kopi travel blog

jauh berjalan banyak dilihat

Beberapa Catatan untuk Tahun 2020

“Semua yang menyebabkan kesedihan itu berpangkal dari opinimu atas sebuah peristiwa. Dan itu berarti, hanya kamu yang bisa mengendalikan, dan bukan orang lain atau sesuatu dari luar yang tak bisa dikendalikan.”

Oleh Herman Attaqi

Selama ini, mengamati gerak waktu, bagi saya, adalah kegiatan yang bersifat personal. Artinya, saya merespon waktu itu berdasarkan pengalaman yang sepenuhnya terpusat kepada dan dari diri saya sendiri. Adapun pengalaman orang lain atau juga kejadian di luar diri saya, saya anggap hal tersebut sebagai sesuatu yang jauh dari jangkauan, sehingga, paling tidak, saya hanya menganggapnya sebagai cermin belaka dan syukur-syukur menjadi pengetahuan.

Hidup begitu soliter buat saya, bagai permainan kartu yang bisa dimainkan sendirian di smartphone. Akan tetapi, saya bukan orang yang percaya bahwa pikiran dan kebiasaan seseorang tak boleh berubah. Selagi manusia memiliki fitur berpikir, pasti cepat atau lambat, mereka akan berusaha untuk menggeser-geser sudut pandangnya dalam membaca apa yang saya sebut dengan “pergerakan waktu” tadi.

Awalnya saya masih kurang yakin dengan “pergeseran” sudut pandang itu, sampai kemudian pengalaman yang tidak biasa (tidak hanya bagi saya pribadi, tetapi juga bagi hampir semua penduduk bumi ini), di tahun 2020 dengan bencana pandemi COVID-19, membawa saya merasakan bahwa kejadian itu telah menyatukan umat manusia ke dalam kondisi yang sama dalam saat yang bersamaan.

Namun, perlu saya sampaikan bahwa catatan ini tidak akan terlalu meluas dan menaik dalam soal-soal besar oleh karena ini menyangkut problematika hidup banyak orang. Tidak. Saya tetap memulainya dari pengalaman subyektif, dan yang berbeda adalah dengan memasukkan unsur pengalaman kolektif kita yang kebetulan hampir sepanjang tahun ini kita alami bersama. Barangkali saya keliru, memaksakan kata “kita” di sini sebagai subyek bagi “pengalaman kolektif”, tetapi, setidaknya, dengan ambisi yang biasa-biasa saja, saya ingin menguji, apakah kecemasan-kecemasan saya sebagai akibat pengalaman tahun 2020 yang lalu adalah bagian yang inheren dari kecemasan banyak orang?

Dengan demikian, inilah catatan saya untuk tahun 2020.

/1/

Sapardi Djoko Damono, Haruki Murakami, Herman Melville, Slavoj Zizek, Leo Tolstoy, Joko Pinurbo, Prie GS, dan Nelson Mandela. Nama-nama tersebut tak bisa saya lepaskan dari pengalaman membaca saya di sepanjang tahun 2020. Saya kira, penyebutan sejumlah nama itu bisa dimaknai ke dalam dua hal; Pertama, bila pandangan seseorang terhadap sesuatu, ditentukan dari apa yang mereka baca, maka nama-nama tersebut adalah cerminan bagaimana dan ke arah mana pikiran saya berpetualang. Kedua, sejumlah penulis Indonesia yang ditempatkan bersamaan dengan para penulis luar, menandakan jika karya-karya mereka memiliki mutu yang sama untuk dikaji dan direnungkan.

Yang pertama jelas menarik. Ini adalah pertama kali saya membuka diri untuk belajar secara liberal, dalam arti, saya menginklusi diri untuk membaca tulisan dari penulis dengan berbagai sudut pandang, bahkan dengan varian mazhab pemikiran. Hal tersebut menjadikan saya lebih terbuka dengan gagasan-gagasan baru. Perasaan “benar sendiri” perlahan mulai terkikis dan hal ini benar-benar menjadi semacam proses yang tak disengaja dari yang disebut para pakar dengan berpikir kritis (critical thinking).

Yang kedua juga menarik. Bisa jadi pembaca berpikiran bahwa menyejajarkan para penulis Indonesia dengan penulis dan tokoh dunia adalah sebuah tindakan idealisme cum patriotik. Tidak, maksud saya, kalian tidak salah. Walaupun ada alasan yang lebih penting dari alasan di atas yang barangkali akan menjauhkan saya dari penilaian tidak tahu diri atau bahkan snob dari kalian, yakni saya tak mau terlalu dipusingkan dengan klasifikasi genre dari para tokoh tersebut alias ini adalah “suka-suka saya”.

Pembaca mungkin masih ingat dengan salah satu esai terjemahan saya tentang kebiasaan berlari Haruki Murakami yang membentuk proses kepenulisannya. Seperti yang tertuang di dalam buku “What I Talk About When I Talk About Running”, cara Murakami menjalin hubungan antara aktivitas berlari dan menulis, telah membentuk kepribadian dan bangunan filosofisnya. Gaya tulisannya yang tenang, bersahaja, mendalam, dan independen itu dibentuk oleh kebiasaan berlari yang ia lakoni selama bertahun-tahun tanpa henti. “Semakin sering kita mendorong diri menuju batasannya, maka peluang untuk menjadi seorang penulis dan pelari yang lebih baik akan terbuka. Itulah yang disebut dengan ‘power of intentional’, suatu tindakan yang dilakukan berulang-ulang,” tulis Murakami.

“Kalau emosi tinggi, jangan nulis, nanti puisinya tanda pentung semua, siapa yang bisa baca? Tenangkan dulu perasaannya. Ajak bicara emosinya, ‘Hei, saya mau nulis dulu, kamu menyingkir dulu’, jadi harus ada jarak antara penyair dan apa yang akan disyairkan. Namanya, jarak estetis.” Ini adalah nasehat kepenulisan dari sang maestro Sastra Indonesia, yakni Sapardi Djoko Damono. Sapardi mengaku tak pernah menulis saat dirinya sedang dalam keadaan emosi yang tidak stabil, misalnya saat jatuh cinta, patah hati, sangat marah, sangat sedih, atau bahkan sangat rindu.

Dari Sapardi, saya belajar tentang “jarak estetis” yang tidak hanya mengajarkan untuk menempatkan diri dan emosi saya pada posisi yang sekiranya mampu diajak berdialog dan memahami satu sama lain, tetapi juga membantu saya dalam menguasai diri. Menguasai diri adalah menempatkan pikiran di atas perasaan. Mencoba melihat kemungkinan-kemungkinan lain sebagai kredo yang tertutup selama saya masih dikuasai oleh emosi yang membuncah.

Para penulis tersebut di atas, dengan sudut pandang unik yang mereka miliki, telah memberi saya kekayaan filosofis dan juga laku hidup yang bisa dipraktikkan. Sebagian kawan yang mengenal saya barangkali akan berlaku sinis dan mengolok-olok pilihan bacaan saya yang campur aduk dan tidak disiplin dan pada level tertentu layak dihapus dan dimasukkan ke keranjang sampah. Akan tetapi, soalnya bukan itu. Yang sekarang menjadi perhatian saya adalah sejauh mana bacaan-bacaan saya dari buku-buku para tokoh tersebut bisa memberikan saya pelajaran menghadapi hidup secara praktis sekaligus filosofis, memengaruhi pola pikir saya dalam memandang hidup dengan segala macam persoalannya, baik yang bisa dikendalikan maupun yang tak bisa dikendalikan, dan bagaimana tokoh-tokoh yang dengan keunikannya itu bisa hadir dalam kehidupan nyata sebagaimana manusia sewajarnya.

/2/

Bagaimanapun, tahun 2020, adalah tahun yang getir dan penuh tantangan bagi banyak orang, terkecuali orang-orang seperti Jeff Bezos, Founder dan CEO Amazon, yang harta kekayaannya melonjak drastis selama pandemi COVID-19. Selebihnya, 2020, adalah tahun banyak orang kehilangan pekerjaan, banyak orang tua yang kelimpungan mencari peluang “duit masuk” hanya sekadar untuk bertahan hidup, anak-anak sekolah yang dipaksa belajar dari rumah dengan segala ketimpangan fasilitas internet, serta diperparah lagi dengan disorientasi kepemimpinan nasional dalam menghadapi perubahan dunia yang tak bisa dikendalikan hanya dengan pengerahan pasukan buzzer.

Di tengah hiruk pikuk isu-isu: Omnibus Law, oligarki, paket pariwisata, para menteri dengan respon yang konyol, Pilkada yang dipaksakan, Gibran-Bobby, hingga yang terakhir tentang FPI, tetap saja ada satu persoalan paling besar yang mengancam sendi kehidupan kita secara kolektif, yakni COVID-19. Dari COVID-19 pula kita mengenal istilah-istilah baru, seperti Work From Home (WFH), New Normal, PSBB, Lockdown, Herd Immunity, Vaksin, 3M, 3T, Terawan, dan lain sebagainya.

Tadi saya katakan di tahun 2020 yang lalu hingga saat ini pun kita melihat “disorientasi dari kepemimpinan nasional” dalam menghadapi tahun pandemi ini. Mereka seperti tidak cukup punya keahlian untuk menakhodai kapal besar di tengah hantaman badai, sebab sudah terbiasa berlayar di laut yang tenang seperti dalam sebuah festival tahunan. Mereka, meminjam istilah Slavoj Zizek, terlihat “Panik!” dengan situasi ini. Zizek mengatakan, “Kepanikan bukanlah cara yang tepat untuk menghadapi ancaman nyata. Ketika kita bereaksi dengan panik, kita tak menganggap ancaman itu secara serius. Sebaliknya, kita meremehkannya.” Padahal, sebagaimana yang diserukan oleh Kepala WHO, Dr. Tedros Adhanom Ghebreyesus, “Epidemi ini dapat dipukul mundur, tetapi hanya dengan pendekatan kolektif, terkoordinasi dan komprehensif yang melibatkan seluruh mesin pemerintahan.”

Apakah kita melihat pendekatan kolektif, terkoordinasi dan komprehensif itu dari pemerintah kita? Justru, sebaliknya, kita menyaksikan sendiri kontradiksi-kontradiksi dari dalam diri pemerintah itu sendiri. Masyarakat disuruh di rumah saja, tapi izin mudik diberikan. PSBB diberlakukan, tapi transportasi antar daerah diizinkan. Di tengah kenaikan kasus positif COVID-19, iklan pariwisata malah digencarkan, dan banyak lagi fakta yang menunjukkan bentuk “kepanikan” pemerintah justru ketika mereka menyeru masyarakat untuk tidak panik. Itulah yang dimaksud oleh Zizek bahwa ketika mereka menyerukan “jangan panik” sebenarnya mereka “sedang panik”. Dan kepanikan itu lahir dari ketidakmampuan mengatasi masalah.

/3/

Akhirnya, tahun 2020, berhasil juga kita lampaui. Sekali waktu, saya pernah berpikir bahwa “masalah” bisa kita selesaikan dengan membiarkan saja hingga waktu yang akan menjadikan masalah itu tidak relevan lagi sebagai sebuah masalah. Sayangnya, kemudian hari saya dapati bahwa pikiran semacam itu keliru. Waktu, memang, mampu mengendapkan masalah untuk sementara, tapi ia akan muncul kembali bagai virus dengan varian baru akibat tidak diberikan anti-biotik sebelumnya.

Jangankan masalah pandemi, kemarahan personal yang tak disalurkan saja, pada taraf tertentu, akan menimbulkan guncangan psikologis. Masalah yang tak terselesaikan di tahun 2020, tidak serta merta selesai ketika kita masuk ke tahun 2021. Kita akan masuk ke tahun baru dengan masalah-masalah baru dan tentu saja dengan varian masalah baru yang bermutasi akibat tidak pernah diberikan anti-biotik secara tuntas di tahun 2020. Dengan kecemasan-kecemasan seperti itulah kita secara kolektif merayakan tahun baru. Bersuka cita sembari melantunkan harapan-harapan baik untuk tahun ini, sementara di dalam hati kita paham bahwa ini adalah tahun yang akan jauh lebih berat dari tahun sebelumnya. Kita seperti Leo Tolstoy muda yang gelisah dan mendapati dirinya terperosok ke dalam kejatuhan eksistensial, karena ketidaksesuaian nilai moralitas yang diyakininya sejak kecil dengan kenyataan dirinya saat itu.

Haruskah kita meniru seorang Nelson Mandela, yang dengan semangat optimismenya berjuang dan bertahan hidup selama hampir 29 tahun di dalam penjara untuk memperjuangan cita-citanya agar dapat menjadi nyata? Sedangkan kita tahu bahwa pandemi ini baru berjalan setahun saja dan kita sudah kelimpungan begini rupa dan hampir putus asa. Optimisme, dalam kerangka filsafat, dalam kasus ini, saya kira, terlalu utopis buat kita. Kita harus menemukan sebuah resep yang jauh lebih praktis dan sekaligus filosofis (dalam arti memberi ketenangan bagi kecemasan kita).

Dari Herman Melville dalam buku “Bartleby, Si Juru Tulis”, saya belajar tentang manusia. Bahwa manusia dan kehidupannya itu, menurut Melville, adalah “ketidakmengertian” itu sendiri, meskipun begitu dekat jarak hidup kita dengannya, kita akan tetap merasakan keterasingan. Benar, bahwa pandemi ini kita terima konsekwensinya secara kolektif, akan tetapi kita menjalani kesulitan-kesulitan yang ditimbulkannya secara sendiri-sendiri. Secara sosial, pada tingkat tertentu, kita terlalu berjarak. Belum lagi residu konflik hasil Pilpres yang tak usai-usai antara gerombolan cebong-kampret, meskipun para gembongnya telah berada dalam barisan yang sama. Secara hirarki politik apalagi, apa yang bisa diharap dari kepemimpinan yang serba problematis?

/4/

Belakangan ini, saya terpesona oleh sosok sederhana seperti Joko Pinurbo dan Prie GS. Sering saya membaca puisi dan esai mereka dengan ketakziman yang penuh. Satu hal yang saya ingat, mereka membawa gagasan tentang dunia dengan biasa saja. Tidak perlu dengan gagasan yang tampak besar dan sophisticated, tetapi, ini yang paling penting, mereka menikmati hidupnya dalam balutan kesederhanaan itu.

Dari situ, saya menarik satu kesimpulan bahwa semua peristiwa yang terjadi, sifatnya netral, sampai kamu memaknainya. Sifat “netral” di sini adalah segala sesuatu yang bisa terjadi atau sebagai hasil dari hukum sebab akibat. Wajar terjadi pandemi, sebab manusia sudah sebegitu rakusnya mengeksploitasi bumi; Dan kita, pertama-tama, harus memandang segala peristiwa dalam konteks wajar, sebagai sebuah peristiwa yang netral.

Masalahnya adalah: tidak semua orang memiliki pemaknaan yang sama atas peristiwa tersebut. Peristiwa itu berhenti menjadi netral, ketika orang mulai memaknainya. Orang bisa memiliki banyak opini terkait pandemi. Ada yang menyalahkan masyarakat karena tidak taat pada protokol kesehatan atau pemerintah yang inkompeten. Opini-opini itu, apalagi tidak mendapatkan respon dan dunia tidak berubah, malah semakin parah, ia dapat mempengaruhi gerak nalar hingga perkembangan emosi seseorang.

Dalam ajaran filsafat Stoa, saya belajar, bahwa manusia dapat mencapai kondisi bahagia dengan satu rumus sederhana, yakni: membiarkan sebuah peristiwa tetap netral, sembari menjaga opini atas peristiwa itu sesuai dengan yang semestinya. Misalnya, pandemi ini adalah konsekwensi global atas kesalahan manusia dalam memperlakukan alam dan pemerintah tidak mampu menanganinya dengan baik, sedangkan kita tak bisa berbuat apa-apa, ya sudah, berarti kenyataannya demikian.

Saya dan kita semua tidak usah terlalu berambisi meraih puncak-puncak bahagia, meraih prestasi di tahun baru dengan impian yang sudah ditetapkan, sebab lebih masuk akal lagi jika di situasi seperti ini kita fokus untuk menghilangkan segala hal yang menyebabkan kesedihan, kegalauan, dan penderitaan. Kata orang Stoa, “Semua yang menyebabkan kesedihan itu berpangkal dari opinimu atas sebuah peristiwa. Dan itu berarti, hanya kamu yang bisa mengendalikan, dan bukan orang lain atau sesuatu dari luar yang tak bisa dikendalikan.”

Kesimpulan ini barangkali sangat receh bagi sebagian orang yang kadung terbiasa dengan gagasan besar dan kobar semangat perlawanan. Bagi saya, tidak. Mengharapkan saya untuk membuat catatan dengan intensitas harapan yang tinggi, agaknya terlalu muluk. Semangat saya, saya yakin, jauh lebih redup dari kalian yang berkesempatan membaca catatan ini, tetapi tetap saja, meskipun saya tak berharap meraih puncak-puncak kesuksesan manusia modern, paling tidak, dan ini paling memungkinkan bisa saya lakukan, sekuat mungkin untuk menjauhkan diri saya dari opini sesat tentang kesedihan, penderitaan dan putus asa. Karena hanya opini saya sendiri, yang masih bisa saya kendalikan.

Selamat Tahun Baru 2021. Hapus Segala Duka Lara.


Foto: English Literature on Facebook

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai