kopi travel blog

jauh berjalan banyak dilihat

Kehendak Mayoritas Bukan Kebenaran Absolut

Paradigma berpikir semacam ini serupa orang jelek lagi ngaca, yang buruk mukanya, yang disalahkan kacanya. Kan, aneh?


Oleh Ziyad Ahfi

Dalam cerpennya “Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi”, Seno Gumira Ajidarma atau yang lebih akrab disapa SGA, mengurai sebuah naskah kritik terhadap konstruksi sosial kita (masyarakat Indonesia) mengenai posisi kebenaran di tengah riuh-rendah bertetangga. Satire yang dibangun melalui cerita pendek ini sangat mengasyikkan untuk dibaca. Lebih mempermudah kita untuk melihat budaya serta paradigma masyarakat dewasa ini. Merefleksi kembali cara kita memandang suatu peristiwa terkait isu-isu perempuan, dominasi cara berpikir laki-laki, kebenaran yang dianut mayoritas, serta pengaruh kekuasaan dalam membuat suatu bentuk kebijakan yang tidak objektif dalam mendistribusikan keadilan.

Tulisan SGA itu terbit sekitar tahun 1995, di mana kekuasaan Orde Baru sedang berkuasa. Saat penulis masih bergelut soal pembungkaman Pers. Karena pengaruh matinya suara jurnalisme, maka suara-suara Sastra semakin menyala sebagai fungsi kritik sosial yang akan terus hidup dan menjadi penyambung lidah rakyat. Seperti yang dikatakan SGA dalam bukunya “ketika jurnalisme dibungkam, sastra harus bicara”:

”Karena bila jurnalisme bersumber dari fakta, maka sastra bersumber dari kebenaran. Kebenaran bisa sampai, apapun bentuknya. Bagi saya, dalam bentuk fakta maupun fiksi, kebenaran adalah kebenaran–yang getarannya bisa dirasakan setiap orang.” (hal. 111)

Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi

Kembali ke Cerpen. Singkatnya, dalam cerita pendek itu, SGA mengisahkan tentang seorang perempuan yang tidak disukai sebagian warga kampung karena suka bernyanyi di kamar mandi, terutama oleh Ibu-ibu. Ia tidak disukai bernyanyi di kamar mandi lantaran keresahan Ibu-Ibu sepanjang gang melihat perilaku suaminya yang kerap kali pergi curi-curi syahwat mendengar suara perempuan itu ketika mandi. Dari yang awalnya hanya sekadar suka nguping mendengar suara saja, kemudian para suami ibu-ibu itu jadi sering berimajinasi yang tidak-tidak.

Keresahan itu tak sampai hanya di perasaan resah saja. Para Ibu-ibu itu kemudian berkumpul dan menyampaikan berita ini kepada Pak RT. Menuntut agar Pak RT melarang Perempuan itu berhenti bernyanyi di kamar mandi. Asumsi Ibu-ibu itu: semakin sering ia bernyanyi di kamar mandinya, maka para suami mereka juga jadi sering diam-diam pergi dari rumah hanya untuk mendengar nyanyian merdu si Perempuan itu.

Usai laporan disampaikan, desas-desus itu mencuat di mana-mana (tanpa sepengetahuan perempuan itu). Pak RT mulai mengambil tindakan dengan upaya memanggil si Perempuan agar menghadap. Pak RT menerangkan dengan berat hati bahwa rombongan Ibu-Ibu di sepanjang gang menuntutnya supaya berhenti bernyanyi di kamar mandi. Sebab suaranya dianggap mengundang syahwat, mengganggu keharmonisan rumah tangga warga di sepanjang gang. Dengan keadaan kaget, dan dalam kondisi yang membingungkan, si Perempuan menyepakati tuntutan tersebut, meski ia merasa sedih karena dimusuhi oleh sebagian warga kampung.

Ekspektasi Publik Bukan Bagian Kebenaran

Dari metafora tadi, kita bisa menilai, kebenaran seringkali dianggap benar apabila disetujui oleh suara mayortitas. Sedangkan, seharusnya, apa yang dianggap baik-buruk, benar-salah, bukan dilihat dari sisi suara terbanyak.

Menurut saya, Cerpen di atas masih sangat relate dibicarakan akhir-akhir ini, di era pasca Reformasi ini (era Orde Baik). Sejak dulu hingga kini kedaulatan rakyat selalu dipahami sempit. Makna kedaulatan rakyat dianggap sebagai perpanjangan tangan suara rakyat banyak. Padahal, demokrasi justru memberi daulat kepada rakyat atas eksistensinya sendiri untuk mengekspresikan kemauannya masing-masing. Dan kekuasaan, difungsikan untuk menjaga hak-hak individu itu dari potensi yang akan mengganggu ruang privasinya, kebebasan politiknya, ekspresi pikirannya, dan wacananya.

Maka dari itu, kedaulatan rakyat seharusnya tidak dijalankan sebagai perpanjangan tangan mayoritas, supaya demokrasi tidak berjalan hanya atas kehendak suara terbanyak, melainkan mencegah mayoritas memegang satu kebenaran dan mengesampingkan “apa yang seharusnya benar” yang dipunyai oleh minoritas. Atas dasar itulah kedaulatan rakyat menghendaki adanya kesetaraan dan kebebasan individu. Bukan malah berdiri di depan satu golongan untuk mengamankan posisi. Justru berdiri di atas semua golongan agar dapat mengantisipasi adanya kesalahan. Lalu kemudian, yang menjadi pertanyaan, apa yang dipandang sebagai keburukan atau kejahatan itu? Dalam masyarakat yang seperti itu, bagaimana hak-hak pribadi dapat dihayati?

Pertama, kekeliruan cara berpikir sebagian dari kita adalah melihat kejahatan bukan sebagai apa yang secara hakiki berwatak jahat, melainkan apa yang oleh publik dipandang jahat. Berangkat dari kisah Cerpen, coba pikirkan, kenapa Ibu-Ibu di sepanjang gang lebih menyalahkan si Perempuan dengan melarangnya bernyanyi ketimbang menertibkan pikiran suami-suami mereka? Apakah karena ia sendirian, minoritas, seorang perempuan, lalu dianggap lebih mudah disalahkan ketimbang para lelaki hidung belang yang mayoritas, mereka laki-laki, maka dianggap sudah semestinya begitu?

Di titik inilah negara (di dalam cerpen diilustrasikan sebagai pak RT) sebagai pihak yang harus bersikap bijaksana. Jangan karena didesak oleh mayortitas kemudian merasa tersandera dan menghiraukan sisi minoritas. Bahkan, meski si Minoritas itu bukan pendukungnya di saat pemilu dan si Mayoritas adalah pemilih fanatiknya dulu, ia tetap harus objektif.

Kedua, penghayatan terhadap hak-hak pribadi condong dikesampingkan, sebab warga masyarakat sudah dikondisikan oleh ekspektasi publik. Di dalam kondisi masyarakat yang seperti itu, klaim hak individu tersub-ordinasikan. Lalu kemudian kewajiban publik dianggap sudah terlaksana dan dianggap telah terpenuhi. Padahal kebenaran seperti itu keliru. Memuaskan tuntutan mayoritas lalu menghiraukan hak-hak minoritas. Ini tipe keadilan yang keliru. Bahkan ini bukan kebenaran. Sebab tak ada kebenaran yang melahirkan dendam. Dan juga tak ada kebenaran yang berdiri di atas penderitaan orang lain.

Coba dihayati kembali, letak kesalahan ada di para lelaki yang memang sengaja nguping atau memang kelakukan si Perempuan yang bernyanyi di kamar mandi?

Buruk Muka Cermin Dibelah

Inilah kontruksi sosial kita dari waktu ke waktu, tidak berubah, bahkan dari tahun 1995 SGA sudah membaca situasi sosial dan menilai budaya berpikir masyarakat masih cenderung membenarkan apa yang dianggap benar oleh mayoritas. Juga menyinggung soal posisi perempuan dalam sosial-masyarakat yang cenderung tersub-ordinasi, rentan untuk disalahkan, diremehkan. Paradigma berpikir semacam ini serupa orang jelek lagi ngaca, yang buruk mukanya, yang disalahkan kacanya. Kan, aneh?


Tulisan ini pertama kali dimuat di perpuskecilyk

Foto dari Vice

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai