“Tak ada yang perlu dibanggakan dengan membuat orang lain menyesal. Maka kau harus bersinar untuk dirimu sendiri, bukan untuk membuat orang lain menyesal.”
Oleh Taqiya Herman
Dan bila terjalin terlalu lama
Aku takut bosan
Dan kau jatuh pada pelukan yang salah
Dan aku takkan rela bila kau terjatuh
Pada pelukan yang salah
Penggalan lirik lagu “Pelukan yang Salah” yang dinyanyikan oleh Singgah itu terdengar dengan volume yang memenuhi seluruh penjuru ruangan. Memecah belah sunyi di malam tahun baru seorang gadis yang sudah hampir seminggu enggan keluar rumah. Ia tak hendak menghabiskan momen akhir tahun dengan berlibur atau sekadar BBQ selayaknya yang dilakukan kebanyakan orang.
Malam ini cuaca cerah. Langit indah bertabur bintang dan bulan dan tak lama lagi akan disemarakkan oleh petasan warna warni, yang seharusnya menjadikan suasana hati semua orang semakin semarak.
Akan tetapi, hal itu tak berlaku pada gadis remaja tujuh belas tahun yang tetap memilih berkurung diri. Dan di balkon kamar, ia duduk ditemani segelas es kopi. “Astaga menyebalkan sekali,” Ia berkata lirih untuk kesekian kalinya. Seolah-olah sedang berbicara kepada cangkir kopi yang tengah digenggamnya itu.
“Aku tak mengira bahwa melupakan akan menjadikanmu sebegini menyedihkan,” ujar seseorang yang tiba-tiba datang dari balik pintu dan ikut nimbrung di sebelahnya.
“Perpisahan tanpa adanya ikatan. Hahaha. Lucu sekali!” lanjut orang itu dengan tertawa mengejek.
Gadis itu mendelik, “Setelah melihatku hampir sekarat seperti ini, dan kau sampai hati menertawakan. Kakak, kenapa malam ini kau begitu menyebalkan?!”
Gadis itu bersungut pada kakaknya yang masih belum berhenti tertawa.
“Dasar lebay!” Lalu perempuan yang dipanggil “kakak” itu menjitak kepala adiknya.
“Di luar sana, masih banyak yang ingin menjadikanmu rumah, lalu mengapa kau risau?” mimiknya berubah serius, dan lanjutnya, “Jangan berharap, jangan berasumsi, dan jangan memelas. Sesuatu yang sudah ditakdirkan suatu saat pasti akan terjadi. Kemarin kau bilang sudah berhasil melupakannya, tetapi nyatanya tidak, kau tetap saja menangis. Menangis seperti bayi,” ujarnya.
Gadis itu menunduk. Kakaknya sudah hapal sekali, pasti adiknya itu ingin menangis. Lalu, ia melanjutkan, “Tapi, aku tak suka,” tegasnya dengan intonasi yang datar.
“Kau masih ada di antara luka dan cinta. Masih sama seperti tahun lalu,” Kakaknya berkata sembari membenahi duduk agar dapat melihat wajah adiknya lebih jelas.
“Lalu apa yang harus aku lakukan?”
“Realistis, ikhlas, menerima, dan yakin.”
Dua orang itu berpandangan.
Kakaknya kemudian berkata, “Kamu dibuat patah hati oleh Tuhan, bahkan dipisahkan, juga dengan cara yang paling sakit, demi menyelamatkanmu dari orang-orang yang salah. Maka kau harus menerima. Tegar dan tidak rapuh. Aku tak suka kau bodoh begini. Be lady with a high class!”
“Apa kakak juga pernah begini?” tanya adiknya.
“Ya!”
Jawaban kakaknya membuatnya sedikit terkejut.
“Singkatnya,” ujar kakaknya, “aku pernah berusaha keras menjadi pelangi bagi seseorang yang buta warna. Sekarang, setelah ia mengenal warna, dan warnaku baginya sudah hitam.”
“Itu terjadi ketika SMA dulu, saat itu usiaku lima belas tahun dan tetap berlanjut hingga akhir sekolah sampai kami berpisah,” ujar kakaknya sembari pandangannya menerawang ke langit malam.
Kisah masa remaja yang sudah ia kubur dengan susah payah itu, akhirnya terkuak lagi demi memberi pelajaran baru kepada adiknya.
“Apa kakak masih menyukainya?”
Pertanyaan gadis itu membuat kakaknya tersenyum simpul.
“Entahlah. Mungkin aku masih menyukainya, tetapi tentu sudah tak berharap lagi memilikinya. Kau juga akan seperti itu jika sudah berhasil merelakan. Keep calm girl! Semua akan biasa aja pada waktunya. Trust me,” mendadak senyumnya merekah memberi semangat.
“Apa aku harus menjadi bersinar agar ia menyesal?” tanya adiknya lagi.
“Kau memang harus bersinar, tetapi tidak untuk membuatnya menyesal. Kalau kata temanku dulu, tak ada yang perlu dibanggakan dengan membuat orang lain menyesal. Maka kau harus bersinar untuk dirimu sendiri, bukan untuk membuat orang lain menyesal,” jawab kakaknya.
“Lalu, apa yang akan aku dapatkan sebagai gantinya?”
“Hati yang tenang dan jiwa yang tentram. Itu adalah hadiah terbaik bagi orang yang sabar. Jauhi setiap apapun yang membuat perasaanmu menjadi buruk. Ini hidupmu. Harusnya kau melakukan apa yang membuatmu menjadi bahagia.”
“Aku tidak sedih. Aku hanya kecewa, karena tak bisa lagi melanjutkan langkah dengan orang yang kutemui dua tahun lalu.”
“Pletak! Pletak!” suara kembang api menyemburat riuh ke langit. Jam sudah menunjukkan angka 00.00 . Maka sempurnalah berakhir tahun yang penuh kenangan ini. Dan sebagaimana harapan semua orang, semoga dipertemukan dengan tahun baru yang lebih berbaik hati pada mereka.
“Sudahlah, kau hanya akan letih pada ekspektasimu sendiri. Sudah tahun baru, berarti akan datang orang baru, kemungkinan baru, kejadian baru, dan pelajaran baru. Di tahun ini, kau mungkin akan dipatahkan atau dibangkitkan, dilemahkan atau dikuatkan, itu semua tergantung dari bagaimana kau bertahan, tergantung bagaimana cara kau memperlakukan dirimu sendiri. Sudah, ayo tidur, sudah tahun baru,” sahut kakaknya mengakhiri.
Gadis itu mengusap wajahnya. Meraih gelas bekas es kopi yang sudah mencair tanpa sempat dihabiskan. Ia menatap rembulan sejenak, menghembuskan napas, dan kemudian berlalu mengikuti langkah kakaknya sembari bersenandung dengan sepotong lirik lagu “Pelukan yang Salah”:
Aku sadari takkan mudah menjaga dirimu
Yang sepenuhnya belum milikku
Foto: Good Reads
