Kita tidak tahu kapan pandemi berakhir, tapi semoga dengan cara itu, orang tua tetap dapat beradaptasi terhadap situasi.
Oleh Mar’atu Sholihah Kembarwati
Pandemi virus corona yang tengah mengepung dunia saat ini, terutama di Indonesia, belum menunjukkan tanda-tanda akan segera berakhir. Dari data resmi pemerintah yang dirilis di situs covid.go.id per tanggal 29 November 2020, total kasus COVID-19 di Indonesia berjumlah 534.266 kasus, dengan rincian 16.815 orang di antaranya meninggal dunia, 445.793 pasien dinyatakan sembuh, dan 71.658 pasien sedang dalam perawatan. Bahkan dilaporkan bahwa angka kasus baru positif COVID-19 dalam sehari menyentuh rekor baru, yakni sebesar 6.267 kasus.
Dari data tersebut, apa tindakan yang telah dilakukan pemerintah dalam upaya penanggulangannya?
Ada banyak sekali tindakan yang dilakukan pemerintah untuk memutus mata rantai penyebaran virus ini, salah satunya dengan dikeluarkannya PP Nomor 21 tahun 2020 tentang Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dalam rangka percepatan penanganan COVID-19 yang berimbas pada pembatasan berbagai aktivitas, di antaranya tidak diperbolehkannya sekolah tatap muka di kelas.
Dan secara resmi pula Mendikbud mengeluarkan surat edaran bernomor 36962/MPK.A/HK/2020 tentang pembelajaran secara daring dan bekerja dari rumah dalam rangka pencegahan penyebaran Corona Virus Disease (COVID-19). Dengan adanya kebijakan ini, mau tidak mau, memaksa para guru dan murid untuk tetap bekerja dan belajar dari rumah, dari mulai jenjang PAUD sampai Perguruan Tinggi. Tentunya, hal ini berdampak tidak hanya kepada para guru, tetapi juga kepada orang tua di rumah. Sebab, tanpa peran orang tua, anak-anak akan kesulitan dalam memahami pelajaran yang diberikan guru secara online.
Oleh karena itu dibutuhkan pemahaman dari orang tua dalam membimbing anak-anaknya agar tetap mendapatkan suasana dan materi belajar selayaknya sekolah di dalam kelas. Berikut adalah hal-hal apa saja yang seharusnya dilakukan orang tua dalam menjaga anak-anak mereka agar tetap semangat untuk belajar:
Pertama, orang tua bertanggungjawab memberi semangat pada anak.
Ketika pertama kali mendengar belajar online, sebagian anak-anak ada yang berpendapat kegiatan itu sangat menyenangkan, sebagian lagi berpendapat tidak menyenangkan, apalagi bagi anak-anak yang masih belum memahami prosedur belajar online, sulitnya menggunakan handphone dan mengakses aplikasi, terutama anak SD yang masih duduk di kelas 1 sampai kelas 3. Bisa dikatakan mereka masih kurang pengetahuan bagaimana metode belajar secara online. Sebab itulah perlunya bimbingan langsung dari orang tua yang harus selalu mendampingi anaknya dalam belajar.
Harus diakui, belajar online kurang efektif untuk anak usia 7 sampai 8 tahun, karena mereka masih baru mengenal dunia persekolahan dan butuh bimbingan yang lebih intensif. Jadi, orang tua harus sabar mengajari anaknya di rumah. Berat? Pasti, karena orang tua jadi mendapat beban ganda, selain harus mengerjakan kegiatan rumah, mereka juga harus mendampingi anaknya. Siapa lagi pendamping anak-anak itu dalam belajar online di rumah kalau bukan orang tua?
Buat para orang tua, supaya anak-anak tetap mau belajar, mungkin bisa dimulai dari hal-hal yang mereka sukai, misal merayu mereka dengan membuatkan makanan kesukaan mereka, memberikan mainan kesukaan mereka, dan sebagainya, supaya anak tetap dalam mood yang bagus dan bersemangat dalam belajar.
Kedua, orang tua harus melatih anak untuk disiplin dan bertanggungjawab.
Banyak sekali anak yang lebih mendahulukan bermain sehingga sebagian dari mereka jarang ingat dengan tugas-tugas yang diberikan guru di sekolah. Kebanyakan dari anak-anak itu, karena kini kegiatan sehari-harinya berada di lingkungan rumah, mereka jadi lebih sering menghabiskan waktu dengan bermain bersama teman-teman rumahannya.
Di titik inilah orang tua mesti berperan aktif dengan mengajarkan anaknya untuk bertanggung jawab atas pekerjaannya. Orang tua bisa melakukan berbagai cara, misal dengan memberikan hadiah kecil (reward) apabila anaknya telah menyelesaikan tugas tepat waktu, supaya mereka dapat belajar disiplin dan bertanggungjawab sejak dini.
Ketiga, orang tua harus kreatif untuk menciptakan ruang bermain anak di rumah.
Kenapa harus di rumah? Karena untuk mencegah anak bermain di luar, yang berpotensi membahayakan diri mereka. Di situasi pandemi ini, apalagi melihat lonjakan kasus yang saban hari makin meningkat, orang tua harus kreatif dan inovatif dalam menciptakan ruang bermain yang menyenangkan di rumah. Kalau bisa, kegiatan bermain bersama anak itu seperti kegiatan yang juga menghasilkan nilai positif seperti bermain sambil belajar. Memberikan pelajaran dengan gaya bahasa yang mudah dipahami anak, misal dengan lagu-lagu atau bercerita dan mendongeng, dan lain sebagainya.
Tips di atas merupakan sedikit dari sekian banyak tips yang bisa dilakukan orang tua selama sekolah masih melalui metode belajar online. Kita tidak tahu kapan pandemi ini akan berakhir, tetapi semoga dengan cara itu, orang tua tetap dapat beradaptasi terhadap situasi.
Kabar terbaru, menurut hasil rapat Mendikbud, Mendagri dan Menag, mulai Januari 2021 sekolah tatap muka sudah diperbolehkan, boleh bukan berarti wajib. Boleh tetapi dengan syarat-syarat tertentu. Menurut saya, ada atau tidaknya kebijakan ini, entah pasti atau akan diundur lagi karena melihat lonjakan kasus corona yang terus meningkat, orang tua harus tetap waspada dan harus tetap berperan ganda. Karena kita sedang menghadapi situasi yang tidak pasti.
Meski berat, orang tua harus ingat, anak bukan sekadar titipan, tapi suatu saat merekalah yang akan menggantikan posisimu di keluarga, di masa depan nanti, mereka juga yang akan meneruskan keturunanmu, menjaga nama baik keluargamu, dan tentunya, yang akan hidup di tengah masyarakatnya.
Foto dari halodoc.com
Mar’atu Sholihah Kembarwati adalah Mahasiswa Jurusan Hukum Keluarga di Universitas Islam Negri Syarif Hidayatullah
