kopi travel blog

jauh berjalan banyak dilihat

Berjalan ke Konya, Singgah Sebentar di Mevlana

Ini jalanmu, dan milikmu sendiri.

Oleh Nanda Nadya

Perjalanan selalu menorehkan berbagai cerita, ada yang samar, ada yang kuat terekam dalam memori. Seperti perjalananku dua tahun lalu, ketika mengunjungi negara di antara dua benua. Negara yang merdeka atas tumpah darah Al-Fatih bersama bala tentaranya. Yap, tak pernah kusangka kakiku mampu menapaki Turki.

Hingga detik ini, aku tak pernah berhenti mencintai keindahan serta kekayaan sejarah negara ini. Semua terasa seperti mimpi, ketika Tuhan memberiku kesempatan untuk berlabuh di Selat Bosphoruz, selat yang memisahkan dua benua, yakni Asia dan Eropa.

Perjalanan yang mengesankan, ketika ragaku melangkah menuju Konya. Kota yang tenang, damai dan menjadi tempat peristirahatan terakhir Tuan Rumi, sufi yang telah mengajarkanku tentang makna cinta beserta nilai utama kehidupan nan sejati.

Konya merupakan kota kecil yang terletak di tengah Provinsi Anatolia, bagian wilayah Turki yang masuk ke dalam kawasan benua Asia, tidak jauh dari Kurdistan dan dekat dengan perbatasan Suriah dan Irak. Sebuah kota bersejarah panjang yang jika telusuri jejaknya sampai jauh ke belakang, ini adalah salah satu di antara kota tertua di dunia, yakni mulai dihuni manusia sejak 3000 tahun Sebelum Masehi.

Ketika tubuh ini tiba tepat berhadapan dengan makam sang Mevlana (sebutan singkat bahasa Turki untuk Mawlana Jalal ad-Din Muhammad Balkhi-Rumi), yang juga dipakai sebagai nama museum ini, semua terasa lumpuh. Tak ingin bergerak, tak ingin ke mana-mana. Aku dihujani oleh keresahan hidup dan cinta, dan aku dipenuhi keinginan untuk mengungkapkan segala apa yang terngiang di dalam pikiranku. Dada terasa membuncah.

Keindahan Whirling Dervish atau Tarian Darwis (tarian sufi yang berputar ke arah jarum jam terbalik sambil mengucapkan Kalimatullah), tak kuhiraukan selama aku di sini, sebab, hatiku tetap tertuju padamu, Tuan. Aku ingin sepertimu; ingin segala patah, dan lelah yang kupunya dapat menemukan makna. Menjadi rangkaian syair indah yang terukir dengan tak menghilangkan peran-Nya. Masuk ke dalam keagungan cinta-Nya. Mabuk kepayang akan kerinduan pada pertemuan yang abadi.

Aku ingin seluruh cinta yang bersemayam erat di dalam diriku tak menjadi cinta yang sia-sia belaka, cinta yang gelap gulita, serta cinta yang mematikan kebaikan dan menyuburkan kebencian dan membutakan nurani.

Jika aku diberikan kesempatan untuk berkelana bersamamu, biarkan aku menjadi kawan untuk mencari tetirah bagi kita; sang para pecinta.

Dan jika–dalam pencarian itu–kita dirundung lelah, berhentilah sejenak, dan berdiam diri di Karavanserai sembari menikmati kecutnya buah delima. Menikmati semilir angin Konya beserta kabut putih yang menghiasi atmosfir.

Namun nahas, keinginan hanyalah sekadar ingin. Ia melayang-layang bagai debu pagi di antara terik mentari, lalu berubah bentuk menjadi angan. Sebab, ada hal yang harus kusadari selalu, bahwa kau telah tenang bersama-Nya, di dunia yang tentunya jauh lebih indah, sementara aku masih di sini, di dunia yang penuh dengan sandiwara, dunia yang penuh lelucon mematahkan hati para penghuninya, berkali-kali.

Akan tetapi, aku tak pernah lupa dengan apa yang telah kau ingatkan. Katamu, “Dunia yang hina ini diberikan kepadamu untuk sementara. Tersedia sebuah tangga yang dengannya engkau dapat bercita-cita.” Dan kau, telah lebih dulu menggapai cita-citamu di sana.

Tuan, tenanglah kau di Mevlana. Beristirahatlah dengan damai. Sebab aku harus kembali melanjutkan perjalananku, menuju Ankara untuk bertemu Attaturk, lalu kembali ke Istanbul dan menikmati kuasa-Nya, hingga pulang ke Negeriku; di mana aku menghabiskan usia.

Seperti yang kau katakan pula: “Ini jalanmu, dan milikmu sendiri. Orang lain mungkin berjalan bersamamu, tapi tak ada yang bisa menggantikanmu berjalan.”

Dan bagiku, tak ada pilihan lain, selain melanjutkan perjalanan dan petualangan hidup ini. Aku tak boleh lelah, harus tetap berputar bersama bumi dan semesta yang terus bergerak, bagai para Darwis yang menari, sebagai sebuah perpaduan kosmis yang artistik, sekaligus dramatik.


Foto: Dokumen pribadi Nanda Nadya

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai