kopi travel blog

jauh berjalan banyak dilihat

Kesalahan dan Kiat-kiat Orang Tua Dalam Mendidik Anak

Zaman tidak bisa disamakan. Tentu akan berubah. Ruang dan waktunya. Budaya dan perkembangan sosialnya.


Oleh Frizzy Dhafin Bachri

Berdasarkan riset dari seorang Psikolog Stanford University, Nir Eyal, ia menemukan, di zaman serba digital ini, ada kesalahan fatal orang tua dalam mendidik anak, yaitu abainya pengawasan orang tua ketika anak menggunakan internet.

Seiring berkembangnya zaman, saya melihat, banyak orang tua yang terlena oleh zaman. Dibuai oleh modernitas. Sehingga menganggap enteng: membebaskan anak-anak yang masih di bawah umur menonton televisi, menonton youtube, bermain sosial media tanpa pengawasan. Padahal, tanpa orangtua sadari, anak-anak itu merekam segala yang mereka lihat dan dengar. Dan tentu, apa yang mereka tonton bisa berakibat pada perilaku mereka.

Menurut Eyal, anak harus diberi pengawasan khusus dari orang tua dalam menggunakan internet. Pengawasan ini bertujuan agar anak tidak terkontaminasi oleh pengaruh dunia luar yang bebas. Sedangkan anak-anak, dalam usianya yang masih labil, mereka masih belum layak disodorkan sosial media yang penuh kebebasan. Sebab mereka belum cakap dalam menentukan baik dan buruk.

Dengan diberi keleluasan mengakses internet, atau sudah dicekoki sosial media, anak bisa mengakses apapun dengan mudah dan hal itu dapat memengaruhi pola pikir dan perilaku anak. Karena anak-anak, menurut psikolog Roslina Verauli (Republika.co.id) adalah peniru yang ulung. Karena otak mereka masih mampu merekam tiap yang mereka lihat dan dengar.

Menurut Roslina, dalam sebuah penelitian pada tahun 2015, ditemukan bahwa 70 persen orang tua mengatakan anaknya meniru mereka. Alasannya, karena anak menganggap orang tua sebagai figur dewasa yang diidolakan, karena orang tua dianggap lebih kompeten dan memiliki kuasa.

Sudah sepatutnya orang tua mengajarkan anak-anaknya bagaimana cara menggunakan sosial media yang baik dan benar agar anak tersebut tidak terjerumus ke dalam propaganda yang tidak baik dan belum pantas untuk mereka tonton. Bahkan, kalau bisa, orang tua, sebelum anak-anaknya beranjak dewasa, sudah membekali mereka dengan pengetahuan bermedia sosial dan syarat-syarat tertentu. Supaya mereka lebih berani bertanggungjawab.

Selain pengawasan dalam menggunakan internet, ada hal lain, yang lebih internal, yang seharusnya dilakukan orang tua kepada anak, supaya kelak, anak tidak tumbuh dengan kebencian, dendam, dan ajaran-ajaran yang membentuk dirinya seperti manusia yang tidak pernah diberi kasih sayang. Karena itu, sebagai orang tua atau calon orang tua, kita semua wajib tahu apa saja kesalahan-kesalahan dalam mendidik anak, dan ini kiat-kiatnya:

1. Jangan menasehati anak dengan kekerasan

Yang saya lihat, orang tua, khususnya di negara kita, masih ada sebagian dari mereka yang mendidik anaknya dengan menerapkan cara yang sama seperti yang pendahulunya lakukan.

Kebanyakan orang tua yang hidup di zaman dulu, masih menerapkan kekerasan kepada anaknya (mungkin perilaku ini pengaruh dari didikan orang tuanya dulu). Menurut saya, jika sedari kecil anak di-didik dengan menggunakan kekerasan seperi dipukul menggunakan sapu, hanger dan raket bulu tangkis, di dalam diri anak tersebut akan tumbuh rasa takut kepada orang tuanya, hingga ia kehilangan rasa aman di rumah, dan tidak lagi menganggap rumah sebagai tempat berpulang. Dan itu berbahaya.

Jangan dibiasakan main tangan, disabet dan dipukul jika kita sedang emosi dengan anak. Karena anak kecil itu bisa diibaratkan sebagai penonton yang baik. Dia akan mencontohkan apapun yang dia lihat apalagi dia belum tahu apakah itu perilaku baik atau tidak.

Menurut saya, cara itu sudah kuno dan lebih baik diubah. Zaman tidak bisa disamakan. Tentu akan berubah. Ruang dan waktunya. Budaya dan perkembangan sosialnya. Mendidik anak dengan menyamakan percis turun-menurun bisa jadi berdampak buruk terhadap perkembangan mereka. Karena mereka tidak hidup di zaman dulu, di zaman orang-orang tua sekarang. Seperti memaksa mereka untuk menjadi yang tidak mereka inginkan. Dan menurut saya lagi, jangan sampai para orang tua merasa selalu benar dan tidak memberi ruang pendapat untuk anak. Bila anak selalu diperintah, dilarang-larang, ditekan tanpa memberi anak hak untuk berbicara, menyampaikan pendapatnya, maka wajar, apabila mereka punya sifat tertutup dan suka berbohong.

2. Jangan membanding-bandingkan anak sendiri dengan anak orang lain.

Seharusnya kita sebagai orang tuanya tahu kalau anak kita punya kelebihan. Bukan justru melebih-lebihkan anak orang lain di depan anak sendiri. Dia pasti punya kelebihan. Mungkin, hanya saja belum kelihatan dan belum diasah. Sebab itu, sepatutnya kita sebagai orang tua tidak memaksakan kehendak dengan membanding-bandingkan anak sendiri dengan anak orang lain. Tugas kita seharusnya mengasah kemampuan mereka dan jangan biarkan kemampuan yang ada itu mengendap di dalam dirinya hanya karena kalian (orang tua) tidak setuju dengan apa yang kalian harapkan. 


3. Jangan sampai berjarak dengan anak

Mau bagaimana pun juga, pasti anak-anak kita ingin sekali bercerita dengan kita. Berbagi canda tawa. Sebagai orangtua, kita harus buat agar mereka menjadikan kita tempat mengadu yang nyaman dan penuh solusi.
Buat anak kita merasa nyaman ada di dekat kita, mau terbuka dengan kita. Dan usahakan jangan sampai ada rahasia yang ditutupi oleh si anak.


4. Anak jangan terlalu dimanja

Jangan biasakan mereka mudah dalam mendapatkan sesuatu yang mereka inginkan. Karena jika hal tersebut dilakukan akan berpengaruh kepada sifat anak hingga ia dewasa kelak. Suatu saat mereka menjadi anak yang serba instan, tidak tahu arti dari sebuah perjuangan, kemandirian, dan bahkan cenderung meremehkan proses.

5. Jangan sampai tidak konsisten terhadap suatu keputusan yang berkaitan dengan masa depan anak

Seringkali orang tua memberikan suatu keputusan yang bisa dibilang labil dan hal tersebut yang justru membuat anak-anak bingung dan resah mengapa orang tuanya berbuat seperti itu.

Contoh kasus: ada anak yang ingin berkuliah di universitas A. Lalu orang tuanya menyetujui. Selang beberapa waktu kemudian, orang tuanya berubah pikiran dan berkata, “kak kenapa kamu enggak kuliah di universitas B aja?”

Sikap labil ini justru tidak membangun optimisme anak. Bisa dilihat, orang tua yang tidak konsisten terhadap masa depan anak, bisa membuat si anak ikut labil dan menjadi kurang semangat menjalani hari-harinya. Karena sikap orang tua yang berubah-ubah.


Foto dari Mommiesdaily.com

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai