“Petuah-petuah tersebut justru tersimpan di balik teks itu.”
Oleh Herman Attaqi
Suatu siang saya ngobrol santai dengan seorang kawan. Kawan ini adalah seorang pencerita yang lihai dan selalu memiliki bahan bercerita dari pengalaman hidupnya selama tinggal di kampung. Tentu saja, saya lebih banyak berada di dalam posisi mendengar, cengengesan dan sekali-kali tertawa lepas.
Siang itu ia bercerita tentang yang dilakukan orang tuanya terhadap anak-anaknya yang berkepala batu, susah diatur dan suka membuat masalah dengan orang-orang di kampungnya.
“Ibu saya pernah mengatakan bahwa jika anak-anaknya tidak mau menuruti nasehat mereka, maka ia akan diam-diam memberikan air minum yang sudah dijampi-jampi,” tuturnya.
“Air minum yang dijampi?” tanya saya penasaran.
“Iya. Kata ibu saya, air minum itu sudah direndam dengan kunci gembok dan dibacakan solawat secara khusus. Setelah itu dimasukkan ke dalam teko air minum yang biasa kami gunakan,” ujarnya.
Saya tidak akan melanjutkan cerita ini dengan pertanyaan: Apakah jampian rahasia keluarga kawan saya itu mangkus atau tidak? Kalau benar-benar mangkus, bagaimana hal tersebut dapat dijelaskan secara ilmiah? Bukan itu yang ingin saya sampaikan. Justru yang ada di dalam pikiran saya adalah: Kalau ada orang yang pantas didengarkan nasehat dan gagasan filosofisnya tentang silang sengkarut persoalan bangsa ini, maka ibu kawan saya ini layak diundang untuk berbicara di dalam sebuah forum. Bahkan, Presiden Jokowi mestinya mempertimbangkan untuk mengundang ibu kawan saya ini ke istana, ketimbang mengundang para buzzer dan influencer yang terbukti tidak mampu menaikkan citra positif pemerintah.
Ajian minuman dengan rendaman kunci gembok untuk orang-orang yang keras kepala adalah sebuah gagasan yang tidak hanya filosofis, tetapi juga revolusioner. Tentu kita bisa berdebat dengan kesimpulan ini, apalagi bagi kaum rasionalis yang sangat getol dengan hukum pembuktian, logika, analisis yang berdasarkan fakta; yang bukan berasal dari pengalaman inderawi belaka, mereka pasti tidak setuju. Biarkan saja. Toh, sudah sejak dulu para filsuf berbeda pandangan, dan pandangan yang berbeda itu belum tentu salah.
Kunci gembok adalah lambang bagi sesuatu yang tertutup. Ia berfungsi mengeratkan, mengatup dengan erat untuk menutupi obyek yang ada di dalamnya. Pertanyaannya kemudian adalah: Apa yang paling susah dibuka? Pikiran! Karena pikiran yang tertutuplah yang menjadi penyebab dari segala sifat keras kepala, tidak mau mendengarkan masukan orang lain, dan mau seenaknya sendiri. Sekuat-kuatnya blackbox pesawat terbang menyimpan informasi, ia masih bisa dibuka. Akan tetapi, sekeras-kerasnya pikiran yang tertutup, ia tak akan mampu mengubah apa-apa.
Bukankah republik ini sangat membutuhkan pikiran yang terbuka? Ketika rakyat saling terbelah dengan mengusung kebenaran kelompoknya sendiri-sendiri. Mereka berbicara tanpa lelah di bilik gemanya masing-masing. Secara horizontal, rakyat Indonesia bergerombol dengan pikiran dan pilihannya tanpa mau berusaha mencari titik temu. Silih berganti isu-isu, baik itu politik, agama, jilbab, hukum, COVID-19, bencana alam, hingga Abu Janda, semua saling sahut dan saling sikut. Tidak ada yang mau mengalah, bahkan ketika sudah kalah sekalipun. Bagaimana dengan pemerintah? Sebelas duabelas saja! Pemerintahan ini sudah banjir kritik, mulai dari kebijakan penanganan COVID-19, pengesahan RUU yang kontroversial, penegakan hukum yang tidak adil, dan apalagi pada saat sekarang ketika semua persoalan dari berbagai bidang itu bertemu menjadi sebuah situasi krisis yang mengkhawatirkan. Sekali lagi, bukankah ajian ini yang dibutuhkan oleh bangsa ini?
Formula penyembuhan dengan menggunakan air, memang bukanlah sesuatu yang baru. Orang-orang zaman dulu juga menggunakan air putih untuk menyembuhkan berbagai penyakit. Para ustadz praktisi ruqyah juga menggunakan air kepada pasiennya. Para dokter juga menganjurkan untuk minum air putih agar terhindar dari dehidrasi dan agar organ-organ tubuh dapat berfungsi dengan baik. Tubuh manusia saja, kurang lebih, 60 % isinya air. Jadi, air putih adalah bagian penting dari diri kita sebagai manusia. Maka ajian ibu kawan saya ini merupakan sebuah nasehat yang baik bagi sebuah bangsa yang tengah mengalami dehidrasi pemikiran. Juga sebuah petuah paling bijaksana kepada pemerintah yang merasa berhasil justru ketika kenyataannya menunjukkan sebaliknya. Masih ingat ketika Presiden Jokowi menyatakan rasa syukurnya karena (menurutnya) pemerintah telah berhasil mengatasi pandemi COVID-19, padahal pada saat yang sama total angka positif sudah di atas satu juta?
Berbeda dengan di Kalimantan Selatan yang mengalami surplus air alias bencana banjir yang sangat parah. Siapa yang salah? Menurut pemerintah, penyebab banjir besar di Kalimantan Selatan adalah: Air Hujan! Tentu saja, ini menimbulkan reaksi dari aktivis lingkungan yang mengetengahkan fakta bahwa bencana banjir ini disebabkan oleh deforestasi ugal-ugalan dan gila-gilaan yang dilakukan oleh para pemilik modal. Siapa yang memberi izin para pengusaha tersebut? Pemerintah! Namun, mengapa yang salah adalah air, bukannya pemilik kewenangan yang seharusnya bisa mencegah akar dari penyebab banjir tersebut?
Apakah kita yang sudah terlalu modern, sehingga menganggap apa-apa yang datang dari masa lalu sebagai sesuatu yang tolol, tidak ilmiah dan tidak sesuai dengan perkembangan zaman? Apakah petuah mesti masuk akal? Bukankah banyak sekali petuah masa lalu yang mengajak kita merenung sejenak sembari menemukan kebenaran yang tidak disebutkan di dalam teks petuah itu secara langsung? Petuah-petuah tersebut justru tersimpan di balik teks itu. Dan, selain memerlukan kecerdasan, ada yang lebih penting lagi, yakni pikiran yang terbuka.
Bisa jadi, sebuah ajian atau obat dari dokter sekalipun, bisa mangkus pada orang tertentu, tetapi bisa tidak mujarab kepada orang yang lainnya. Tapi, menurut saya, kualitas yang paling utama dari ajian ibu kawan saya adalah pesan di balik kunci gembok itu. Sesuatu yang dengan lantang menohok keangkuhan kita sebagai makhluk yang berkelimpahan dengan segala macam akses teknologi, sumber informasi, dan level pendidikan, tapi miskin ‘merasa sembari berpikir’ (feeling-thingking), sesuatu yang lebih luas lagi dari imajinasi, yang oleh para nelayan di Kolombia menyebutnya dengan istilah ‘Sentipensante’, sebagai sebuah cara untuk menemukan kebenaran.
Ibu kawan saya itu tak akan dikenang sebagai seorang filsuf. Ia juga tak akan disematkan gelar sebagai seorang negarawan. Ataupun seorang peraih gelar Doktor Honoris Causa. Ia hanya seorang perempuan kampung yang biasa saja, yang sehari-harinya bekerja dengan bertani yang hasilnya untuk dijual ke pasar, sebagai makanan orang-orang kota. Ia hidup di kampung dan memungut kebijaksanaan hidup bersama orang-orang kampung, dari peninggalan leluhurnya.
Dari ibu kawan saya, seharusnya kita, rakyat dan juga pemimpin, dapat belajar bahwa yang menyatukan kita adalah ajian kunci gembok.
Foto: Kaskus
