Kenyataannya dunia ini tidak dibangun oleh pandangan yang biner, yang hitam putih, yang baik lawan yang jahat, protagonis versus antagonis.
Oleh Herman Attaqi
Saya pernah membaca sebuah ungkapan, “Karena ada orang jahatlah makanya orang baik bisa didefenisikan”. Logikanya begini, jika di suatu komunitas itu semuanya orang baik, bagaimana caranya mereka mendefenisikan siapa orang yang jahat? Tentu, mereka akan mencari perbandingan dengan komunitas lain yang (mereka anggap) memiliki nilai dan perilaku yang bertentangan dengan nilai dan perilaku yang mereka yakini. Jadi, baik itu secara individu, komunitas maupun bangsa, orang-orang akan saling membandingkan untuk menyimpulkan dirinya.
Kali ini saya tak mau masuk ke dalam soal: Apa itu baik? Dari mana konsep baik itu diambil? Apakah hal yang baik yang dimaksudkan itu bisa terterima di dalam nilai-nilai sosial yang universal? Soal ini saya yakin sudah banyak dibahas oleh para filsuf, agamawan, dan akademisi. Banyak di antara mereka yang berupaya untuk mencari titik temu dari nilai-nilai baik pada setiap pemikiran itu (sekaligus ada juga yang menjadikannya sebagai alasan untuk memicu pertikaian).
Saya kira yang paling praktis yang perlu dilakukan adalah kita harus berani menguji ungkapan di atas ke dalam fenomena keseharian secara umum. Orang-orang di suatu tempat dan kondisi tertentu bisa bersepakat tentang sesuatu itu diterima sebagai kebaikan dan sesuatu yang lain sebagai kejahatan. Ada semacam naluri pada manusia bahwa mereka ingin mencari sesuatu yang lebih baik, ingin jadi lebih baik, dan berbagi nilai-nilai kebaikan itu, bahkan pada level tertentu saling berkompetisi untuk membuktikan mereka lebih baik dari yang lain.
Bisa jadi fenomena itu membangun kondisi yang lebih sehat dan meningkatkan kualitas hidup. Namun tidak jarang pula hal tersebut justru menjadi pemicu orang-orang untuk saling menghujat, memberi label, stigmatisasi, bahwa orang atau kelompok lain itu jahat dan yang dilabeling dan distigmatisasi pun bisa berpikir sebaliknya. Yang kemudian terjadi adalah sesuatu yang teramat mudah diprediksi, yakni pertikaian yang tak selesai-selesai untuk berebut kuasa atas makna baik itu sendiri.
Tanpa perlu merujuk pada satu dua buah contoh, bukankah fenomena ini nyata?
Beberapa hari yang lalu, saya tertarik dengan cuitan novelis Eka Kurniawan di akun Twitternya. Eka merangkum hasil tanya-jawab dengan anaknya dengan pertanyaan pokok: Mengapa ada film seri anak yang dia suka dan tidak sukai? Tanya-jawabnya sungguh mencerahkan untuk orang dewasa macam saya, tulis Eka.
Di dalam percakapan itu, anaknya tidak menyukai tokoh utama yang baik; peran protagonis yang menghadapi antagonis. Itu juga yang menjadi alasan mengapa anaknya tidak menyukai film-film dari Disney, tulis Eka. Sebagaimana kita tahu bahwa hampir keseluruhan plot film Disney dibangun dari konflik protagonis versus antagonis, orang baik lawan orang jahat.
Yang lebih menarik lagi adalah anaknya menyukai tokoh utama yang jahil karena rasa ingin tahu, lalu bikin masalah. Ending-nya dia bisa mecahin masalah itu, atau kena hukuman (tokoh utama tak masalah dihukum). Contoh: Nobita. Anaknya juga menyukai tokoh utama dengan problem internal. Contoh: Frozen (satu-satunya film Disney yang dia suka). Anaknya juga tak masalah dengan adanya antagonis, tetapi dia tidak menyukai antagonis hanya karena ia jahat. Kejahilan antagonis bukan karena karakternya yang jahat. Anaknya menyukai Giant dan Suneo yang nakal, tapi lucu. Dan lagi, soal baik/buruk ini lebih baik diserahkan kepada hubungan antar tokoh di dalam cerita. Contoh: ada kak Ros yang menghukum Upin dan Ipin atau Nobita dengan robot dari kantong ajaib Doraemon.
Hasil tanya-jawab itu membuat saya berpikir tentang dampak buruk dari pengkategorisasian orang atau kelompok ke dalam baik dan buruk. Saya ingat dulu saat SD, tidak jarang saya dibanding-bandingkan oleh orang tua lainnya di depan anaknya hanya karena saya juara kelas dan anaknya tidak. Saat itu tentu saja perasaan saya bangga bukan main. Hingga ketika punya anak, saya merasakan tindakan membandingkan itu adalah perilaku yang sangat kejam. Orang-orang dewasa yang melakukan tindakan banding membandingkan itu, tanpa sadar, telah menyemai bibit kebencian di hati anak kepada dirinya sendiri. Kenapa dia menjadi dia dan bukan jadi saya yang dibanggakan oleh orang tuanya sendiri? Kenapa dia harus dibandingkan dengan saya? Bukankah saya ini anak orang lain yang memiliki orang tua sendiri?
Sebuah cerita yang baik adalah cerita yang membuat para pembaca merasa relate dengan isi ceritanya. Pembaca (atau penonton) akan mudah masuk secara emosional ke dalam cerita yang demikian. Sebuah cerita akan gagal apabila para pembaca tidak menangkap makna ceritanya, alih-alih menyelesaikan bacaan, pembaca pasti akan segera meninggalkannya begitu saja. Seringkali cerita yang dianggap baik bisa membuat orang terlena dan tidak jarang banyak orang menganggap bahwa cerita itu adalah kisah nyata. Barangkali kita pernah membaca berita tentang seorang aktor antagonis yang sukses memainkan perannya dalam sebuah sinetron, malah dibenci oleh banyak orang di dalam kehidupan nyata.
Coba kita belajar dari serial kartun anak “Upin & Ipin”, siapa di antara tokoh utama cerita yang protagonis dan siapa yang antagonis? Tidak ada. Yang justru terjadi adalah ketika seorang tokoh bersalah, ia dihukum oleh tokoh lain, oleh sistem nilai yang hidup di sekitar mereka. Seperti yang disampaikan oleh anak Eka, Upin & Ipin kalau bersalah, ada kak Ros yang memarahi mereka. Bukankah begitu sistem sosial yang kita anut? Bukankah ketika di rumah, jika seorang anak bersalah akan diingatkan oleh anggota keluarga lainnya, bisa Ibu, Ayah atau saudaranya yang lain. Apakah Ibu, Ayah, dan saudaranya yang lain itu tokoh antagonis? Apakah anak tersebut termasuk protagonis karena dia dimarahi?
Kenyataannya dunia ini tidak dibangun oleh pandangan yang biner, yang hitam putih, yang baik lawan yang jahat, protagonis versus antagonis. Dunia ini jauh lebih cair dari itu semua. Segala potensi baik dan jahat itu ada pada setiap orang, komunitas atau bangsa. Sistem nilai yang disepakatilah yang menjadi alat untuk meluruskan atau bahkan menghakimi. Ketika seseorang memiliki kekuasaan politik, itu bukan karena ia baik belaka (siapa yang menjamin orang dianggap baik sebelum menjabat, akan tetap jadi baik ketika berkuasa?), tetapi lebih karena ia akan diawasi oleh sistem yang berlaku.
Namun, ada yang lebih mengkhawatirkan saya daripada tragedi aktor antagonis sukses yang dibenci di dunia nyata tersebut, yakni ketika plot yang melulu dibangun oleh protagonis versus antagonis itu, tanpa sadar membawa orang berpikir dunia nyata juga harus dilihat seperti itu. Apa yang kita harapkan dari sinetron yang isinya “azab seorang yang sepanjang hidupnya suka menzolimi orang, ketika ia mati jasadnya tak bisa dikubur”? Alih-alih memberi pesan moral, justru membangun pandangan yang kaku tentang baik/buruk. Lebih jauh lagi, sebuah fenomena nyata yang sedang kita hadapi, apa yang diharapkan dari politisi yang berkampanye dengan membangun citra diri baik dan lawannya jahat, ketimbang beradu gagasan dan konsep?
Tidak lain dan tidak bukan, orang-orang dipaksa membangun kubu-kubu dan saling berebut kuasa atas makna: saya orang baik, situ jahat!
