kopi travel blog

jauh berjalan banyak dilihat

Megalomania dan Mogelomania

Kita tengah berhadapan dengan kekuasaan yang memiliki watak megalomaniac.


Oleh Anta Permana

“Ketika saya jadikan Pak Jokowi [sebagai presiden], orang seperti tidak mau tahu Pak Jokowi itu jadi oleh siapa. [Mereka] lupa saya punya tandatangan Pak Jokowi [kalau] dia adalah petugas partai,” ucap Megawati, Ketua Umum PDI Perjuangan, seperti yang dikutip dari Tirto.id (7/1/2018).

Dari pernyataan itu, kita bisa melihat betapa powerful-nya posisi Megawati di Republik ini. Jika kekuasaan eksekutif tertinggi ada di tangan Presiden, maka di hadapan beliau, Penguasa Tertinggi Eksekutif itu hanyalah seorang petugas partai belaka. Sementara di Partai yang menugasi Presiden itu, dialah, dan hanya dialah penguasa abadi dari periode ke periode kepengurusan.

Dalam posisi pengaruhnya yang besar atas kekuasaan itulah, saya melihat bahwa ucapan Megawati pada tanggal 28 Oktober 2020, yang mempertanyakan sumbangsih milenial terhadap bangsa dan negara, menjadi sesuatu yang riskan bahkan cenderung membahayakan bagi demokrasi. Mengapa?

Mari simak pernyataannya berikut, “Apa sumbangsih kalian terhadap bangsa dan negara ini? Masa hanya demo saja,” kata Megawati, sebagaimana dikutip dari Kompas.com (31/10/2020).

Jika ada orang di kampus yang dengan angkuh berkata, “Ini belum seberapa, Dek. Kakak dulu lebih parah dari kalian. Jangan manja!” Ya. Ini dipastikan merupakan mantra-mantra khas Kakak Tingkat kepada Mahasiswa Baru pada saat Ospek.

Lalu, bagaimana dengan ucapan ini?

“Kalau tidak saya mulai dulu untuk membiayai pembangunan awal mesjid ini, pasti tidak akan bisa kita Sholat Jumat berjamaah di komplek sini,” ujar Pak Haji kepada Pak Ujang, seorang penghuni baru di salah satu komplek perumahan.

Atau

“Mahasiswa sekarang kalau demo tidak seperti kami dulu yang radikal dalam diskusi dan militan dalam aksi. Sekarang mahasiswanya pada alay!” kata seorang mantan aktivis mahasiswa.

Perhatikan. Apa persamaan semua ungkapan di atas dengan ucapan Megawati yang berkata, “Apa sumbangsih kalian terhadap bangsa dan negara ini?

Persamaannya adalah orang-orang tersebut di atas, semuanya merasa lebih berjasa, lebih baik, lebih tangguh, dan kelebihan-kelebihan yang lainnya. Tahukah kalian bahwa seseorang yang banyak berkhayal tentang kekuasaan dan kebesaran dirinya, hal itu disimpulkan oleh KBBI dengan istilah Megalomania?

Megalomania itu sendiri pada awalnya muncul dari hasrat ingin mendapatkan pengakuan dari orang lain, yang pada kondisi tertentu membuat mereka tidak mampu menerima kenyataan akan kelebihan yang dimiliki oleh orang lain. Kebenaran, bagi mereka, hanya ada dan datang pada dirinya sebagai pusat kuasa makna. Itulah sebabnya kemudian muncul pernyataan, “Masa hanya demo saja.” Seolah-olah demo dilihat sebagai sesuatu yang kerdil dan tidak bermakna, bahkan dianggap jahat.

Akan tetapi, ada yang lebih berbahaya dari ucapan yang cenderung megalomaniac tersebut, yakni bobot orang yang menyampaikan sesuatu akan memberikan konsekwensi tersendiri. Ingat, betapa powerful-nya kekuasaan Megawati di Republik ini, dan betapa berbahayanya akibat yang ditimbulkan dari sebuah ucapan dari orang seberbobot itu. Bahwa kita tidak bisa menampik adanya potensi otoritarian di balik ucapan yang mengkerdilkan segala bentuk ekspresi dan sikap politik yang berlawanan dengan pemerintah. Padahal demokrasi memberi ruang bagi perbedaan-perbedaan, kebebasan berekspresi dan menyatakan pendapat di depan umum.

Jadi, soal ini, saya pikir, bukan soal ketersinggungan milenial belaka, (bahkan soal eksistensi begitu, bagi saya, tidaklah terlalu penting) tapi yang lebih berbahaya adalah sebuah ancaman bagi kebebasan berpendapat itu sendiri. Fakta bahwa kita tengah berhadapan dengan kekuasaan yang memiliki watak megalomaniac, yang anti kritik, lalu menuding kesalahan ada pada si pengkritik.

Berselang tiga hari dari ucapan Megawati tersebut, di tempat yang lain, oleh pelaku yang lain, kita pun dipertontonkan dengan tindakan arogansi yang brutal, yakni Komunitas Moge yang sedang melakukan touring di tengah pandemi, berselisih paham dengan dua prajurit TNI di daerah Agam, Bukit Tinggi, Sumatera Barat. Gilanya lagi, mereka begitu berani mengeroyok dua anggota TNI tersebut.

Cerita Komunitas Moge yang arogan ketika berada di jalanan, memang sudah menjadi cerita umum. Bahkan pada titik tertentu, mereka merasa lebih berkuasa daripada negara. Karena merasa di atas angin akibat mendapat backingan dari orang-orang kuat. Semua orang, benda, dan binatang mesti minggir apabila para Moge ini mau lewat. Traffic light mendadak tidak berfungsi bagi mereka. Semua jalur bisa diterabas. Siapa saja yang berani menghalangi gerak mereka, akan “terbujur lalu, terbelintang patah” dibuatnya. Menurut saya, ini bentuk lain dari Megalomania, yakni Mogelomania.

Namun, hari itu mereka mendapat lawan yang sepadan, yakni aparat militer. Kabarnya, para pelaku pengeroyokan itu telah meminta maaf dan menjalani hukuman penjara atas tindakan kriminal yang mereka lakukan.

Pertanyaan saya adalah di manakah posisi rakyat kecil dari fenomena Megalomania dan Mogelomania di atas? Mengapa ketika rakyat melawan kebijakan negara, justru dipertanyakan sumbangsih, bahkan dikatakan perusuh, dan sebagainya? Mengapa orang kaya yang memiliki backing orang kuat itu bisa semena-mena menguasai jalanan dan ruang-ruang publik? Mengapa rakyat kecil tidak bisa melawan dan harus mengalah dengan para Mogelomaniac itu ketika di jalanan? Mengapa rakyat yang memperjuangkan nasibnya sendiri akibat kebijakan penguasa yang, menurut mereka, membahayakan hajat hidupnya malah disalahkan? Mengapa maksud baik mesti dipertanyakan?

Pertanyaan-pertanyaan itu bermuara pada satu kalimat: Ketidakadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Ketika aparat memproses pelaku pengeroyokan tersebut, itu menunjukkan bahwa negara itu kuat. Sayangnya, daya kuat itu dikeluarkan secara sporadis, tebang pilih, hanya ketika eksistensi dirinya terganggu. Hukum tajam ke bawah, tapi tumpul ke atas. Dari situlah kemudian melahirkan ketidakpercayaan publik. Lalu, publik yang tidak percaya dipertanyakan sumbangsihnya kepada negara. Kebenaran diotak-atik oleh penguasa hanya sebatas rumor belaka.

Jangan-jangan, ini jangan-jangan, berbagai macam ungkapan atau tindakan arogansi itu adalah bentuk lain dari kepanikan orang-orang yang diberi tanggung jawab, akan tetapi mereka sadar bahwa mereka tidak kompeten untuk menjalankan tanggung jawabnya, dan diperparah lagi adalah ketika mereka menyadari bahwa rakyat yang memberikan mandat kepada mereka itu tahu dan sadar pula bahwa para pemimpin mereka itu sebenarnya tidak berkompeten.

Lama-lama negara ini bisa sama dengan salah satu umpatan Cinta kepada Rangga di dalam film AADC, yakni: “Sakit Jiwak!”


Foto: Tribunnews.com

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai