kopi travel blog

jauh berjalan banyak dilihat

[Obituari] Kabar Duka di Hari Santri

“Taharrak. Fa inna fil harakati barakah.”


Oleh Najmi Laila Elbasyarah

Dua hari kemarin adalah hari yang campur aduk sekali, khususnya bagi para santri Indonesia. 22 Oktober merupakan Hari Santri Nasional yang (seharusnya) sarat dengan euforia dan kegembiraan, justru diiringi kabar duka yang menyelimuti dunia pesantren Indonesia. Salah seorang Trimurti Pendiri Pondok Modern Darussalam Gontor, KH Abdullah Syukri Zarkasyi, tutup usia sehari sebelumnya. Menambah daftar panjang ulama-ulama yang yang berpulang di tahun 2020.

Ucapan duka cita serta doa menggema di seluruh media sosial pada penghujung hari. Beliau wafat di usia ke-78 tahun. Beliau merupakan sosok Kyai yang dicintai para santrinya. Beliau bukan hanya sukses menjaga legasi dan mengembangkan Pondok Modern Gontor yang kini memiliki cabang di beberapa daerah, tetapi sekaligus mampu menjaga identitas Gontor dan mempertahankan standar mutu lembaga pendidikan Islam terkemuka tersebut.

Ulama pendidik yang setia dan istiqomah. Pribadi yang mencintai ilmu serta turut aktif dalam keorganisasian di tingkat nasional maupun internasional. Kedekatannya dengan Gus Dur pun menggambarkan kedekatan antara mazhab tradisionalis dan modernis di dalam khazanah pendidikan Islam. Bahkan rasanya, beliau bukan semata-mata Kyai Gontor. Lebih dari itu, beliau adalah Kyai lintas pondok.

“Taharrak. Fa inna fil harakati barakah.”

Bergeraklah, karena sesungguhnya dalam sebuah pergerakan terdapat keberkahan.

Itulah salah satu ucapan Kyai Abdullah Syukri Zarkasyi yang paling membekas di lubuk sanubari para santrinya. Mungkin kata-kata itu jugalah yang paling pas sebagai pesan utama di Hari Santri tahun ini. Terkhusus untuk kawan-kawan santri di manapun berada, yang pakai peci atau tidak, yang tradisional atau modern, yang baca qunut atau tidak, yang baca ushalli atau tidak, yang tahlilan atau tidak, yang selalu gerakkan jari telunjuk sepanjang tahiyat shalat atau hanya gerakan sekali saja ketika membaca syahadat, ayo, terus kuatkan ukhuwah dan jaga semangat mengabdi untuk agama dan bangsa. Sembari tak henti terus belajar dan mengabdi. Karena itulah hakikat dan ruh utama seorang santri.

Terus lakukan tindakan, pergerakan, serta perubahan. Layaknya para pedahulu kita yang banyak menorehkan sumbangsih dan dedikasi terbaik untuk negeri ini. Terus jaga ruh dan spirit santri, yakni keikhlasan, cinta ilmu, keteguhan, kesederhanaan, kesabaran, dan semangat perjuangan serta cinta tanah air. Jangan terlena dengan selebrasi. Jangan terpesona dengan simbolik, dan terlupa dengan substansi. Jadikan Hari Santri Nasional 2020 ini sebagai pengingat, bahwa seorang pecinta akan pergi bersama apa yang dicintainya.

Begitulah gambaran kepergian Kyai kita, salah satu putera terbaik bangsa. Namanya semerbak. Harum, seharum perjuangannya dalam menunjukkan eksistensi santri secara nyata untuk agama, bangsa, dan negara.

Selamat jalan, Kyai Syukri Zarkasyi.
Nasyhadu bi annaka min ahlil khair.

Kami, santri-santrimu, bersaksi bahwa engkau termasuk dari orang-orang yang baik.

رحم الله الشيخ كياهي عبدالله شكري زركشي رحمة الابرار وأسكنه فسيح جناته….له الفاتحة

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai