Semakin dewasa seorang anak, seperti ada tembok yang memisahkannya dengan orang tua.
Oleh Aulia Erlis Apriyana
Di masa pandemi ini, aku jadi lebih sering menghabiskan waktu senggang, yang biasanya setelah tugas kuliah selesai kukerjakan, dengan berselancar di Twitter, media di mana aku merasa berada di dunia lain, dunia yang lebih santai dan penuh humor.
Jujur, aku mulai menaruh ketertarikan pada budaya Korea semenjak berkelana di aplikasi medsos berkepala burung itu. Soalnya, apa-apa yang berkaitan dengan Korea sering menjadi trending. Awalnya cuitan tentang Korea yang berseliweran itu kuhiraukan saja. Akan tetapi pernah pada suatu waktu, aku dikagetkan oleh twit seseorang yang membuat thread tentang drama yang meraih rating tertinggi pada zamannya, yang berjudul “Reply 1988”. Kubaca sekilas, mungkin karena yang mengulas pandai menulis, akhirnya penasaran, dan aku memutuskan untuk menonton.
Terima kasih Twitter dan segala isinya, berkat kalian aku jadi semangat buat merekomendasikan serial “Reply 1988” yang sekarang menjadi drama yang akan kutonton berulangkali, dan tentunya, juga akan terus kurekomendasikan untuk siapapun yang kutemui.
Drama epik dari negeri Ginseng ini memiliki alur cerita yang dikemas dengan menarik. Apa yang membuatnya menarik? Karena kisah yang dibangun sangat relate dengan kehidupan sehari-hari kita, dan bagusnya lagi, juga banyak membekaskan pelajaran hidup bagi siapapun yang menontonnya.
Alur kisahnya berawal dari pertanyaan, “apa mimpimu?”, tanya seorang ayah kepada anaknya yang masih menginjak usia 18 tahun. Kemudian gadis itu menjawab, bahwa ia tak mempunyai mimpi dan berkata kepada ayahnya supaya jangan membencinya hanya karena ia tak mempunyai mimpi. Nama gadis itu Sung Deok Sun, pemeran utama drama ini. Bersama dengan para sahabatnya, mereka pun melukiskan kenangan indah yang tentu saja akan terkenang terus di sepanjang hidupnya.
Kisah ini mengambil latar tahun 1988. Isinya memuat kisah tentang sekelompok remaja yang bertetangga di komplek Ssangmungdong. Kehidupan bertetangga di sini hampir sama persis seperti kehidupan bertetangga kita pada umumnya, seperti bertukar makanan, bertegur sapa, dan saling membantu jika ada yang kesulitan.
Sangat indah jika kita menonton langsung bagaimana mereka memainkan drama kerukunan ini. Terlihat kehidupan bertetangga yang harmonis, sangat jauh dari konflik bertetangga dan berumahtangga yang saban hari ribut-ribut tak karuan.
Kehidupan sejatinya tidak hanya tentang melamunkan pertanyaan, melainkan menjawab tiap-tiap pertanyaan yang menggantung itu. Entah itu jawaban tentang pertemanan, orang tua, ataupun tentang impian yang ingin kita capai di masa mendatang. Pelajaran yang dapat dipetik dari drama ini adalah tentang bagaimana kita harus pandai menghargai waktu. Menjadikan waktu sebagai sesuatu yang amat berharga. Waktu terus berjalan berdampingan dengan kita, tapi jika kita tak melakukan apa-apa, maka kita yang akan ditinggalkan olehnya. Hari ini mungkin saja Deok Sun marah kepada ayahnya karena hari ulang tahunnya tak dirayakan secara terpisah dengan kakaknya, Sung Bo Ra, sesuai dengan keinginannya yang pernah ia sampaikan kepada ayah dan ibunya.
Ayah dan ibunya tidak mengerti mengapa Deok Sun marah di hari itu, meski hari itu adalah hari ulang tahunnya. Namun setelah ayah dan Dekok Sun berdialog sebagaimana ayah dan anak, maka ketemulah jalan keluarnya. Ayahnya berkata, “Nak, ayah tidak mengerti mengapa kau marah hari ini, ayah hanya seorang lelaki yang baru saja menapaki kehidupan sebagai seorang ayah, ayah minta maaf, Nak.”
Tentang waktu dan cara menerima keadaan adalah pesan yang ingin disampaikan oleh kedua ayah dan anak ini. Deok Sun adalah tipikal yang dekat dengan ayahnya, berbeda dengan Sung Bo Ra yang sangat canggung kepada ayahnya. Kurasa di usia kehidupan yang semakin menua ini, kebanyakan anak justru jadi berjarak dengan kedua orang tuanya, semakin canggung dan tidak intens lagi melakukan komunikasi sebagaimana dulu sewaktu kecil. Kadang untuk sekadar bertanya, “apa ayah sudah makan?” atau bercerita, “ayah hari ini aku melewati hari yang menyenangkan”, sulit sekali rasanya.
Dulu, hal-hal kecil seperti itu mudah sekali keluar dari mulut kita, sewaktu masih anak-anak. Namun, semakin dewasa, seperti ada tembok yang memisahkan kita dan orang tua. Dan sosok Sung Bo Ra di dalam drama ini seperti mewakili kepribadian tersebut. Karakter atau sikap anak muda pada umumnya terhadap orang tuanya.
Sebagaimana kita tahu, jarang ada seorang ibu yang menampakkan kesedihannya, melihatkan kegelisahannya di depan anak-anaknya. Benar, seperti Ibu dari Kim Jung Hwan yang sangat sedih ketika Jung Bong (kakak jung Hwan) harus menjalani operasi Jantung. Sampai-sampai ia (ibunya) bersikeras mengatakan bahwa operasi yang ia jalani itu hanyalah operasi kecil yang tidak berbahaya. Ia mengatakan bahwa ia akan baik-baik saja dan tidak usah takut. Sebab, ia percaya sepenuhnya kepada dokter. Tetapi, di balik optimise itu, sang Ibu sejatinya menangis, hatinya remuk, sebab jauh di dalam lubuk hatinya, sang ibu sangat khawatir dengan kesehatan dan keselamatan anaknya. Dan kasih sayang itu terlihat ketika operasi telah selesai, ibunya langsung melepaskan segala kekhawatirannya dengan spontan menangis dan mengeluarkan air mata sembari tersenyum bahagia.
Waktu demi waktu berlalu, kelima sahabat yang bertetangga itu tumbuh dewasa dan pergi menggapai impiannya masing-masing. Dan di lain sisi, orang tua mereka juga turut beranjak tua. Waktu berganti, orang pun ikut berganti. Orang tua dulunya pernah muda, berkerja keras, banting tulang di masa muda demi menghidupi anak-anaknya yang kini sudah dewasa, sudah menemui waktu pensiun dan siap melepas anaknya menikah.
Di dalam sebuah rumah, di lantai bawah, ayah Deok Sun berbincang dengan Sung Bo Ra yang akan segera menikah. Sang Ayah membuatkan nasi goreng kesukaan Sung Bo Ra, obrolan-obrolan kecil yang sangat canggung mengiringi waktu makan siang mereka. Sung Bo Ra adalah tipe seorang anak yang ketika berbicara dengan ayahnya hanya melalui surat. Seperti mengucapkan sayang, terimakasih dan meminta maaf sekalipun, ia sampaikan lewat tulisan.
Meski ia tinggal dengan keadaan ekonomi rendah, ia tetap ingin terlahir sebagai putri dari ayahnya, dan tak pernah menyesali apapun terlahir sebagai putri ayahnya. Di sudut surat yang pernah ia tulis kepada ayahnya, ayahnya merasakan hal yang sama, ia sangat berterima kasih kepada putrinya karena telah lahir sebagai anaknya.
Kawan, hari ini terkadang kita disibukkan dengan berbagai aktivitas di luar yang sampai-sampai kita lupa dengan rumah. Ibu dan ayah kita bukan tak mau menegur dan mengajak anaknya pulang. Sebab mereka menghargai privasi kalian, kegiatan kalian, kemandirian kalian. Namun, sesungguhnya, di balik sikap orangtua yang begitu, mereka sejatinya merindukan anaknya pulang, bercerita dan berbagi kisah bersama kalian, anak-anaknya. Ada baiknya sempatkan sedikit waktu untuk berbincang dengan orang tua kita sembari menyeruput teh atau kopi di sore hari. Bertanya menjelang tidur tentang apa yang hendak dilakukan besok, mau masak apa besok, atau sekadar bercerita tentang hari yang lelah dan menyebalkan.
Pasti orangtua akan sangat bahagia jika anaknya menceritakan apa yang ia lewati di hari ini, dan mereka akan sangat bahagia walau hanya dengan hal-hal kecil seperti itu. Selagi masih bersama, hargai waktu yang sedang berjalan berdampingan dengan kalian hari ini, hargai pula setiap orang yang bersama kalian saat ini, dan yang paling penting adalah, jangan tinggalkan komunikasi, percakapan, atau obrolan ringan, walau terkesan sepele, sungguh suatu saat akan berarti.
Foto Reply 1988 dari Behance
