Tentu saja, Imam Al-Jauhari dan kamus As-Shahah-nya itu telah membawa kemajuan yang sangat pesat dalam studi linguistik, khususnya Bahasa Arab.
Sebagai pelajar yang mempelajari bahasa, pasti kita sudah tidak asing lagi dengan yang namanya kamus. Contoh: KBBI atau Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah kamus khusus seputar kosa kata Bahasa Indonesia. Ada juga Oxford yang dikenal sebagai kamus khusus Bahasa Inggris. Bagaimana dengan Bahasa Arab? Apa saja kamus tentang kosa kata dari bahasa yang unik tersebut?
Salah satu kamus Bahasa Arab yang masyhur di kalangan santri adalah Munjid. Munjid adalah kitab tebal yang berisi kosa kata Arab mulai dari ‘alif’ hingga ‘ya’. Ditambah pula dengan berbagai materi pengetahuan dunia dan tata bahasa seperti Nahwu dan Sharf di akhir kitab. Munjid ini, berdasarkan cara kerjanya, merupakan kamus kontemporer yang tergolong paling mudah dan efisien. Cukup dengan membuka satu bab huruf sesuai huruf pertama sebuah kata, kemudian mengurutkan huruf-huruf berikutnya. Persis seperti yang kita lakukan saat membuka kamus bahasa lainnya. Tapi tahukah kamu bahwa kamus-kamus klasik Arab pada zaman dahulu sebenarnya menggunakan banyak metode dalam mencari kosa kata?
Jauh sebelum ditemukannya metode pengurutan huruf mulai dari huruf pertama hingga terakhir (metode alfabetis), bangsa Arab kuno menggunakan salah satu metode yang paling tua yaitu pencarian huruf sesuai urutan makharijul hurf atau yang kita kenal dengan tempat keluarnya bunyi huruf yang terjauh. Dimulai dari ujung tenggorokan (halqiah) sampai dengan dua bibir (syafawiyah). Kitab/kamus yang menggunakan metode ini di antaranya adalah kitab Tahdziib Allughoh karya Abu Manshur Al-Azhari, Almuhith fii Allughah karya Imam Shaahib bin ‘Ibaad yang kemudian digolongkan menjadi satu kelompok kamus yang disebut dengan Madrasah Attaqliibat Asshoutiiyah.
Setelah berabad lamanya mereka menggunakan metode yang cukup rumit tadi, datanglah Imam Abu Nashr Isma’il bin Hammad An-Naisaburi Al-Farabi Al-Jauhari, salah seorang ulama Bahasa dan Sastra Arab yang menemukan metode yang lebih mudah dan praktis. Beliau merumuskan metode kerja kamus yang lebih efisien, yakni dengan mengelompokkan kosa kata dalam satu bab besar sesuai dengan huruf pertama dan diikuti dengan mengurutkan huruf kedua sampai akhir, sebagaimana metode alfabetis yang kita kenal saat ini. Metode ini kemudian beliau terapkan langsung dalam kitab kamus buatannya yang dinamai dengan kitab Taaj Allughoh wa Shahah Al-‘Arabiyah atau disingkat As-Shahah.
Imam Al-Jauhari banyak menimba ilmu dari para guru talaqqinya, seperti Abu Sa’id As-Sayrafi, Abu ‘Ali Al-Farisi, dan Abu Ibrahim Ishaq Al-Farabi. Dari ilmu pengetahuan tersebut beliau dengan telaten mengembangkan konsep dan metodologinya di dalam menyusun kamus As-Shahah sekitar tahun 352 Hijriyah saat beliau tinggal di kota Naisabur, Turkistan, yang kini merupakan salah satu negara bagian Iran. Motivasi Al-Jauhari dalam menyusun kitab ini adalah agar bangsa Arab dapat dengan mudah dan cepat menemukan kosa kata dari kamus, ditambah lagi beliau melengkapi kamusnya tersebut dengan penjelasan pengetahuan umum, seperti biologi, geografi, ataupun sosiologi, yang berkaitan dengan kosa kata tertentu. Lalu beliau juga menambahkan dengan contoh pengaplikasian tiap kosa kata dalam bentuk kalimat, dalil Al-Quran dan hadits serta syair-syair Arab dan melakukan koreksi kritis pada banyaknya kesalahan pengucapan yang sering dilakukan oleh bangsa Arab secara umum.
Tentu saja, Imam Al-Jauhari dan kamus As-Shahah-nya itu telah membawa kemajuan yang sangat pesat dalam studi linguistik, khususnya Bahasa Arab. Para pelajar dan pelancong dari luar dunia Arab jadi lebih mudah untuk mengkaji aspek-aspek bahasa bahkan hanya untuk sekadar kebutuhan praktis, yakni untuk berkomunikasi dengan orang Arab. Dengan metode abjad atau alfabet yang dibuat Al-Jauhari ini, kamus Arab yang sebelumnya membutuhkan berjilid-jilid kitab karena saking banyaknya bab dan sub-bab, menjadi jauh lebih ramping dengan hanya dibagi menjadi 28 bab besar saja. Tak pelak, Imam Jauhari adalah salah satu icon bagi revolusi kajian Bahasa dan Sastra Arab.
Beberapa kelemahan yang ditemui dari kamus As-Shahah pada tahap ishlah atau pengoreksian oleh para ulama pada saat itu tidaklah begitu signifikan, yakni terdapat salah penulisan kata, baik dihitung dari terbaliknya susunan huruf ataupun kesalahan dalam penggunaan huruf; kesalahan peletakan bab pada kosa kata; kerancuan materi nahwu dan sharf; dan kesalahan kosa kata golongan mu’tal dan mahmuz.
Koreksi dan kritik tajam dari para ulama tersebut malah menjadikan Metode Al-Jauhari menjadi semakin sempurna. Kita bisa melihat bahwa tradisi keilmuan khas dunia akademik sudah sangat maju pada saat itu. Sehingga dalam penyusunan kamus setelahnya, seperti kitab Al-Qamus Al-Muhith karya Imam Fairuz Abadi, Asaas Al-Balaagah karya Imam Az-Zamakhsyari, dan yang terpopuler, yaitu kitab Al-Munjid fi Al-Lughah karya Louwis Ma’luf, kamus As-Shahah dijadikan sebagai rujukan/referensi utamanya.
Imam Al-Jauhari wafat pada awal tahun 400 Hijriyah dengan meninggalkan harta karun berupa metode yang revolusioner. Dikatakan revolusioner karena ia membawa perubahan besar pada metode kelimuan yang dirujuk sebelumnya, sehingga metodenyalah sampai saat ini tetap dirujuk oleh para ulama, akademisi, peneliti, dan para pelajar untuk mempelajari Bahasa dan Sastra Arab.
Dan, kepada yang demikianlah, kepada ulama dan ilmu pengetahuan, seharusnya kita menaruh hormat dan bertauladan.
Foto/Ilustrasi: thehumblei.com
