kopi travel blog

jauh berjalan banyak dilihat

[Alih Bahasa] Bagaimana Leo Tolstoy Meraih Tujuan Hidupnya

“Apakah saya harus mati sebagai seorang yang tak berpengharapan?”


Oleh Herman Attaqi

“Menjadi seorang manusia bermoral adalah membayar, berkewajiban membayar, semacam kebaikan spesifik yang disebut ‘perhatian’,” tulis Susan Sontag di dalam salah satu karya tulisnya, “Sebuah Meditasi yang Luar Biasa dari karya Storytelling dan Manfaatnya untuk Menjadikan manusia Lebih Baik.”

Barangkali, kebaikan dari “perhatian” itulah yang menjadi faktor penting bagi kehidupan personal kita dan nilai-nilai yang semestinya kita tiru darinya, yang menumbuhkan semangat dan juga dapat menjadi perkakas dalam proses menemukan jalan hidup kita.”

“Ada beberapa momen dalam hidup ketika kita begitu rapuh dan pada saat itulah kita membutuhkan nilai-nilai, yang menjadi seperti skeleton, rangka tulang penyangga tubuh yang mengokohkan dan sekaligus melindungi diri,” tulis Parker Palmer dalam karyanya “Discerning One’s Path”.

Sebagaimana perjuangannya dalam menemukan tujuan hidup, Leo Tolstoy muda (9 September 1828-10 November 1910) membuat sketsa yang menggambarkan “skeleton”-nya itu di dalam “The Diaries Of Leo Tolstoy”, menjadi penggambaran dari kemampuan spiritualnya dalam berjuang untuk mengembangkan semua bentuk eksistensi dirinya:

Jika saya bermeditasi dan berkontemplasi lewat tinjauan ilmu sejarah, saya merasa semua manusia memiliki cita-cita yang sama terkait hari akhir.

Jika saya bermeditasi lewat pikiran, dan mengukur kemampuan spiritual manusia melalui hal itu, saya menemukan bahwa pada jiwa setiap manusia ada kesamaan gagasan di alam bawah sadar (the same unconscious aspiration), yakni kesamaan semangat untuk menjalankan tugas dan kewajiban.

Jika saya bermeditasi melalui kacamata ilmu sejarah filsafat, saya menemukan, pada setiap ruang dan waktu, manusia telah sampai pada kesimpulan bahwa tujuan hidup manusia adalah untuk mengembangkan nilai-nilai kemanusiaan yang universal.

Jika saya bermeditasi dengan kacamata teologi, saya menemukan bahwa hampir semua bangsa menyadari tentang “hakikat eksistensi yang maha sempurna” yang menjadi tujuan dari gagasan kemanusiaan itu sendiri.

Jadi, saya harus berhati-hati dalam memutuskan tujuan dari eksistensi diri saya sebagai sebuah kesadaran dalam memperjuangkan pengembangan dari segala hal yang eksis. Saya akan menyesali kematian saya nanti ketika sepanjang hayat saya tidak dapat menemukan tujuan hidup itu, tujuan hidup yang universal dan berguna… Dengan tujuan hidup itu pula, seluruh hidup saya bisa konsisten dan terus berjuang hanya pada satu tujuan.

Seperti kebiasaan dari anak muda pada zaman itu yang menuliskan daftar aturan pribadi yang membimbing jalan hidup mereka, Tolstoy muda juga menulis hal yang sama:

Satu dari aturan umum saya: Bahwa seseorang harus mengatur dirinya sendiri, seseorang tidak boleh melepaskan diri dari (usaha) berpikir atau terdistraksi (oleh perkara lain), akan tetapi, sebaliknya, harus ambil bagian dalam menampilkan dirinya. Dahulukan berpikir, baru kemudian lihat hasilnya.

Meskipun ia kemudian banyak meratapi dan mempertanyakan motivasi-motivasi hidupnya seperti tertulis di dalam diarinya, pada lima tahun berikutnya dia benar-benar mencoba hidup seperti seorang Dostoyevsky, Tolstoy pun jatuh dalam kubangan perjudian hingga terlilit utang–dan karena hal itu pula, kreativitasnya malah muncul hingga menjadikannya sebagai seorang penulis debutan. Akan tetapi ia tetap saja secara eksistensial seorang yang gelisah. Dalam sebuah diari pendek yang ditulis sebelum ulang tahunnya yang ke-34, Tolstoy berkontemplasi tentang tujuan hidupnya yang semakin membuatnya dilanda kecemasan:

Untuk beberapa waktu yang lampau, saya telah tersiksa oleh berbagai penyesalan oleh karena menghabiskan tahun-tahun terbaik dalam hidup saya ke dalam kesia-siaan. Itu adalah saat di mana saya mulai merasa bahwa saya memiliki kemampuan untuk melakukan banyak hal baik. Ketertarikan itulah yang membuat saya bisa menjelaskan arah perkembangan moral saya, tapi tidak ada kata-kata bahkan pikiran yang cukup untuk memandu saya pada tujuan itu.

Tidak ada batas bagi pikiran besar: para penulis di masa lampau pun belum mencapai batasan ekspresi sebagaimana pikiran besar itu. Bermain catur, makan malam, dan sekarang saya bersiap mau tidur. Kerecehan-kerecehan hidup ini membuatku risau. Benar, saya merasa seperti ini karena saya merasa sebagai seorang yang receh; dan di dalam diri saya ada kemampuan untuk memandang rendah diri dan hidup sendiri. Ada sesuatu di dalam diri saya yang memaksa saya percaya bahwa saya tidak dilahirkan untuk menjadi sebagaimana seharusnya laki-laki… Saya tumbuh menjadi dewasa, dan terus bertumbuh, atau mati, dan saya tersiksa oleh kelaparan… bukan oleh keinginan menjadi terkenal — Saya tak berhasrat menjadi terkenal; meskipun kemudian saya dikenali banyak orang — tapi niat saya untuk meraih pengaruh besar bagi arah kebahagiaan dan bisa bermanfaat bagi kemanusiaan.

Apakah saya harus mati sebagai seorang yang tak berpengharapan?

[…]

Saya sangat takut akan kesia-siaan hidup, dan meskipun hidup saya demikian adanya, bahwa saya tak yakin sama sekali jika kondisi itu mampu membuat saya meraih kebahagiaan. Semua yang saya lihat itu, menimbulkan pertanyaan baru, apa yang tersisa sebagai sebuah starting point? Cinta dan persahabatan … Apakah itu bisa membawa saya pada kebahagiaan? Atau apakah malah di situ letak ketidakberuntungan saya? Bersandar pada yang demikianlah hasrat saya bisa terus hidup dan diperjuangkan. Jika kebahagiaan dan segala aktivitas bermanfaat bisa memberi kemungkinan, dan saya selalu mencobanya, saya seharusnya, minimal, pada posisi melakukan semua hal itu sebaik mungkin. Ya, Tuhan, kasihanilah diri ini!

Pada tahun itu, Tolstoy menghasilkan karya perdananya, yakni “Childhood” — bagian pertama dari trilogi autobiografinya — dan memulai perjalanan takdirnya sebagai seorang yang bervisi kemanusiaan dan yang menyuarakan tentang hidup yang diberkati. Di sepanjang usianya, meskipun ia seringkali hidup dalam kegagalan yang membuatnya jatuh dan melewati krisis eksistensial yang parah di pertengahan usianya, ia tak pernah kehilangan penglihatan pada tujuan dan tetap terjiwai oleh hasrat masa mudanya untuk meningkatkan “nilai-nilai kemanusiaan yang universal” sampai ia mati.


Dialihbahasakan oleh Herman Attaqi dari esai karya Maria Popova yang berjudul “How Leo Tolstoy Found His Purpose: The Beloved Author on Personal Growth and the Meaning of Human Existence”. Sumber asli bisa diakses di sini.

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai