Langit sore Jakarta selalu mengisyaratkan lelah dan kejenuhan, sebelum malam dipenuhi gemerlap tanpa gemintang.
Gang kecil itu tetap ramai seperti petang biasanya. Anak-anak ramai-ramai berlari, sibuk dalam kekayaan imajinasi nan jenaka. Ibu-ibu berbincang santai, melepas penat dari kesibukan dapurnya. Ibu mana yang lebih lelah dari mereka yang harus mengepulkan dapurnya dari uang receh.
Dua orang kakek berjalan pelan sambil berbincang sambil menghisap rokoknya masing-masing. Sarung, koko, dan peci masih menempel di tubuh mereka, tetapi perbincangan mereka sudah jauh ke Eropa sana. Yang satu ke Liverpool, dan satunya terbang ke Madrid. Saling menjagokan klub idolanya masing-masing. Walaupun mereka tetap lebih mengunggulkan pemain yang mereka tonton di kala muda.
“Permisi,” suara pelan seorang muda yang mengendarai motornya. Dua kakek tadi mengangguk, senyum dan minggir memberi jalan. Motor tadi terus melaju pelan sampai di sebuah rumah bercat biru. Ia membunyikan klaksonnya.
Dari dalam rumah, seorang anak perempuan yang sedang bermain boneka melongok keluar lalu berteriak, “Ayah, temannya sudah datang!” Pria di atas motor itu melepas maskernya, tersenyum dan melambaikan tangannya pada anak perempuan itu. Anak itu melepas senyum lalu lanjut berkutat dengan bonekanya.
Di dalam kamar, ayah anak tadi sedang bersiap di depan cermin. “Abang berangkat dulu ya, Dik,” katanya sembari memandangi lawan bicaranya lewat cermin.
“Iya, Bang. Hati-hati,” jawab istrinya yang sedang duduk di atas kasur mungil mereka. Dasternya sedikit ngatung tertarik perut yang sedang hamil besar. Wajahnya cantik, tirus, namun tertutup murung. Sang suami mendekati istrinya, mengecup keningnya, dan membelai halus kepalanya. Belaian yang menyisakan senyum tipis di bibir mungil itu.
Klakson terdengar lagi, sang suami berbalik badan dan bergegas membuka pintu. Belum lewat selangkah, ia kembali menengok istrinya dan berkata, “jangan kau pikirkan lagi soal utang uang kontrakan. Abang akan bawa uangnya sepulang kerja, esok. Jaga diri, ya.”
Si istri mengangguk tipis, tersenyum, mengisyaratkan suaminya untuk pergi kerja dengan pikiran yang tenang.
Begitulah cinta dalam lapar, butuh kedewasaan lebih dari yang bercinta di atas tumpukan uang. Sang Ayah mengelus kepala anaknya. Anak perempuan berkepang dua itu langsung mengambil dan mencium tangan ayahnya. Pria itu tersenyum. “Assalamualaikum,” ucapnya lalu berlalu ke depan rumah. Anaknya menjawab salam sembari mengantar ayahnya ke dekat pintu.
“Lelet kali gerak kau, Bud. Habis asyik-asyik kau sepertinya, ya,” kata temannya yang menunggu di motor. Badannya ramping, dan perawakannya keras. Terlihat nama Togar di atas saku kanan kemejanya. Temannya yang ditunggu hanya tertawa sembari naik ke atas motor si Togar.
Pria tadi membalas dengan tawa dan mengisyaratkan untuk segera berangkat. Motor melaju dan sang Ayah melambaikan tangannya pada anaknya.
Mereka berangkat. Kerja malam, berganti giliran dengan teman-teman mereka yang mengamankan demo di depan kantor Dewan. Anak perempuan berkepang dua memperhatikan motor itu, hingga hilang dari mata dan telinga. Tatapan yang penuh harap akan keselamatan ayahnya. Pandangan cinta seorang tulus.
**
Langit sore Jakarta selalu mengisyaratkan lelah dan kejenuhan, sebelum malam dipenuhi gemerlap tanpa gemintang. Hanya peluh yang ada sore itu, dan bukan tak mungkin berlanjut hingga malam. Sebagian sedang minum di belakang untuk sedikit mengisi tenaga. Yang lainnya terus berteriak-teriak memeriahkan orasi yang penuh semangat dan ludah yang muncrat-muncratan. Penuh tuntutan akan kesejahteraan.
“Bu, adakah air barang sebotol? Teman kami pingsan kehausan,” ujar seorang pria pada perempuan paruh baya berkemeja merah. Ibu itu mengangguk cepat, “Anton, air sebotol!” teriaknya pada teman-temannya di belakang. Yang diteriaki bergerak gesit memberi air sebotol pada orang yang dimaksud.
Ibu tadi terlihat sangat sibuk. Mengatur logistik, sembari memegang protofon hitamnya. Beberapa orang dari barisan depan demonstrasi pergi ke belakang untuk bertanya dan melaporkan satu dua hal yang terjadi di depan. Si ibu dengan gesit memberi instruksi ini-itu dengan cepat dan lugas.
Sementara orasi di depan semakin menggebu-gebu, sebagian pedemo mulai rusuh. Ada “sentuhan” dengan barisan penjagaan yang baru saja berganti. Terlihat polisi yang baru datang tak mau bekerja terlalu lama.
Tak lama, datang seorang perempuan ke ibu yang sedang sibuk di belakang tadi. “Bu, mereka memanggil. Sudah saatnya kita minta masuk.” Ibu tadi mengangguk pelan, mematikan rokoknya dan menutup botol minumnya.
Belum ia sempat pergi, teleponnya berdering, tanda pesan masuk. “Suami” nama pengirim yang terpampang di notifikasi. “Si Ade sakit, aku pulang ngojek lebih cepat. Sudah kupanggil ibu untuk bantu mengurusnya. Kau hati-hati.”
Ibu itu tak membalas pesan suaminya. Paras serius tetap terurai di wajahnya. Namun isi pikirannya mulai berubah-ubah. Ia lanjut berjalan ke barisan depan, dengan seorang pria tegap yang membukakan jalan di tengah kerumunan. Di depan, tiga teman korlapnya sudah menunggu. Mereka berbincang sejenak, lalu menuju barisan penjagaan paling depan, di tengah demonstrasi yang semakin panas dengan orator yang mulai kehabisan suara.
“Kami harus masuk sekarang!” teriak Ibu tadi tanpa basa-basi pada pimpinan penjagaan.
“Maaf Ibu, anggota dewan tidak bersedia. Silakan ibu bubarkan teman-teman ibu sekarang,” kata polisi di tengah barisan.
Demonstran mendadak semakin rusuh, Ibu tadi menolak tegas usulan itu. Mereka berdebat, dan tak berselang lama, pak Polisi tadi mundur ke belakang. Dua penjaga terdepan langsung menutup celah kosong yang ditinggal atasannya.
Kini massa benar-benar tak terkontrol. Barang-barang mulai beterbangan. Batu, botol minum, hingga bungkus nasi yang sudah diremas-remas. Demonstran terdepan bentrok dengan barisan tameng huru-hara. Ditembakkan gas air mata. Suasana sudah tak beraturan. Bau, peluh, dan air mata tercium semerbak. Azan magrib berkumandang, dan tak terlihat tanda-tanda gemerlap di langit Jakarta sore itu.
**
Sebagian massa berlarian, dan polisi terus menekan barisan. Sebagian mereka saling serang. Tak terkecuali Budi, yang terkena hantaman buruh dekat di depannya. Mendadak muncul bayangan istrinya yang tengah hamil besar dan anaknya yang belum masuk sekolah. Terhantamlah pemuda tadi dengan tangan keras milik si Togar yang melihat temannya dipukul.
Polisi dan buruh berkejaran. Ibu korlap berlari ngos-ngosan. Menangis membayangkan anaknya yang tengah sakit, dan ibu mertuanya yang bermulut pedas. Kericuhan terjadi di tiap sudut jalan besar itu. Ada yang berlari sambil menahan lapar. Mengejar namun sibuk memikirkan keluarga. Jatuh dan berharap mati agar tak ada lagi beban cicilan yang melilit kencang. Memukul sekadar untuk merenggangkan tulangnya yang pegal karena berbagi kasur dengan sekian banyak anggota keluarganya.
Semuanya sibuk. Sibuk dengan kalutnya masing-masing. Beban hidupnya masing-masing. Kalutnya utang, bebannya keluarga, galaunya cicilan, dan masih banyak lagi peluh, kesal, dan pikiran yang sebenarnya jauh dari ricuhnya jalanan sore itu.
Dari atas gedung, wakil rakyat bersalaman dengan konglomerat. Berangkulan dengan lintah darat. Berpelukan. Berciuman, dan bersetubuh dengan rupiah yang khayal, dan merah merona bagai gundik yang masih perawan. Menatap kekalutan dari balik kaca jendelanya dengan wajah datar, dan memikirkan laparnya yang bertahun-tahun tak berkesudahan.
Foto: Kompas.com
