kopi travel blog

jauh berjalan banyak dilihat

Naturalisasi vs Pembinaan Usia Dini

Tapi sayang, pembinaan pemain muda kita menjadi semu karena sulit kebagian tempat di Timnas.


Oleh Akrim Lahasbi

Kiprah Garuda Select di Eropa pada dua tahun terakhir ini membuat masyarakat Indonesia sedikit bahagia di tengah minimnya prestasi Timnas dan persoalan internal PSSI yang selalu berulang, dalam artian, program Garuda Select tersebut bisa membawa harapan positif kepada penggemar sepakbola Indonesia karena menyaksikan para pemain muda bermain di level Internasional walaupun hanya menjalankan laga persahabatan.

Momentum itu juga sebagai ajang bagi pemain-pemain muda untuk dapat menunjukan kualitas dan loyalitas mereka dalam menapak jenjang karir yang lebih tinggi dengan bermain di klub-klub Eropa. Sebagaimana Witan Sulaeman yang telah bermain di FK Radnic Surdulica Serbia, kita pun berharap para alumni Garuda Select seperti Bagus Kahfi dan Brylian Aldama bisa segera menyusul untuk berlatih dan menjadi bagian klub Eropa.

Upaya mengirim anak-anak Indonesia untuk berlatih bahkan untuk bisa dikontrak oleh klub-klub Eropa, berbanding terbalik dengan program naturalisasi bagi pemain yang bukan Warga Negara Indonesia atau sama sekali tidak memiliki darah keturunan Indonesia yang sempat dicanangkan oleh PSSI beberapa waktu lalu.

Kenapa Harus Naturalisasi?

Sebetulnya tidak menjadi masalah apabila ada naturalisasi, tapi perlu dilihat kembali, apakah dengan naturalisasi pemain betul-betul dapat memberikan kontribusi lebih kepada timnas Indonesia atau justru sebaliknya?

Dilansir dari Bola.com, Menteri Pemuda dan Olahraga Indonesia, Zainuddin Amali, mengatakan bahwa akan ada 5 pemain Brazil yang dalam waktu dekat segera dinaturalisasi untuk membela timnas U-20 di kualifikasi Piala Dunia U-20 yang akan dilangsung di tanah air. (Meskipun kabar terakhir menyatakan bahwa rencana ini gagal terwujud akibat banyaknya penolakan, tetapi artinya wacana naturalisasi itu adalah bagian dari yang ada di dalam pikiran orang-orang yang bertanggung jawab terhadap sepakbola Indonesia hari ini).

Menurut saya, ada sisi positif dan negatifnya apabila hal itu benar terjadi. Sisi positifnya; dengan adanya naturalisasi, dapat menjadi ajang pembanding kualitas antara pemain lokal dan pemain luar. Sedang sisi negatifnya; justru nanajemen sepakbola Indonesia sedang mempertontonkan kepada kita bahwa kualitas pengelolaan sepakbola Indonesia tidak cukup baik. Seperti seolah-olah di Indonesia ini kekurangan SDM yang unggul. Juga secara tidak langsung, dapat menghilangkan kepercayaan diri dan bahkan dapat menghapus mimpi-mimpi besar para pemain muda, khususnya yang berada di pelosok-pelosok negeri.

Saya yakin bahwa masih banyak pemain muda yang berbakat di Indonesia yang layak menjadi punggawa Timnas dibanding dengan menaturalisasi pemain dari Brazil atau dari negara lainnya.

’’Secara aturan FIFA sah-sah saja menaturalisasi pemain selama mereka tidak pernah bermain untuk Timnas negaranya. Tapi sayang, pembinaan pemain muda kita menjadi semu karena sulit kebagian tempat di Timnas,’’ kata Hifni Hasan (dilansir dari Indopos), Kamis, 20 Agustus 2020 lalu.

Pembinaan atlet usia muda akan menjadi sia-sia apabila naturalisasi masih diutamakan. Menurut saya, apa yang diungkapkan oleh Hifni Hasan di atas tadi menjadi kritik kepada PSSI supaya lebih memperhatikan langkah-langkah besar yang diambil agar tidak merugikan pihak pemain dan masyarakat secara umumya.

Banyak anak muda, termasuk saya pribadi, memiliki hasrat besar untuk menjadi bagian dari stakeholder prestasi sepakbola timnas suatu saat kelak, dan berharap PSSI dan semua yang terlibat dalam sepakbola Indonesia benar-benar memberikan perhatian pada pembinaan dan pelatihan yang mumpuni dan layak, serta yang terpenting, lebih memperhatikan kesiapan pemain muda Indonesia itu sendiri, ketimbang pemain naturalisasi.

Budaya membanding-bandingkan pemain asli Indonesia dan naturalisasi, baik dari segi kualitas skill maupun fisik, tidak boleh menjurus kepada menjatuhkan mental para pemain itu sendiri. Tidak masalah apabila membandingkan untuk membangun, untuk motivasi, tapi kalau untuk menjatuhkan, apa gunanya? Justru hal tersebut menjadi alasan kenapa pembinaan pemain muda harus lebih diperhatikan lagi.

Jadi, naturalisasi bukan jalan terbaik untuk memajukan prestasi sepakbola Indonesia, seharusnya yang dilakukan adalah fokus pada pembinaan usia dini. Karena pada dasarnya anak-anak muda itu harus diberi harapan dan bimbingan, bukan diremehkan dan direndahkan. Berikan anak-anak muda Indonesia kesempatan dan fasilitas untuk berkembang, seperti program Garuda Select dengan mengirimkan anak-anak Indonesia berlatih dan bertanding di Eropa. Dan seharusnya di dalam negeri pun harusnya begitu, digalakkan kompetisi usia muda, difasilitasi dengan fasilitas berlatih, metode, dan pelatihan terbaik.

Kita sebenarnya tidak kekurangan pemain berbakat, tapi kita hanya kurang menghargai proses dan kurang menaruh kepercayaan kepada pemain muda. Dan jika kita benar-benar ingin menjadikan Liga atau Timnas yang diperhitungkan oleh klub dan timnas di Eropa sana, solusinya adalah jangan habiskan energi kepada naturalisasi, tetapi fokus pada pengembangan potensi pemain asli, bahkan sejak usia dini.


Foto: MolaTV

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai