulatkan mulut seolah sedang mengatakan “apa?”
Pria itu menghela napas seakan kesulitan mencari kata yang tepat agar tak mempersulit masalah malam ini.
“Ketika aku masih di pondok, seseorang mengatakan kepada kami bahwa pacaran itu adalah hal yang sia-sia,” ia mengambil jeda sejenak, lalu melanjutkan ucapannya, “katanya, apakah kalian yakin bahwa pacar kalian sekarang adalah jodoh kalian? Kalau tidak, itu hanya akan menyakiti perasaannya saja.”
Aku yang segera tahu arah pembicaraan tersebut seketika menatapnya sendu, “maksudmu?” tanyaku pelan.
Seketika udara dingin dari arah loteng menjadi dua kali lipat seakan menusuk-nusuk hingga ke relung dada.
“Kiamat sudah dekat, dan aku nggak mau tobat di akhir. Tapi, aku ingat pesan kakakku, katanya, kalau aku menyakiti hati wanita, maka sama saja aku menyakiti perasaannya karena dia juga wanita,” lanjutnya.
Aku memiringkan kamera hape hingga hanya memperlihatkan separuh wajahku.
“Hey, kenapa kau jadi begitu murung?” serunya.
Aku hanya terdiam seakan kehilangan beribu cerita yang tadinya hendak kubagikan padanya. Ya, padanya setelah dua bulan tak menyapa.
“Kau ingin tak bersamaku lagi?” Hanya satu kalimat itu yang berhasil meluncur dari bibirku yang kaku.
“Tidak, aku hanya menyampaikan hal yang mengganjal pikiranku. Tapi, kau tahu, orang itu ada benarnya juga.” Ia memperbaiki posisi duduknya.
“Bukan ada benarnya, orang itu memang benar,” aku berucap tegar.
“Kau pasti mengira jika aku mencari alasan agar bisa bersama orang lain, kan?” selidiknya.
Aku menggeleng dan menunjukkan ekspresi lucu agar ia tak terlalu curiga.
“Aaah, kau selalu saja gagal berbohong padaku,” ia mengejek.
Seketika aku langsung menyesali dirinya yang terlalu teliti.
“Aku bahkan tidak tahu seberapa lama lagi umurku. Kiamat semakin dekat, siapa tahu aku tak diberi kesempatan oleh Tuhan untuk tumbuh dewasa, tak diberi kesempatan untuk mengecap seberapa keras kehidupan ini.”
Kemungkinan-kemungkinan benar yang keluar dari mulutnya seketika membuatku benci. Aku tak suka mendengarnya. Itu membuatku sakit, sungguh. Seketika ingatanku terbang ke saat pertama kali mengenalnya. Waktu yang singkat itu memang selalu menyenangkan, kan? Ah, kenangan, mengapa malam ini kau menikam di hati?
“Siapa tahu yang akan bersamaku adalah Co-Pilot yang duduk di sebelahku, bagaimana jika itu terjadi?”
Pertanyaan itu berhasil membuatku mendelik.
“Itu adalah takdir.”
“Ya, itu adalah takdir yang tentu tak bisa diubah oleh siapapun, termasuk aku.”
“Tapi, kau tenanglah, aku sudah melangitkan ribuan doa agar Tuhan menunjukkan jalan selain perpisahan. Karena aku percaya, mimpi-mimpi indah suatu saat nanti akan menjadi kenyataan atas izin Allah,” ia berucap lembut, tetap berusaha menghibur seolah-olah tak ada maksud apa-apa dari perkataan yang barusan dikemukakannya.
“Namun kita sebagai makhluk jangan terlalu berharap, jangan bertanya, dan jangan pernah menuntut. Biarkan saja. Jika memang ditakdirkan, suatu saat pasti akan terjadi juga.”
“Tidurlah, besok kutelpon lagi,” ia mengakhiri.
“Jika kau sudah berkata begitu, maka itu tidak akan terjadi,” protesku.
“Hahaha, tidak, besok akan kuaturkan jadwal untukmu. Kau tahu, lelaki itu yang dipegang adalah omongannya, Ahsiap,” candanya. Matanya yang sipit semakin menyipit karena menahan tawa dan kantuk.
“Yasudah, baiklah,” aku mengalah. Mungkin memang tak semua keraguan dapat diselesaikan pada saat itu juga.
“Selamat malam,” pamitnya dan video call pun terputus.
Aku menangis tertahan. Namun, cepat-cepat berusaha menguasai diri. Ia memang tak pernah berucap selain hal-hal yang benar. Dan lihatlah, sekarang ia sedang dilema memilih antara aku atau taat pada Tuhannya. Namun, hey Tuhan, haruskah aku menjadi seorang Co-Pilot agar tetap selalu bisa bersamanya?
Tapi, sudahlah. Tak semua hal-hal baik selalu ada di dalam sesuatu yang kita anggap kebaikan. Sebab, kebaikan yang hanya sebatas sebuah anggapan, mesti diuji lagi oleh kehidupan itu sendiri. Waktu, terbukti akan menjawab banyak hal. Jadi, untuk apa mesti bersedih? Persis seperti Ayahku yang pernah berpesan, ” Ayah pernah mendengar seseorang berkata bahwa kebahagiaan itu tidak bisa dibeli. Andai ia bisa dibeli, tentu orang-orang kaya akan memborong toko yang menjualnya. Itulah sebabnya kebahagiaan itu bisa diperoleh oleh siapa saja. Bagaimana caranya? Peluklah dengan keyakinan yang erat setiap hal baik yang kau miliki. Perkara yang tidak/belum kau miliki, Tuhan mengajarkan kita berdoa sepenuh harap hanya pada-Nya. Setelah itu, biarkan Tuhan bekerja, sembari kau pun tetap memeluk kebaikan yang ada itu.”
Terima kasih untuk segala hal baik.
Foto: Grid
