kopi travel blog

jauh berjalan banyak dilihat

Rental Buku “Fortuna”, Bertahan di Era Digital

“… Saya pun tak tahulah bagaimana nasib taman baca ini ke depannya.”


Oleh Nanda Nadya

“Selamat sore, Koh!” sapaku pada pria itu. Pria yang sudah bertahun-tahun lamanya tak pernah kutemui. Ia tak lagi sama seperti dulu, guratan di wajahnya semakin jelas terlihat, kantung matanya pun mulai mengendur, serta helai rambutnya yang mulai menipis. Ah, beliau benar-benar sudah menua, batinku.

“Sore,” jawabnya padaku, pun dengan mimiknya yang keheranan melihat ke arahku.

“Akhirnya saya bisa ke sini lagi. Saya pikir udah nggak ada rental buku ini. Ya ampun, inget banget saya dulu waktu masih SMP. Selesai les saya langsung ke sini buat nyewa komik. Eh, nggak kerasa sekarang saya sudah kuliah,” tuturku padanya, sembari mulai mengingat dan mengenali tempat ini kembali. Rasaku, tak banyak yang berubah. Ruangannya masih dengan ukuran yang sama, berhias rak-rak buku yang masih sama pula dengan catnya yang mulai memudar.

“Oh, kamu langganan lama, ya. Saya dari tadi perhatiin kamu, coba kenali. Tapi susah sekarang ya mau liat orang sebab harus pakai masker,” balasnya lagi padaku, sembari ia membariskan buku-bukunya dengan rapi.

“Iya, Koh, hehe. Yang jelas saya senang bisa ke sini lagi. Kangen banget!”

Aku pun mulai menelisik rak-rak buku yang ada di rental ini. Rental buku “Fortuna” namanya. Bagiku, rental buku ini menarik sekali. Sebab mereka juga menyediakan novel dan komik lama yang tidak diproduksi lagi, namun sangat populer pada zamannya. Dan sejak dulu, aku menyenangi komik Shinchan dan selalu menyewanya di sini.

“Koh, gimana yang ke sini masih ramai kayak dulu?” Aku kembali membuka percakapan.

“Hmmm, udah ndak, sih. Ya, paling yang ke sini yang berumur 20-30 tahun aja. Yang udah kuliah, kerja. Penat sama tugas dan kerjaan akhirnya nyari hiburan dengan baca komik atau novel. Dan yang ke sini ya yang udah sadar aja gimana pentingnya membaca,” Ia menghela nafas sebentar, dan mulai melanjutkan pembicaraannya lagi.

“Taman baca kayak begini (rental buku) tinggal sisa 3, loh, di sini. Yang lainnya udah pada gulung tikar. Semua orang udah beralih ke internet. Yaaah, apa aja ada kan di internet itu, tinggal browsing aja ketemu. Kamu mau cari novel apa, ya, ada. Ditambah lagi, minat baca orang Pontianak ini pun sedikit,” jelasnya lagi.

“Iya, Koh, benar. Tapi bagi saya baca buku fisik dengan e-book itu tetap beda, Koh. Lelah mata saya kalau berlama-lama melotot
ke layar handphone,” jawabku.

“Betul. Kadang membaca di handphone cuma ngabisin waktu aja. Fokus kita pun terbagi-bagi juga kalau baca di situ. Yang jelas, saya pun tak tahulah bagaimana nasib taman baca ini ke depannya. Tapi, kemarin, ada ibu-ibu datang dengan anaknya, ibu itu sudah langganan di sini sejak masih muda, dan sekarang anaknya yang gantian nyewa buku di sini. Saya senang,” jawabnya ditambah senyum sumringah.

“Wah, nanti anak saya juga tentunya saya sarankan dia untuk ke sini juga, Koh. Tenang aja, hehehe,” timpalku lagi, sembari menghibur hatinya.

Sedikit sedih rasanya setelah mendengar apa yang dipaparkan beliau. Mulai dari mendengar fakta bahwa banyak sekali rental buku yang gulung tikar dan bahkan kini hanya tersisa 3. Aku paham betul, beliau memang sejak awal hanya orang yang menyukai membaca dan mengumpulkan semua buku-bukunya. Pun sebenarnya ia agak segan menyebut ini sebagai rental, sebab dengan kata “rental”, melukiskan buku-buku ini sebagai ladang bisnisnya. Ia tetap bersikeras menyebutnya sebagai taman baca.

Bahkan, kalian tahu? Sejak diriku SMP dulu dan hingga sekarang, tarif penyewaan komik tetap sama, 2.500 rupiah! Tidak ada yang berubah, meski kita tahu bahwasanya mencari uang pada masa sekarang sulit sekali. Namun beliau, tetaplah beliau yang dulu. Yang merelakan buku-bukunya menjadi pelarian bagi mereka yang membutuhkan hiburan. Apalah arti 2.500 itu. Barangkali, 2.500 rupiah ini ia gunakan hanya untuk menyampul buku dan biaya merawatnya. Dan memang faktanya, semua buku di sini terawat dengan baik dan rapi. Jarang sekali kulihat cacat di antara cover maupun di setiap lembar buku yang ada.

Lalu, untuk biaya penyewaan novel, 8.000 rupiah dan tanpa batasan waktu. Kita dapat membaca sepuasnya tanpa perlu memikirkan denda keterlambatan pengembalian.

“Nanti kamu kembaliin bukunya terserah, kapanpun kamu selesai baca, ya. Selesaikan saja bacaanmu dulu, santai saja,” tuturnya di akhir, di saat aku telah melengkapi data penyewaan. Ah, Koh. Memang mulia sekali hatimu itu. Sungguh bersyukur aku telah mengenal rental ini sejak masa kecilku dulu.

Dan, bagiku, rental buku semacam Fortuna ini haruslah dipertahankan eksistensinya, sampai kapanpun. Sebab, atmosfirnya tentulah berbeda dengan perpustakaan. Rental menyediakan buku dan komik yang tidak disediakan oleh perpustakaan dan lagi pula, tak juga diperjualbelikan lagi di toko buku di masa-masa sekarang. Kini, rental buku seperti menyediakan “emas” bagi penikmat buku serta komik langka.

Harapanku di masa depan, aku bisa memiliki taman baca sendiri dan semua orang dapat dengan bebas menikmati buku-buku yang kusediakan dan mereka jatuh cinta kepadanya!

Sebab, jatuh cinta kepada buku tidak akan membuat dirimu patah hati.


Foto: Nanda Nadya

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai