Saya menganalogikan Kopet-19 ini semacam tongkat baseball yang siap memukul keras bola yang dilempar dari kejauhan.
Oleh Sultan Salahuddin
Pada dasarnya, kenyataan, meski berat, harus kita terima dengan kepala terbuka. Misalnya, fakta terkait lambannya penanganan angka penyebaran Kopet-19 atau secara ilmiahnya kita kenal sebagai Covid-19. Di tulisan ini saya mau menyebutnya dengan Kopet-19, karena bahasa Covid-19 terdengar terlalu elit di telinga kalangan proletar macam saya gini.
Hal yang memotivasi diri saya untuk menulis surat ini demi memuaskan hasrat keresahan hati saya karena kejadian “The Most Doomsday”. Desas-desus tentang maraknya kemunculan penyakit baru dan katanya sangat mematikan. Oke, di hari tersebut saya terpaksa percaya dengan apa yang disebut Kopet-19. Memang virus itu tidak 100% memproyeksikan di alam bawah sadar saya bahwa dia sangat mematikan. Akan tetapi, tetap saja, karena banyak temuan ilmiah yang mengatakan demikian, maka saya mau tidak mau harus percaya meski dalam keadaan cemas. Kekhawatiran itu seakan-akan datang menyerang psikis saya yang kesehariannya sangat menyukai kegiatan di luar ruangan, seperti kegiatan sosial, bertemu kawan-kawan, dan sebagainya.
Terlepas dari pro-kontra kebenaran tentang Kopet-19 itu sendiri, insting saya jadi ke mana-mana, saya mulai bertanya, menduga, kenapa Kopet-19 ini seperti dijadikan alat untuk mencapai kepentingan bisnis baru bagi segelintir orang, khususnya penguasa, lebih tepatnya, semacam entitas yang sengaja dipelihara dan sengaja dijadikan sebagai senjata bagi pemangku kekuasaan dalam merealisasikan rencana-rencana jahatnya?
Maaf, apabila dugaan saya terlalu frontal. Namun, apa boleh buat, pada faktanya, seakan-akan seperti itu. Saya ambil satu contoh: disahkannya Omnibus Law UU Cipta Kerja di tengah pandemi dan bahkan pada saat beberapa daerah sedang menerapkan PSBB, khususnya di Ibu Kota Jakarta, tempat UU itu disahkan.
Bukankah kita semua tahu, UU ini sejak sebelum Kopet-19 bergentayangan, sudah problematik? Tapi, mengapa UU yang jelas-jelas menuai banyak penolakan ini dipaksa untuk disahkan di tengah keadaan darurat, di tengah keadaan yang memaksa orang-orang untuk tidak keluar rumah dan berkerumunan? Bukankah itu suatu permufakatan jahat yang culas? Seperti apa yang dikatakan oleh dosen saya, Pak Busjro Muqoddas, “UU ini disahkan dengan penuh kekumuhan moralitas yang bukan saja rendah, tapi sama sekali defisit moral dari pemerintah dan DPR di saat masih berada dalam kondisi masyarakat yang tak mampu untuk menyampaikan aspirasinya secara normal karena situasi Covid-19. Itu dicuri momentumnya dengan cara mentalitas jumawa tadi.” (Dikutip dari detik.com, Senin, 5/9/2020)
Sebagai mahasiswa yang ikut menyatakan #MOSITIDAKPERCAYA dan menolak keras Omnibus Law, saya merasa sangat kecewa dengan matinya kedaulatan rakyat di negeri yang menjunjung tinggi demokrasi ini. Bagaimana tidak, di beberapa rentetan aksi #TOLAKOMNIBUSLAW pekan lalu, hak konstitusional kami sebagai rakyat untuk bebas menyatakan pendapat di muka umum justru dihalang-halangi oleh Polisi dengan dalih karena keadaan pandemi yang tidak membolehkan orang-orang untuk berkerumun. Kalau tidak percaya, coba saja baca Telegram Kapolri yang memerintahkan anggotanya untuk mencegah aksi, jangan beri izin, redam, dan bahkan Polri dianjurkan menggunakan UU karantina kesehatan sebagai dalih tidak diperbolehkan adanya aksi menolak Omnibus Law UU Cipta Kerja.
Polanya seperti ini: Sahkan UU Ciptaker di tengah pandemi – bila ada gelombang massa yang ingin melakukan aksi jalanan, cegat dengan dalih UU Karantina Kesehatan, karena situasi masih pandemi. Bukankah sudah terlihat jelas adanya upaya sengaja untuk mengesahan UU itu di tengah pandemi? Seharusnya, tunggu dulu pandemi ini selesai, baru lanjutkan pembahasan. Supaya tidak ada pihak-pihak yang merasa dirugikan. Khususnya kaum buruh, tani, mahasiswa, dan elemen sipil yang menolak.
Lalu dari kejadian tersebut, muncul lagi satu pertanyaan, Oligarki ini sebenarnya punya kepentingan apa, sampai UU problematik ini dilakukan dengan pembahasan yang tergesa-tegesa, secara diam-diam, mengendap-endap di balik tabir, tidak melibatkan partisipasi publik, dilakukan dan disahkan di tengah pandemi?
Saya menganalogikan Kopet-19 ini semacam tongkat baseball yang siap memukul keras bola yang dilempar dari kejauhan. Pemegang tongkat kita ibaratkan DPR, Bola kita anggap UU Cipta Kerja, dan pelempar adalah Pemerintah. Ketika Pemerintah melempar Bola (UU Cipta Kerja), di ujung sana (Paripurna) DPR sudah menanti dan siap memukul (mengesahkan) dengan keras tanpa mengabaikan suara pelatih (yang dalam hal ini adalah rakyat).
Kini, saya melihat panggung politik kita hanya sebagai pentas drama, yang di dalam penceritaannya tentu muncul dari sentuhan para dalang (Oligarki) yang sekaligus sebagai sutradara di balik layar cerita yang dimainkan oleh lakon-lakon bayaran. Benar, bagaikan kisah Mahabarata yang penokohannya memakai peran protagonis dan antagonis dengan memainkan tokoh seperti Pandawa dan Sengkuni sebagai lakon tokoh baik dan licik dan culas. Dan lakon tersebut itulah yang kini sedang digambarkan oleh para pemangku kekuasaan ini demi menterjemahkan skenario panggung politik di negeri ini.
Lihat saja kini drama apa yang sedang dimainkan, alih-alih fokus terhadap isu, DPR dan Pemerintah justru sedang menggiring isu substansil ke arah yang tidak substansil, seperti pembakaran halte, demo anarkis, demo hoax, dan sebagainya. Ada yang ngotot mendukung dengan dalih kesejahteraan buruh, ada juga yang pura-pura menolak, padahal nyatanya di dalam pembahasan, mereka jelas sekali mendukung (tidak perlu saya sebutkan partainya, sebab sudah jadi rahasia umum).
Peristiwa-peristiwa seperti ini seringkali terjadi, seakan menjadi suatu kebiasaan: saling sikut dan lempar kesalahan (padahal hanya pura-pura). Lalu kita dapat apa? Cuma diberi kursi penonton, itupun tanpa cemilan.
Sebagai penutup, izinkan saya memberikan sedikit tips dan trick agar kita dapat keluar dari permasalahan duniawi yang membodohkan ini. Hal pertama yang dapat pembaca lakukan adalah: bangun nalar kritis dan intuisi demi memberikan suatu penilaian yang obyektif terhadap realitas saat ini. Kedua, jauhkan niat nyinyir yang tidak substansial. Sebab, menurut saya, itu ga worth it. Tetap fokus terhadap isu dan jangan sampai mau diajak ke perdebatan yang remeh-temeh. Dan terakhir, berilah sedikit sentuhan romantisasi dalam menyikapi persoalan yang ada dan menjalar di bumi pertiwi ini: tetap tenang dan jangan buang tenaga menghadapi BuzzerRp yang jelas-jelas adalah orang-orang bayaran. Sebab itu tetaplah stay cool and be a good person.
Salam hangat dari penulis, mohon maaf apabila tidak terlalu dalam. Karena di awal, penulis sudah bilang: hanya keresahan hati di tengah pandemi akibat dari serakahnya Oligarki di Negeri ini.
Stay Safe buat kawan-kawan, tetap jaga semangat, jangan sampai perjuangan kita surut. Dan jangan lupa, tetap jadikan dirimu sebagai aktivis dan akademis yang romantis.
Hidup mahasiswa! Hidup buruh! Hidup sipil yang membangkang! Hidup perempuan yang melawan! Hidup rakyat yang tertindas!
•Foto: Moreschick
•Sultan Salahuddin, Mahasiswa Ilmu Hukum Universitas Islam Indonesia, yang memiliki prinsip turun-temurun dari abangnya: jadilah aktivis dan akademis yang romantis.
