Islam pernah ada di lubang tergelap, pun juga pernah berada di gegap gempita kejayaan.
Oleh Asri Nahjar Ridho Ummi Hubaibah
Charlie Hebdo, majalah satire Prancis, pada tahun 2015 lalu menerbitkan kartun Nabi Muhammad, dan seperti telah diduga, berhasil membuat gaduh seisi dunia. Peristiwa itu pun berlarut hingga memicu munculnya gerakan memboikot produk Prancis, yang diinisiasi oleh negara-negara berpenduduk muslim.
Pasca penerbitan kartun tersebut, 12 karyawan Charlie Hebdo tewas dan 10 orang terluka di tangan dua bersaudara asal Gennevillers, kelahiran Prancis, yakni Said Kouachi (34) dan Cherif Kouachi (32).
Dilansir dari BBC News Indonesia, belasan terdakwa yang diduga membantu penyerangan terhadap majalah Charlie Hebdo kembali disidang di Paris pada Rabu (02/09). Masih dalam bulan yang sama dengan sidang tersebut, Charlie Hebdo menerbitkan kembali kartun Nabi Muhammad yang telah memantik reaksi yang mengerikan tersebut.
Presiden Prancis, Emmanuel Macron, menyatakan dukungannya kepada Charlie Hebdo atas penerbitan kembali kartun Nabi Muhammad tersebut. Dilansir dari Tempo.co, Ia mengatakan dalam pidatonya yang disampaikan di Les Mureaux Prancis (02/10) bahwa Islam adalah agama yang sedang mengalami krisis di seluruh dunia. Macron juga menyatakan akan memperkuat sekularisme di Prancis dan melawan apa yang dia sebut sebagai “Separatisme Islam”.
Tak lama setelah pidato Emmanuel Macron itu, seorang guru sejarah dan geografi di sekolah menengah Bois-d’Aulne bernama Samuel Paty menunjukkan dua karikatur Nabi Muhammad terbitan Charlie Hebdo tersebut dalam diskusi di kelasnya dengan isu kebebasan berpendapat. Seminggu setelah itu Samuel Paty dibunuh oleh Abdoulakh Anzorov (18), seorang pria kelahiran Chechnya, yang bereaksi atas aksi sang Guru.
Pada upacara penghormatan untuk Samuel Paty di Universitas Sorbonne (21/10), Presiden Prancis Emmanuel Macron menyatakan secara tegas bahwa ia akan melanjutkan perjuangan untuk kebebasan berpendapat. Bahkan seperti dilansir di kabar Joglo Semar, Macron juga mengatakan bahwa penerbitan kartun Muhammad merupakan bentuk kebebasan berekspresi warganya.
Pernyataan Macron tidak dapat diterima karena melukai hati umat muslim di seluruh dunia. Biar bagaimanapun, melukis atau menggambar Nabi Muhammad merupakan bagian dari pelecehan terhadap Nabi, dan hukumnya adalah dosa besar. Dalil pernyataan ini adalah ijma’ para ulama. Kemarahan umat muslim berujung pada pemboikotan produk Prancis. Hingga artikel ini ditulis, sudah banyak negara-negara yang turut memboikot produk Prancis, seperti; Turki, Mesir, Arab Saudi, Qatar, Iran, dan bahkan Indonesia.
Menanggapi masalah ini, Majelis Ulama Indonesia menghimbau umat Muslim di Indonesia dan di dunia untuk memboikot semua produk Prancis sampai Presiden Emmanuel Macron meminta maaf atas pernyataan yang telah disampaikannya. Himbauan tersebut ditandatangani oleh Sekretaris Jenderal, Anwar Abbas dan Wakil Ketua Umum, Muhyiddin Junaidi.
“Dihimbau agar semua Khatib/Da’i/Muballigh/Asatidz agar menyampaikan pesan materi khutbah Jumat untuk mengecam dan menolak terhadap penghinaan atas diri Rasulullah Muhammad SAW,” tegas MUI di poin ke-6 himbauan tersebut.
Sejak seruan pemboikotan tersebut, terlihat beberapa aksi pemboikotan produk Prancis diunggah di berbagai kanal media sosial. Dilansir dari Gelora News, beredar video empat pria dewasa mempertontonkan aksi membuang air mineral berlabel Aqua di tengah jalan, dua di antaranya membuang air dari galon. Diduga lokasi aksi tersebut di pertigaan Ahmad Yani kota Malang.
Masih dilansir dari sumber yang sama, kali ini aksi dilakukan oleh kelompok massa dari Gerakan Pemuda Islam (GPI). Kelompok massa yang diketuai oleh Diko Nugraha dan Sofyan ini mengunjungi minimarket yang ada di Menteng dan membeli sejumlah produk dari Prancis lalu kembali ke markas untuk membakar produk Prancis yang telah dibeli tersebut.
Hal serupa juga saya lihat di unggahan salah satu akun twitter dengan username @Presiden Runner Up l. 2. Di dalam unggahannya, pada tanggal 4 November lalu, ia mengatakan, “Hai kalian yang merasa gubluk harap bahagia ya karena ada lagi yang lebih gubluk dari kalian,” tulisnya. Sebab di dalam video tersebut terlihat sejumlah orang membuang puluhan kardus air mineral berlabel Aqua dengan cara membuka satu persatu kardus tersebut lalu menyayat botolnya menggunakan curter.
Haruskah kita memboikot produk Prancis?
Sebagai umat Muslim, sepatutnya, bahkan merupakan keharusan menentang pernyataan Emmanuel Macron, salah satunya dengan cara memboikot produk Prancis seperti mengikuti himbauan MUI. Namun, pemboikotan dengan cara membakar atau membuang produk, menurut saya bukanlah hal yang bisa dikatakan benar. Perbuatan di atas sekilas terkesan heroik memang. Seakan-akan kita melakukan hal yang paling benar dalam kebenaran. Padahal, sebenarnya poin lain telah terlupakan di dalamnya, yakni berbuat kerusakan dan berperilaku mubazir, padahal banyak saudara-saudara kita yang lebih membutuhkan, dan harusnya, minumam dan makanan itu disedekahi saja kepada saudara kita yang kurang mampu, setidaknya dapat meringankan beban mereka. Dan tentunya, pasti Nabi Muhammad sendiri sangat menyukai akhlak yang seperti itu.
Banyak hal yang bisa kita lakukan dalam menyuarakan kebenaran. Mengapa kita tidak mengambil langkah elegan dalam menyikapi persoalan ini? Seperti yang telah dilakukan perempuan Muslim di beberapa negara. Dilansir dari BBC News, Hiba Mohamed Moussa, seorang pelajar di Nouakchott, Mauritania mengatakan,
“Kami memboikot semua produk Prancis supaya ekonomi Prancis hancur dan Macron meminta maaf kepada dua miliar umat Muslim yang tersinggung dengan ujaran kebenciannya.”
“Saya punya parfum Prancis seperti Lacoste, tapi ketika parfum itu nanti habis, saya tidak mau membelinya lagi.”
Dari sikap tersebut kita dapat belajar bahwa memboikot tidak harus dengan cara membeli lalu membuang produknya, kita hanya perlu tidak membelinya agar ekonomi Prancis hancur. Tak perlu repot-repot gembar-gembor menghabiskan uang kita demi membeli barang mereka lalu kemudian merusaknya. Apa kerugiannya untuk Prancis? Justru kita sendirilah yang akan dirugikan karena telah membuang air bersih yang seharusnya bisa kita gunakan untuk wudhu serta masih banyak keperluan lainnya. Bahkan masih banyak negara Islam yang kekurangan air bersih seperti Libya, Yaman, dan Suriah. Mengapa kita tak bergegas membuat gerakan nyata untuk membantu negara-negara tersebut?
Ingat, tugas gotong-royong kita belum berhenti sampai di sini. Tengok kembali isu-isu kemanusiaan yang menimpa saudara muslim kita di berbagai belahan dunia. Lirik kembali polemik-polemik internal yang bahkan menggerogoti tubuh Islam itu sendiri. Mulai dari perpecahan karena perbedaan golongan dan mazhab dan sebagainya.
Sudah saatnya kita merapatkan barisan. Menyingsingkan lengan baju. Memperkuat persekutuan. Meningkatkan intelektualitas kita, supaya generasi Muslim muda kita dapat berpikiran maju dan mendapat tempat di kancah internasional.
Ingat selalu, Islam pernah ada di lubang tergelap, pun juga pernah berada di gegap gempita kejayaan. Mana yang ingin kita goreskan di pesta peradaban? Jawaban ada di tangan kita. Semua bisa tercermin pada tindak-tanduk dan kebiasaan kita sekarang.
Foto Emmanuel Macron dari apnews.com
Penulis adalah Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta asal Lamongan, Jawa Timur.
