kopi travel blog

jauh berjalan banyak dilihat

[Bedah Buku] Respon Panik terhadap Ancaman COVID-19 adalah Respon yang Meremehkan

Virus hanya mereproduksi diri dengan otomatisme buta.


Oleh Herman Attaqi

Saya membaca pikiran Slavoj Zizek dari bukunya “Pandemik! COVID-19 Mengguncang Dunia (Terj.)” ini, berpusat pada soal pokok bahwa virus itu bukan faktor utama yang merusak kehidupan umat manusia. Pada bagian pertama di bukunya, Zizek menulis, “… virus tak tahu apa-apa karena sama sekali tak berada dalam domain pengetahuan, virus bukan musuh yang mencoba untuk menghancurkan kita–ia hanya mereproduksi diri dengan otomatisme buta.”

Virus atau wabah itu berasal dari patogen atau yang juga disebut sebagai mikro-parasit. Disebut mikro-parasit karena ukuran patogen itu sangat kecil dan hanya dapat hidup dengan cara berparasit pada inangnya. Inang di sini adalah tumbuhan, hewan, atau manusia. Sebagai mikro-parasit, ia dapat hidup tanpa memberi manfaat pada inangnya, justru pada titik tertentu ia dapat menginfeksi, merusak metabolisme, atau menjadi pembunuh inangnya. Tanpa adanya inang, mikro-parasit tak akan bisa hidup dan berkembang biak. Jadi, dari penjelasan sederhana itu kita bisa memahami kesimpulan dari Zizek sebagaimana yang saya sebutkan pada paragraf pertama di atas.

Kalau bukan virus, lalu masalahnya apa?

Poin inilah yang menjadi inti gagasan Zizek di bukunya ini. Zizek dalam 13 bagian di buku ini memblejeti cara pandang sekaligus pendekatan-pendekatan keliru yang dilakukan dalam menangani wabah COVID-19.

Sebagai patogen, habitat asli dari mikro-parasit adalah hutan dan secara alami berparasit pada tumbuhan dan hewan liar di hutan-hutan. Persoalannya, hutan-hutan sudah semakin menipis dan hewan-hewan semakin menuju ke kepunahannya. Inilah yang dikatakan oleh Zizek bahwa epidemi virus corona sebagai momen krisis ekologi global dan yang berlangsung lama, secara brutal membebani kita. Atau yang diistilahkan oleh Bruno Latour sebagai “gladi bersih menghadapi perubahan iklim yang akan datang”.

Dari uraian singkat itu saja kita bisa melihat bahwa pandemi ini bukan semata soal fenomena biologis atau virus yang merusak sistem imunitas tubuh manusia, tapi–sekaligus untuk memahami penyebarannya–ini adalah soal pilihan budaya manusia, ekonomi dan perdagangan global, serta mekanisme ideologis dari rasa takut dan panik. Atau dalam istilah Arif Novianto dalam pengantar buku ini, yakni “makro-parasit”. Jika mikro-parasit adalah patogen yang hanya dapat hidup dengan berparasit pada inang, makro-parasit adalah kelas penguasa (pengusaha dan politisi) yang hanya dapat hidup dengan mengambil hasil kerja (berparasit) dari orang lain (inang).

Pada bagian ke enam, setelah pada bagian sebelumnya mengkritisi cara beberapa negara dan komunitas dunia menangani pandemi ini, Zizek menawarkan satu bentuk solidaritas umat manusia secara global untuk merefleksikan fakta menyedihkan bahwa kita butuh bencana untuk dapat memikirkan kembali sisi paling mendasar masyarakat di mana kita hidup. Bentuk konkretnya, menurut Zizek, adalah model samar dari koordinasi global semacam WHO harus diberi lebih banyak kekuatan eksekutif. Bahwa kita harus mulai menyatukan semacam jaringan layanan kesehatan global. Dan di tengah semua ancaman global lainnya, selain virus, yakni kekeringan, gelombang panas, badai mematikan dan bencana lainnya, jawabannya bukan panik, tetapi kerja keras yang mendesak untuk membangun semacam koordinasi global yang efisien.

Poin yang menarik berikutnya ada pada bagian ke duabelas, yakni tentang perubahan sistem politik dan ekonomi yang disebut Zizek dengan “Komunisme” (dalam tanda kutip). Zizek mengkritik pandangan apolitis di mana kekuasaan negara harus melakukan tugasnya dan kita hanya harus mengikuti instruksinya, berharap bahwa semacam normalitas akan pulih dalam waktu yang tak lama lagi. Dan itu adalah sebuah kesalahan. Zizek mengingatkan dengan petuah Immanuel Kant berkenaan dengan hukum negara: “Patuhi, tetap pikirkan, pertahankan kebebasan berpikir!” Sebab hari ini kita membutuhkan lebih dari sebelumnya apa yang disebut Kant sebagai “penggunaan penalaran secara publik.”

Singkatnya, gagasan “Komunisme” yang dimaksudkan oleh Zizek adalah Negara tidak hanya harus mengambil peran yang jauh lebih aktif, mengorganisir produksi hal-hal yang sangat dibutuhkan seperti masker, alat tes dan respirator, mengalih-fungsikan hotel dan resor lainnya, menjamin kelangsungan hidup minimum semua pengangguran baru, dan sebagainya, melakukan semua ini dengan meninggalkan mekanisme pasar.

Gagasan ini muncul, kata Zizek, bukan sebagai mimpi yang tak jelas, tetapi hanya sebagai sebutan untuk apa yang sudah berjalan (atau setidaknya dianggap oleh banyak orang sebagai kebutuhan), kebijakan-kebijakan yang sudah dipertimbangkan dan bahkan sebagian ditegakkan.

Di buku ini kita akan dibuat kaget dengan analisis tajam dengan penggunaan data, metafora, serta analogi yang khas Zizek, yang seperti biasa ia kerap menyandarkan uraiannya dengan menggunakan pendekatan teori Marx, Hegel, hingga Lacan. Judul “Panik!” (kata gubahan dari Pandemik) menjadi pilihan kata yang pas menggambarkan respon negara dan juga pasar dalam menghadapi ancaman nyata pandemi global virus corona.

“Ketika kita bereaksi dengan panik,” kata Zizek, “kita tidak menganggap ancaman itu serius—sebaliknya, kita meremehkannya.”

Lihat saja bagaimana respon pemerintahan Jokowi pada saat awal COVID-19 ini, alih-alih merumuskan strategi pelayanan kesehatan yang baik, mereka malah sibuk melakukan akrobat seperti badut-badut yang konyol, mulai dari respon yang becanda tapi tidak lucu, analisis yang anti-sain, hingga yang fenomenal tentunya menggelontorkan dana 72 Milyar untuk influencers demi mendukung pariwisata. Dan yang paling menyakitkan adalah mengendap-endap bagai maling jemuran dan sekonyong-konyong berlari kencang memutuskan UU Cipta Kerja (Omnibus Law). Apa namanya ini kalau bukan PANIK!

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai