kopi travel blog

jauh berjalan banyak dilihat

Membaca Ulang Peran Pemuda: Sebuah Catatan di Hari Sumpah Pemuda

“Masa muda adalah masa yang berapi-api.”


Oleh Erick Maulana

Hari ini, tanggal 28 Oktober, kita sedang berada dalam sebuah momentum bersejarah yang kita sebut sebagai Sumpah Pemuda. Tepat 92 tahun lalu terjadi sebuah peristiwa penting, yang membawa arah baru dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Dari perjuangan yang sebelumnya bersifat particular bergeser menjadi general.

Sumpah Pemuda sendiri merupakan hasil dari Kongres II Pemuda Indonesia. Kongres tersebut dihadiri oleh para pelajar dari beberapa daerah yang tergabung dalam sebuah organisasi yang bernama Perhimpunan Pelajar Pelajar Indonesia (PPPI).

Dari Kongres inilah lahir sebuah ikrar yang menjadi tonggak awal para pemuda untuk bersatu dalam mewujudkan kemerdekaan Indonesia.

Kini, sumpah pemuda dapat dijadikan sebagai momentum untuk kita semua, khususnya para pemuda, dalam merevitalisasi peran kita sebagai generasi penerus bangsa ini.

Jika kita melihat peristiwa Boedi Oetomo pada tahun 1908, Sumpah Pemuda pada tahun 1928, revolusi kemerdekaan pada tahun 1945, hingga Reformasi pada tahun 1998, maka di balik peristiwa-peristiwa bersejarah itu terlihat jelas betapa pentingnya peranan pemuda dalam proses dinamika Indonesia sebagai sebuah bangsa.

Oleh karena itu, di sini saya ingin memberi beberapa catatan tentang bagaimana seharusnya pemuda, sebagai tonggak perubahan, berkontempelasi, memikirkan ulang peranannya di tengah kemajuan bangsa:

Pemuda Sebagai Agent of Change

Mengapa pemuda sebagai agent of change (agen perubahan)? Kalau kata bang Haji Rhoma Irama, “Masa muda adalah masa yang berapi-api.” Berapi-api karena di usia muda adalah usia yang masih menyala. Usia di mana dalam psikologi perkembangan manusia tengah berada pada fase “mencari jati diri”. Sebab itu, di usia muda, seringkali tumbuh jiwa kritis, optimistis, serta memiliki daya juang yang tinggi. Dan itu menjadi modal penting bagi dirinya sendiri dan juga investasi besar bagi negara di sektor Sumber Daya Manusia di masa yang akan datang.

Tanpa adanya peran pemuda, suatu bangsa akan sulit untuk berkembang dan berubah. Karena jika kita bicara perubahan, maka pemuda adalah tulang punggungnya. Karena di dalam diri anak muda, terdapat hal-hal yang tidak dimiliki oleh orang tua. Apa itu? Idealisme yang genuine dan rasa ingin tahu yang besar.

Pemuda Sebagai Agent of Development

Sebagai agent of development (agen pembangunan), tentu pemuda memiliki peran dan tanggung jawab dalam setiap pembangunan.

Pembangunan yang dimaksud di dalam konteks ini tidak hanya pembangunan yang bersifat fisik, seperti lingkungan ataupun infrastruktur. Tetapi pemuda dalam konteks bangunan karakter. Keberanian bertanggungjawab dalam pembangunan non fisik, seperti pendidikan, kebudayaan, ekonomi dan sebagainya.

Maka dari itu, dengan semangat dan energi yang dimilikinya, pemuda harus berkontribusi dalam setiap pembangunan guna menjaga eksistensi serta membawa harapan baik bagi bangsa ini.

Pemuda Sebagai Agent of Modernization

Sebagai agent of modernization (agen modernisasi/pembaharu), tentu pemuda dapat menjadi pelopor dalam suatu pembaharuan.

Di era disrupsi seperti saat ini, pemuda harus pandai menganalisa perubahan serta dampak yang diakibatkannya terhadap dinamika dan perkembangan bangsa. Dalam buku Prof. Rhenald Kasali, ia menjelaskan bahwa di era disrupsi ini kita membutuhkan seorang yang memiliki self disruption, yaitu orang yang mampu membawa masa depan ke hari ini. Dalam artian, negeri ini membutuhkan seseorang yang memiliki jiwa inovatif yang tinggi, yang hal itu dapat ditemukan pada diri pemuda sebagai agen pembaharu. Kalau pemudanya saja tidak pandai beradaptasi pada perkembangan zaman, bisa menjadi sinyal bahaya bagi masa depan bangsa. Sebab investasi terbesar yang dimiliki oleh negara ini adalah: pemuda yang mampu berinovasi di tengah tantangan zaman.

Sebagai penutup tulisan ini, saya menyampaikan pesan dari Pramoedya Ananta Toer kepada para pemuda Indonesia. Beliau berpesan, “Pesan saya kepada angkatan muda. Jangan belagak tidak mengerti. Kalian itu cukup mengerti apa yang harus kalian lakukan. Lakukanlah yang terbaik untuk Indonesia dan untuk diri kalian sendiri. Jangan belagak bodoh. Kalian cukup pandai. Kalian cukup punya keberanian. Kalian cukup punya keahlian mempersatukan semua angkatan muda. Bergerak. Terus. Sampai tercapai tujuan.”

Tugas kita sebagai pemuda hari ini adalah belajar. Belajar dari sejarah, dari ilmu pengetahuan, dan dari kehidupan itu sendiri. Sembari mengasah diri agar memiliki kepribadian yang kokoh, kritis, serta menjadi bagian dari perubahan bangsa ke arah yang lebih baik.


•Foto: strategi.id

••Erick Maulana adalah Mahasiswa jurusan Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai