Namun, melalui sejarah, kita seharusnya juga belajar membaca dengan analitis, serta membangun pikiran kritis.
Oleh Herman Attaqi
Di narasi pembuka dalam serial “Avatar: The Last Airbender” atau di Indonesia disebut dengan nama “Avatar: The Legend of Aang”, diceritakan mengenai Negara Air, Api, Tanah, dan Udara.
Dahulu kala, keempat negara itu hidup dengan damai. Namun semuanya berubah saat Negara Api menyerang. Hanya Avatar yang mampu mengendalikan keempat elemen tersebut. Sayangnya, saat dunia membutuhkannya, dia malah menghilang. Beratus tahun kemudian, barulah ditemukan seorang Avatar muda yang baru. Seorang pengendali udara bernama Aang. Walaupun ilmu pengendalian udaranya sangat bagus, tetapi dia masih butuh banyak waktu untuk bisa menguasai semuanya. Dipundak Aang, harapan untuk dapat menyelamatkan dunia dipikul.
Ada juga mitologi terkenal dari Yunani yang berkenaan dengan api ini, yakni tentang kisah Prometheus. Prometheus mencuri api milik Zeus dan memberikannya kepada manusia. Zeus yang murka dengan tindakan Promotheus, kemudian menghukumnya atas kejahatannya itu dengan mengikatnya pada sebuah batu di Pegunungan Kaukasia. Sementara seekor burung Elang besar setiap hari memakan hati Prometheus, tetapi hatinya akan tumbuh kembali untuk kemudian dimakan lagi oleh burung elang itu keesokan harinya. Hal tersebut berlangsung bertahun-tahun, hingga Prometheus diselamatkan oleh Heracles atau yang lebih dikenal dengan Hercules.
Konon, api yang dicuri oleh Prometheus dari Zeus itu adalah perlambang dari pengetahuan, dan sejak saat itulah manusia baru menemukan pengetahuan.
Jika Avatar mengendalikan api untuk menyelamatkan dunia dari pertikaian, maka Prometheus mencuri api untuk memberi manusia pengetahuan. Bertolak belakang? Tentu tidak. Kita tahu bahwa meskipun ada konsekwensi yang berbeda dari dua kisah tersebut, tetapi kita bisa menarik satu kesamaan yang menjadi inti dari gagasannya, yakni api adalah elemen penting bagi hajat hidup manusia.
Sejak zaman prasejarah, manusia menciptakan teknologi untuk mengelola api. Sebuah penelitian yang terbit di jurnal Scientific Reports mengungkapkan bahwa Neanderthal menggunakan alat batu untuk membuat percikan api sejak 50.000 tahun lalu. Pada masa itu, manusia mengelola api untuk memasak makanan agar mudah dicerna.
Invensi dan inovasi teknologi untuk mengelola api semakin hari semakin berkembang pesat dan tidak melulu dimanfaatkan untuk sekadar memasak makanan. Untuk memasak, manusia menciptakan kompor dengan berbagai inovasinya. Untuk membakar rokok, diciptakan korek api dan mancis. Bahkan bahan bakar itu sendiri kemudian menjadi sangat vital bagi kehidupan manusia modern. Batu bara, minyak bumi dan gas alam, dikenal sebagai bahan bakar fosil yang menjadi sumber energi listrik, transportasi, industri, dan sektor penting lainnya dalam kehidupan manusia.
Ketika populasi dunia meningkat, permintaan energi untuk memasok daya pada rumah, bisnis, sekolah, dan masyarakat secara umum, juga semakin meningkat. Inovasi dan perluasan sumber energi bergerak cepat dengan alternatif lain selain bahan bakar fosil yang diprediksi akan segera habis. Manusia kemudian menemukan apa yang disebut dengan Sumber Energi Terbarukan, yang merupakan kunci untuk mempertahankan tingkat energi yang berkelanjutan serta untuk melindungi planet dari resiko perubahan iklim. Sumber Energi Terbarukan telah menyumbang 26% dari listrik dunia saat ini, dan menurut Badan Energi Internasional (IEA), diperkirakan akan mencapai 30% pada tahun 2024.
Sumber Energi Terbarukan sendiri berasal dari sumber alam yang tidak akan habis seperti bahan bakar fosil, yakni tenaga surya, angin, hidroelektrik, panas bumi, lautan (energi termal dan mekanik), hidrogen dan biomassa. Itulah yang digadang-gadang akan menjadi sumber energi masa depan umat manusia, yang merupakan api alternatif untuk dikelola manusia dalam membangun kehidupannya.
Api yang awalnya hanya milik ekslusif dari para dewa, saat ini, dengan pengetahuan yang dimilikinya, manusia telah mampu mengendalikan dan memanfaatkannya. Para saintis dan teknokrat adalah Avatar, yang tidak hanya mengendalikan elemen api, tetapi juga menjadikan api tersebut sangat bermanfaat bagi kehidupan manusia.
Namun, ironisnya, karena fungsinya yang vital tersebut, manusia jadi sangat tergantung dengannya. Barangkali kita masih ingat kejadian pada tanggal 4 Agustus 2019 yang lalu saat terjadi pemadaman total (blackout) listrik se-Jabodetabek hingga sampai ke sebagian wilayah di Jawa Tengah. Sistem transportasi, komunikasi, industri, dan hampir seluruh aktivitas manusia hari itu lumpuh total. Hampir sebagian besar media dalam dan luar negeri memberitakan tentang dampak listrik padam tersebut terhadap aktivitas penduduk ibukota Jakarta, mulai dari lalu lintas yang amburadul, hingga berhentinya operasional KRL dan MRT.
Kita tahu bahwa dunia terus bergerak. Manusia maupun komunitas, individu ataupun bangsa, menginginkan perubahan-perubahan. Manusia mengolah, memperbaharui dan menciptakan sesuatu yang mendorong perubahan-perubahan untuk meningkatkan kualitas hidupnya. Sebagai homo sapiens, manusia merasa berhak untuk menjadikan apapun di alam semesta ini sebagai pelayan bagi kepentingan mereka. Lebih jauh lagi, manusia kemudian merumuskan seperangkat aturan, kebijakan, hingga ideologi untuk mengawal arah perubahan tersebut.
Sayangnya, perubahan-perubahan tak selalu terimplementasikan dengan cara yang diharapkan, dan seringkali usaha perubahan itu menjadi boomerang bagi manusia itu sendiri. Manusia menciptakan api, pada awalnya, untuk memasak hewan buruan agar lebih mudah dicerna oleh perut. Mereka menemukan teknologi untuk memasak. Lalu, kebutuhan berkembang seiring dengan perkembangan masyarakat dan kompleksitasnya. Teknologi pun ikut berkembang, hingga manusia menjadi amat tergantung dengan temuan-temuannya itu. Pengetahuan dan teknologi tidak lagi sekadar melayani manusia, tetapi sebaliknya, manusia menjadi tak bisa hidup tanpanya.
Pada sejarah kita belajar banyak hal. Tidak hanya tentang peristiwa, tentang kapan dan siapa. Kita juga dapat belajar tentang sebab dan akibat sesuatu itu terjadi. Namun, melalui sejarah, kita seharusnya juga belajar membaca dengan analitis, serta membangun pikiran kritis. Benar, bahwa manusia menemukan dan mengembangkan ide dan materi bagi kemudahan hidupnya. Kemudian, pada titik tertentu, ide dan gagasan itu pula yang menyebabkan ketergantungan bahkan kehancurannya.
Sekarang, coba kita lihat sejarah kita hari ini. Siapakah yang mengendalikan api? Siapa yang menemukan gagasan tentang, sebut saja, negara, demokrasi, temuan-temuan gagasan dan kebijakan ekonomi, ideologi? Lalu, siapa pula yang berkuasa atas siapa? Hari ini seluruh dunia dikepung oleh wabah virus corona dan diikuti lagi dengan varian virus terbarunya, dari mana virus itu berasal? Bukankah semua berawal dari kegagalan manusia itu sendiri mengendalikan teknologi yang diciptakannya, beserta hasrat ingin menemukan bentuk yang paling memudahkan bagi mereka menjalani hidupnya? Akan tetapi, apa yang terjadi saat ini? Apakah kualitas hidup manusia jadi lebih baik?
Jangan-jangan, yang disebut “Negara Api” itu adalah manusia dengan segala hasratnya yang tak terkendali, yang menyerang sendi-sendi kehidupan itu sendiri.
Foto dari serial “Avatar: The Last Airbender”
