Seandainya kita sudah siap jatuh cinta artinya kita juga sudah harus siap untuk patah dan sakit hati. Ini adalah konsekuensi logis.
Oleh Agnia Lutfiah
Dalam agamaku, Islam, pernikahan adalah ibadah sunnah yang dianjurkan. Karena dengan menikah, salah satu keberkahannya adalah terbukanya pintu-pintu rezeki, satu di antaranya yaitu dibukanya rezeki melalui hadirnya anak di tengah keluarga.
Memang menikah itu tidak semudah kita memandang langit sore berganti malam, karena butuh persiapan yang matang dan setelah melewati berbagai pertimbangan. Apalagi bagi seorang laki-laki, sebab di dalam sebuah rumah tangga, laki-laki adalah seorang imam, pemimpin keluarga.
Banyak saya lihat, orang-orang yang hendak menikah, sudah beritikad baik, tapi terpaksa tersendat di tengah jalan karena terkendala persoalan biaya. Selain biaya, yang dikhawatirkan juga adalah sering munculnya pikiran negatif seperti: jika nanti menikah, semua kegiatan jadi terhambat, yang awalnya fokus bebas bekerja, tetapi setelah menikah malah jadi membagi fokus mengurus anak dan pekerjaan rumah, yang tadinya berkuliah jadi terpaksa berhenti karena harus mencari uang untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga, dan sebagainya.
Untuk kita para remaja, jika sudah memiliki kesiapan dalam membina rumah tangga, alangkah baiknya untuk menyegerakan menikah. Kenapa?
Pertama, persiapan ekonomi yang matang tentu adalah alasan yang wajar. Akan tetapi bukankah dengan adanya sang Istri/Suami justru bisa menambah rezeki? Misal, bisa saling membantu dalam mencari rezeki atau membantu dalam urusan-urusan yang sifatnya pribadi.
Kedua, tidak bisa dipungkiri, setiap manusia memiliki nafsu, apalagi anak-anak di usia remaja, yang nafsunya susah dikontrol. Supaya kita tetap bisa menjaga diri dari nafsu-nafsu jahat itu, salah satu caranya, ya, segera menikah.
Namun, perlu ditekankan juga, menikah itu bukan sekadar memuaskan nafsu lewat berhubungan biologis belaka, setelah nanti anak lahir, kita juga harus berpikir untuk masa depannya, membiayainya, mendidiknya agar menjadi anak yang sholeh. Ada tanggung jawab di situ.
Rasulullah SAW bersabda: “Wahai para pemuda, barang siapa yang memiliki ba’ah (kemampuan menikah), maka menikahlah. Karena itu lebih akan menundukkan pandangan dan menjaga kemaluan. Barang siapa yang belum mampu, maka berpuasalah karena puasa itu sebagai obat penahannya/pengekang.” (HR. Bukhori no.5065 dan Muslim no.1400).
Bagi para pemuda yang belum mampu menikah sangat disarankan untuk berpuasa. Untuk menjaga syahwat, menahahan diri dari perbuatan yang tidak diinginkan. Lalu, bagaimana jika tidak kuat berpuasa? Mau tidak mau, harus memampukan diri atau segerakanlah menikah dengan kesiapan psikis yang baik. Dan untuk para pemuda yang sudah mampu secara materil, segerakanlah menikah, sebab dianjurkan oleh Rasulullah.
Ada beberapan keuntungan dari menikah muda, yaitu:
Pertama, hati jadi semakin tenang dan sejuk karena hadirnya istri dan anak-anak.
Kedua, bisa menambah pendakwah-pendakwah kebaikan. Anak-anak yang kita jaga itu, hendaklah diberi bekal yang baik-baik sejak kecil, supaya kelak, ketika besar nanti, ia tumbuh sebagai anak yang berguna bagi semua orang, setidak-tidaknya berguna bagi kedua orangtuanya.
Sebagai anak muda yang masih studi, biasanya muncul pertanyaan dilematis seperti: jika saya sudah mampu menikah, apakah saya menyelesaikam studi dulu atau di tengah studi tetap melangsungkan pernikaham?
Jika merujuk kepada dalil di atas, kesimpulan yang dapat kita ambil untuk kasus ini adalah: menikah itu tidak perlu menunggu selesai studi dulu. Jika kita telah mampu apalagi sudah tidak kuat menahan nafsu, segerakanlah menikah. Nikah sama sekali tidak menghalangi orang yang sedang menempuh pendidikan. Justru dengan adanya pendamping hidup, jadi ada penyemangat dan dorongan baik rohani, fisik, maupun materil untuk kita.
Sebagai pelajaran, seandainya kita sudah siap jatuh cinta, artinya kita juga sudah harus siap untuk patah dan sakit hati. Ini adalah konsekuensi logis. Kebanyakan dari sebagian kita, alasan menikah cuma sekadar merasa kesepian, bukan karena benar-benar sudah siap. Sebab itu, carilah calon istri atau calon suami yang apa adanya bukan yang ada apanya.
Agnia Lutfiah adalah Mahasiswa Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jurusan Hukum Keluarga
Foto dari penganten.com
