kopi travel blog

jauh berjalan banyak dilihat

Pengalaman Melawan Bulimia Nervosa

“Tidak ada cara lain, self-hate harus disembuhkan dengan self-love.”

Oleh Taqiya Herman

Belakangan ini sering terjadi kasus gangguan makan serius yang dialami oleh remaja perempuan dalam rentang usia 15 – 21 tahun. Karena pada dasarnya, di usia remaja, pengaruh (stereotipe) standar kecantikan, apalagi efek dari media sosial yang menjustifikasi bahwa kecantikan seorang perempuan itu dapat dinilai melalui tubuh yang kurus, mulus, dan tirus. Nilai yang diyakini tersebut membuat banyak orang mengubah kebiasaan makan mereka dengan melakukan diet yang ketat. Saking obsesifnya, perilaku diet tersebut akhirnya berefek pada gangguan makan serius yang berpengaruh pada kesehatan mental, tubuh, emosi, serta kemampuan seseorang dalam mengatasi situasi. Dalam ilmu psikologi, kondisi ini biasa dikenal dengan istilah Eating Disorder.

Tulisan ini merupakan hasil bacaan, analisis, sekaligus pengalaman pribadi saya beberapa waktu lalu, hingga akhirnya berkenalan lebih dekat dengan salah satu dari tiga monster gangguan makan serius yang sering dialami oleh para remaja tersebut.

Sama halnya dengan anxiety disorder, eating disorder atau dalam bahasa Indonesia biasa disebut sebagai gangguan makan, masih terdengar aneh di lingkungan sekitar kita. Kebanyakan orang masih mengira bahwa diet ketat hanyalah sebuah kebodohan belaka, tanpa memahami terlebih dahulu alasan di balik mengapa seseorang yang pada awalnya baik-baik saja kemudian menjelma menjadi sosok pribadi serba insecure, hingga memutuskan mengubah diri secara drastis dengan melakukan diet ketat yang tentu pada akhirnya akan membahayakan dirinya sendiri. Sejauh ini, “akan jadi lebih cantik, atau akan lebih diterima di tongkrongan tertentu, dan tidak akan tersisih oleh teman sekolah”, masih memegang prediket sebagai alasan terbanyak.

Apa itu Eating Disorder?

Ada beberapa jenis gangguan makan (eating disorder), namun tiga jenis yang sering dijumpai adalah anoreksia nervosa, bulimia nervosa, dan gangguan makan berlebihan. Bulimia nervosa, sebagai salah satu dari tiga jenis gangguan makan yang penderitanya pada umumnya makan dalam jumlah yang banyak, lalu si penderita tersebut akan melakukan tindakan apa saja untuk menghindari dari kenaikan berat badan. Biasanya orang-orang ini akan memuntahkan kembali semua makanannya, ataupun melakukan “puasa pembersihan” dengan tidak makan apapun selama berhari-hari.

Bagaimana Mengenali Gejalanya?

Penderita akan makan dalam jumlah besar, dan dalam waktu singkat, akan memuntahkannya dalam jumlah yang sama. Disertai rasa penyesalan hingga puasa dan pembersihan yang berlebihan.

Bagaimana ceritanya hingga saya bisa terjerumus dalam lobang hitam bulimia nervosa ini?

Seringkali banyak hal yang awalnya tidak ingin kau lakukan, tapi harus kau lakukan karena keadaan yang memaksa. Pengaruh lingkungan dan cara pandang terhadap diri sendiri adalah faktor penting yang mempengaruhi kesehatan mental seseorang. Perasaan insecure, menghindari makanan, hingga merasa jelek dan tidak berguna, pernah membuat saya seketika menjelma menjadi monster yang buruk. Puncaknya pada usia 15 tahun, ketika saya merasa sulit beradaptasi dengan lingkungan baru, kelas baru, dan teman-teman dengan karakter/sikap/perkataan yang baru. Singkatnya, kondisi itu semua membuat saya memutuskan untuk mengubah bentuk fisik dengan cara melakukan diet ketat demi mengubah pandangan orang lain terhadap tubuh saya.

Diet ketat karena dorongan perasaan insecure itu menjadikan saya membatasi diri dari pergaulan, emosi menjadi labil, seringkali memuntahkan makanan, sikap yang ketus, serta obsesif dan impulsif hingga ke taraf membenci diri sendiri apabila sesuap makanan meluncur mulus dari tenggorokan. (Dari berbagai referensi yang saya baca, saat-saat itu merupakan indikator seseorang terkena bulimia nervosa).

Beberapa bulan kemudian, mulai terdapat perubahan pada diri saya; Kantong mata yang cekung, rambut yang mudah sekali rontok, mudah kedinginan, hingga kulit kusam dan pencernaan yang buruk pun mulai saya rasakan.

Bagaimana saya melewatinya?

Tentu saja, melepaskan diri dari bulimia nervosa bukanlah hal mudah. Kau akan berada di antara luka dan derita berkepanjangan. Rasanya sakit sekali. Melewati hari dengan perasaan tertekan, berantakan, hingga akhirnya stuck di keadaan di mana kau akan merasa pasrah dengan situasi yang menyiksa dirimu. Namun, satu hal penting yang kemudian saya pelajari dan pegang erat adalah: “caramu memperlakukan dirimu sendiri adalah cerminan bagaimana orang lain akan memperlakukanmu.”

Langkah pertama yang saya lakukan adalah meminta maaf pada diri sendiri. Rajin melakukan komunikasi dengan diri sendiri hingga ke alam bawah sadar. Ini sangat membantu memulihkan mental dari pikiran-pikiran negatif terhadap diri (self-hate). Saya ingat pesan Ibu, “Perbanyaklah minta maaf ke tubuh yang sering kau zolimi, Nak.”

Tidak ada cara lain, self-hate harus disembuhkan dengan self-love. Membenci diri sendiri hanya dapat diubah dengan jalan mencintai diri sendiri. “Maafkan aku, ya, perut, mata, hati, dada, dan anggota tubuh lainnya. Maaf karena aku telah memforsir kalian begitu rupa terutama saat aku sedih dan ketika mati-matian belajar. Bantu aku meraih cita-cita, ya. Kalian semua harus sehat satu sama lain. Dan aku janji akan memberi kalian gizi dan nutrisi dengan makanan dan minuman yang baik. Aku akan tumbuh sehat bersama kalian.” Kata-kata tersebut saya ucapkan setiap pagi ke diri sendiri sampai di satu titik saya merasa hidup saya dan pikiran saya sudah jauh lebih baik.

Karena, sekali lagi, bagaimana bisa orang akan memperlakukanmu dengan baik, sedang dirimu saja tak pernah berlaku baik pada diri sendiri?


Foto: rgvisionmagazine.com

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai